
Gelombang panas yang mendekati 40 derajat Celsius terus berlanjut.
Badan Meteorologi Korea memperkirakan panas menyengat di wilayah metropolitan akan mencapai puncaknya pada tanggal 7 mendatang. Pada hari itu, suhu maksimum siang hari diprakirakan 39 derajat.
Presiden Lee Jae-myung pada tanggal 6, dalam rapat para sekretaris senior dan staf pembantu, menegaskan, “Gelombang panas kali ini pada dasarnya merupakan situasi bencana nasional,” seraya menambahkan, “Untuk melindungi nyawa dan keselamatan rakyat, kita harus meningkatkan tingkat, cakupan, dan kecepatan respons kebijakan hingga batas maksimal.”
Di tengah situasi itu, sebuah kajian di Amerika Serikat memunculkan temuan menarik. Di kota-kota besar, semakin luas area yang ditempati naungan pohon, semakin besar peluang angka kematian menurun.
Naungan pohon menurunkan angka kematian pada musim panas?
Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Northwestern University melacak perubahan perkotaan di Chicago, kota di negara bagian Illinois, Amerika Serikat, pada 2011–2021. Data yang ditelaah mencakup proporsi naungan pohon (tajuk), suhu maksimum musim panas, serta jumlah kematian.
Hasil penelitian menunjukkan, peningkatan luas area naungan tahunan berkaitan dengan penurunan angka kematian. Ketika luas naungan meningkat 1%, angka kematian keseluruhan turun sekitar 9,8%.
Jika dilihat per penyakit, peningkatan 1% luas naungan berkaitan dengan penurunan 9,2% angka kematian akibat penyakit kardiovaskular. Penurunannya lebih besar pada penyakit pernapasan (turun 11,3%) maupun gangguan mental (turun 16,4%).
Berdasarkan hasil simulasi tim peneliti, jika otoritas Kota Chicago menanam tambahan 14.000 pohon setiap tahun, proporsi luas naungan dapat meningkat 0,03%, dan hal itu tercatat berkaitan dengan pencegahan sekitar 105 kematian per tahun.
Sebaliknya, tim peneliti mengonfirmasi bahwa di wilayah Chicago yang paling panas, ketika jumlah pohon berkurang, angka kematian meningkat tajam.
Tim peneliti menjelaskan, “Karena kajian ini merupakan observasi sederhana, bukan eksperimen, sulit untuk memastikan hubungan sebab-akibat,” namun menambahkan, “Naungan pohon secara bermakna dapat menurunkan suhu kota serta paparan stres panas dan polusi udara, sekaligus meningkatkan aktivitas fisik sehingga dapat memperbaiki stres dan kesehatan mental.”
Di Seoul juga, semakin ‘banyak pohon’, semakin rendah suhu permukaan
Tren ini tidak hanya terlihat di Chicago, Amerika Serikat, tetapi juga di Seoul, Republik Korea. Baru-baru ini, National Institute of Forest Science di bawah Korea Forest Service menganalisis hubungan antara proporsi luas hutan kota dan suhu permukaan pada musim panas di 25 distrik otonom Seoul.
Hasilnya, wilayah yang lebih dari 30% luas distriknya tertutup pepohonan memiliki suhu rata-rata lebih rendah dibanding wilayah yang tidak demikian. Semakin tinggi proporsi area yang tertutup pohon, semakin jelas perbedaan suhunya.
Secara khusus, National Institute of Forest Science mencatat Seoul merupakan kota dengan kesenjangan besar antar-distrik dalam proporsi luas hutan kota.
Distrik peringkat atas seperti Distrik Gangbuk (62,3%), Distrik Jongno (61,1%), Distrik Gwanak (57,4%), Distrik Eunpyeong (52,2%), dan Distrik Dobong (51,3%) memiliki lebih dari separuh wilayahnya tertutup pepohonan. Sebaliknya, Distrik Yeongdeungpo yang berada di peringkat terbawah hanya memiliki luas hutan kota 5,8%, sementara Distrik Gangseo (10,2%) dan Distrik Seongdong (10,8%) juga hanya sedikit melampaui 10%.
Pohon menyerap air melalui akar dan mengalirkannya hingga ke daun, lalu menguapkannya untuk menjaga suhu tubuh. Proses ini disebut transpirasi, dan berkat proses tersebut muncul efek menyejukkan di sekitar tanaman. Karena pada proses penguapan air turut menyerap panas di sekitarnya, fenomena pulau panas perkotaan pun sebagian dapat diredam. Naungan pohon juga berperan menghalangi panas radiasi matahari.
Dr. Je Seon-mi dari Pusat Riset Hutan Kota di Kawasan Permukiman, National Institute of Forest Science, mengatakan, “Bukan hanya hutan kota berskala besar, satu pohon atau hutan berskala kecil pun memiliki efek dalam menghadapi gelombang panas.”
