Lutut nyeri berdenyut saat terkena hembusan AC? Waspadai keluhan ‘sendi kedinginan’

| masukan:

Hembusan udara dingin langsung bisa memperparah nyeri dan kekakuan, tetapi tidak ada bukti menyebabkan kerusakan sendi

Seorang perempuan menikmati hembusan angin AC. Foto=Shutterstock/Yonsei Sarang Hospital

Cuaca panas yang berlangsung dari hari ke hari membuat banyak orang menyalakan AC sepanjang hari di rumah maupun kantor. Ada yang merasa hembusan kipas tidak menjadi masalah, tetapi ketika terlalu lama terkena AC, leher dan bahu terasa kaku, sementara lutut atau pinggang berdenyut.

Sama-sama angin, mengapa rasanya berbeda?

Kipas angin menggerakkan udara di dalam ruangan. Ketika hembusannya menyapu kulit, panas tubuh berkurang dan penguapan keringat meningkat sehingga pada hari yang panas tubuh terasa lebih sejuk.

Berbeda dengan itu, AC menghembuskan udara yang sudah didinginkan. Jika hembusan ini terus-menerus mengenai satu bagian tubuh—seperti leher, bahu, atau lutut—suhu kulit di area tersebut bisa turun lebih jauh.

Karena itu, orang yang sehari-hari mengalami osteoartritis lutut atau nyeri pinggang kronis dapat merasakan sendi atau otot di sekitarnya menjadi lebih kaku atau lebih nyeri setelah lama terkena hembusan AC.

Yonsei Sarang Hospital menjelaskan, keluhan nyeri pada sendi atau area sekitar tulang belakang yang terasa lebih menonjol di lingkungan ber-AC pada musim panas kerap disebut sebagai ‘sendi kedinginan’. Namun, ‘sendi kedinginan’ bukanlah nama diagnosis medis resmi. Istilah yang lebih umum, ‘penyakit akibat pendingin ruangan’, juga dipakai sebagai sebutan payung untuk berbagai gejala—seperti sakit kepala, rasa lelah, dan nyeri otot—yang muncul ketika terlalu lama berada di ruangan yang didinginkan secara berlebihan.

Hembusan AC langsung, mengapa terasa lebih dingin dan membuat kaku?

Dalam bidang pemanas-pendingin dan tata udara (HVAC), kondisi ketika satu bagian tubuh menjadi terlalu dingin akibat hembusan udara dingin hingga menimbulkan rasa tidak nyaman disebut ‘draft’.

Dengan kekuatan angin yang sama, semakin dingin udaranya, semakin banyak panas tubuh yang terserap. Itulah sebabnya, ketika leher, bahu, atau kaki yang berada tepat di depan atau di bawah keluaran AC terus-menerus terkena hembusan udara dingin, rasa dinginnya terasa lebih menyengat.

Dalam eksperimen paparan hembusan AC, juga diamati bahwa ketika paparan angin lebih besar, suhu kulit pada bagian yang terpapar—seperti dahi, lengan, dan tangan—menjadi lebih rendah.

Kipas angin sedikit berbeda. Karena bukan perangkat yang menurunkan suhu udara ruangan itu sendiri, kipas membantu mendinginkan panas tubuh di ruangan yang panas.

Namun, ini bukan berarti hembusan kipas aman meski diarahkan langsung tanpa henti. Jika ruangan sudah cukup sejuk, lalu hembusan angin yang kuat mengenai satu bagian tubuh dalam waktu lama, tubuh bisa terasa dingin. Jika wajah terus-menerus terkena angin, penguapan air mata dapat meningkat sehingga mata menjadi kering.

Yang menentukan bukan semata kipas atau AC. Suhu dan kekuatan hembusan, serta berapa lama mengenai satu bagian tubuh, semuanya berpengaruh. Pada hembusan AC langsung, perbedaannya adalah udara dingin dan hembusan yang cepat mengenai tubuh secara bersamaan.

Seorang perempuan merasa kedinginan di dalam ruangan yang AC-nya menyala. Jika hembusan udara dingin mengenai tubuh secara langsung dalam waktu lama, suhu kulit di area tersebut turun sehingga dapat menimbulkan rasa kaku atau tidak nyaman. Foto=Getty Image Bank

Hembusan udara dingin AC tidak merusak sendi

Namun, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa hembusan udara dingin dari AC merusak tulang rawan sendi atau mempercepat progres osteoartritis itu sendiri.

Hasil penelitian yang menelaah hubungan suhu udara dan nyeri sendi juga beragam.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan pada 2023 di jurnal internasional 《Annals of Medicine》 menelaah 14 studi observasional yang membahas hubungan osteoartritis dan cuaca. Hasil analisis menunjukkan kecenderungan bahwa semakin rendah suhu, semakin berat nyeri osteoartritis.

