Pentingnya makanan saat perut kosong: pola makan untuk menekan hiperlipidemia dan lemak perut

| masukan:

Sudah makan nasi lalu menambah makanan berkarbohidrat lagi... hidangan penutup perlu diwaspadai

Saat perut kosong, sebaiknya mulai makan dari sayuran dan protein terlebih dahulu. Nasi sebaiknya dimakan paling akhir agar baik untuk pengelolaan gula darah dan berat badan. Foto=Getty Image Bank

Makanan pertama yang dikonsumsi saat perut kosong akan lebih cepat dicerna dan diserap. Terutama bila saat perut kosong seseorang lebih dulu mengonsumsi karbohidrat atau makanan manis, makanan itu cepat dicerna sehingga gula darah dapat melonjak. Lemak juga bisa lebih mudah menumpuk di tubuh. Itulah alasan orang yang sedang mengelola gula darah atau berat badan memilih makan sayuran terlebih dahulu saat perut kosong. Kalorinya rendah dan kandungan karbohidratnya sedikit sehingga tidak menaikkan gula darah secara drastis. Jika lonjakan gula darah sering terjadi, lemak akan menumpuk di tubuh sehingga berat badan bisa bertambah. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Hanya makanan berminyak? Terlalu banyak karbohidrat dan gula juga bisa memicu hiperlipidemia

Hiperlipidemia tidak hanya dipicu makanan berminyak (lemak daging–daging olahan–gorengan, dan sebagainya), tetapi juga konsumsi karbohidrat berlebihan (nasi–mi–roti, dan sebagainya). Data Korean Society of Lipid and Atherosclerosis menunjukkan, asupan karbohidrat yang berlebihan dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah. Hipertrigliseridemia merupakan penyebab hiperlipidemia (dislipidemia). Selain serealia, kebiasaan menikmati makanan manis seperti gula juga dapat meningkatkan trigliserida. Saat membeli makanan olahan, sebaiknya periksa label komposisi untuk memastikan kandungan gula.

Sudah makan nasi lalu menambah makanan berkarbohidrat lagi... hidangan penutup perlu diwaspadai

Diabetes dan hiperlipidemia kerap muncul bersamaan. Penyebabnya, kebiasaan hidup seperti pola makan dan kurang olahraga cenderung mirip. Karena itu, pengaturan karbohidrat tidak cukup hanya saat makan nasi; hidangan penutup juga perlu diwaspadai. Ada pula orang yang menjadikan roti, kentang, ubi jalar—yang sama-sama karbohidrat—sebagai pencuci mulut. Ini bisa memicu konsumsi karbohidrat berlebihan. Buah tropis yang tinggi gula juga perlu diwaspadai. Karena rasanya manis, orang bisa terdorong makan banyak. Jika setelah merasa kenyang lalu bersandar di sofa dan duduk lama, risiko lonjakan gula darah (kenaikan mendadak) makin besar.

Selalu disuruh makan “rumput” (sayuran)? Mengapa tetap harus dimakan meski tidak enak?

Ketika informasi kesehatan menekankan konsumsi sayuran, ada yang membantah dengan mengatakan, “Ini lagi, disuruh makan rumput saja?” Tidak ada pilihan lain. Meski rasanya tidak enak, sayuran perlu dikonsumsi secara konsisten. Alasannya, serat pangan dan nutrisi antioksidan membantu mengendalikan gula darah serta membantu mencegah penyakit seperti kanker. Jika saat perut kosong seseorang makan sayuran terlebih dahulu, lonjakan gula darah akibat karbohidrat yang dikonsumsi kemudian dapat ditekan. Serat pangan membantu menurunkan kadar lemak dengan mendorong pembuangan kolesterol. Setelah sayuran, sebaiknya makan protein (telur–ikan–daging). Nasi sebaiknya dimakan paling akhir.

Kurangi waktu duduk terlalu lama... “yang penting, bangun dulu dan bergerak”

Duduk terlalu lama setelah makan adalah yang paling buruk bagi pengelolaan gula darah dan berat badan. Gula darah melonjak dan akibatnya lemak menumpuk di tubuh. Karena itu, tubuh perlu bergerak meski sebentar. Para ahli diet menekankan agar makan malam lebih awal karena hingga waktu tidur masih ada banyak waktu untuk bergerak. Alasan camilan larut malam adalah yang terburuk juga karena orang makan lalu langsung tidur. Tidak harus berolahraga. Berjalanlah di ruang keluarga atau koridor kantor, atau berdiri saat menelepon. Untuk mencegah lemak perut, kalori yang masuk dari makanan harus dibakar. Jika memilih duduk karena merasa nyaman, nanti bisa berujung pada diet yang lebih berat.

×