Ada pula hasil yang berlawanan. Tinjauan sistematis dan meta-analisis lain yang dipublikasikan pada 2024 menganalisis 11 studi dengan 15.315 orang. Hasilnya, tidak ditemukan hubungan yang jelas antara suhu, kelembapan, tekanan udara, dan curah hujan dengan kejadian atau perburukan artritis reumatoid, nyeri lutut, maupun nyeri punggung bawah.

Kedua studi tersebut tidak meneliti secara langsung dampak hembusan AC langsung. Keduanya terutama menganalisis hubungan antara cuaca dan nyeri. Karena itu, alih-alih menyimpulkan “angin AC memperburuk artritis”, lebih tepat melihat bahwa sebagian orang dapat merasakan nyeri atau kekakuan yang sudah ada menjadi lebih kuat ketika terpapar lingkungan dingin atau hembusan langsung.

Kurangi selisih suhu dalam-luar ruangan, dan arahkan hembusan dingin menjauh dari tubuh

Tidak perlu memaksakan diri menahan panas tanpa pendingin ruangan di tengah gelombang panas hanya karena khawatir pada sendi. Pada hari yang sangat panas, pendinginan yang memadai jauh lebih bermanfaat untuk mencegah penyakit akibat panas. Namun, sebaiknya selisih suhu antara dalam dan luar ruangan tidak terlalu besar, dan hembusan udara dingin dari AC tidak terus-menerus mengenai tubuh secara langsung.

Korea Disease Control and Prevention Agency merekomendasikan, untuk mencegah penyakit akibat pendingin ruangan pada musim panas, menjaga selisih suhu dalam-luar ruangan sekitar 5℃, serta mengatur arah hembusan agar udara dingin AC tidak mengenai kulit secara langsung. Menyiapkan pakaian luar tipis, minum air yang cukup, dan sering mengangin-anginkan ruangan juga membantu.

Pada musim panas, banyak orang umumnya merasa nyaman pada suhu ruangan 24~26℃. Namun, ini tidak bisa dianggap sebagai standar kesehatan absolut yang berlaku untuk semua orang. Suhu yang tepat dapat berbeda tergantung usia, kondisi kesehatan, tingkat aktivitas, dan pakaian.

Yonsei Sarang Hospital juga menganjurkan agar arah hembusan AC diatur supaya tidak mengenai lutut, bahu, atau pinggang secara langsung. Saat berada di kantor atau transportasi umum yang pendinginannya kuat, rumah sakit itu menyarankan mengenakan tambahan pakaian lengan panjang tipis atau memanfaatkan selimut.

Setiap 1~2 jam, kendurkan tubuh…jika nyeri berlanjut, jangan hanya menyalahkan ‘AC’

Sebaiknya juga menghindari duduk dalam posisi yang sama terlalu lama di kantor yang AC-nya menyala.

Yonsei Sarang Hospital merekomendasikan, jika harus lama berada di dalam ruangan, bangun dari tempat duduk setiap 1~2 jam untuk melakukan peregangan ringan. Cukup dengan menekuk dan meluruskan lutut secara perlahan serta menggerakkan pinggang dan bahu. Yang penting adalah tidak bertahan dalam satu posisi terlalu lama.

Jika sehari-hari memiliki osteoartritis degeneratif atau nyeri punggung bawah kronis, perlu waspada agar tidak menganggap semua nyeri pada musim panas sebagai ‘gara-gara AC’. Sebab, jika nyeri tetap berlanjut atau makin berat meski lingkungan pendinginan sudah diubah, penyakit sendi atau tulang belakang yang sudah ada sebelumnya bisa menjadi penyebabnya.

Jung Kwang-am, Direktur Yonsei Sarang Hospital Foto=Yonsei Sarang Hospital

Direktur Yonsei Sarang Hospital, Jung Kwang-am, mengatakan, “Jika nyeri sendi pada musim panas dibiarkan begitu saja karena dianggap sekadar nyeri musiman atau fenomena sementara, penyakitnya bisa memburuk.” Ia menambahkan, “Jika nyeri bertahan lebih dari satu minggu meski lingkungan dalam ruangan sudah diperbaiki, pasien harus menjalani diagnosis dan pengobatan yang akurat dari dokter spesialis ortopedi.”

Tidak perlu menghindari AC demi menjaga kesehatan sendi pada musim panas. Di tengah gelombang panas, lakukan pendinginan secukupnya, tetapi pastikan hembusan udara dingin tidak mengenai satu bagian tubuh terlalu lama, dan selisih suhu dalam-luar ruangan juga tidak terlalu besar. Jangan lupa untuk sesekali menggerakkan tubuh.

×