
Hasil penelitian menunjukkan bahwa reuni dengan teman-teman lama dan berbagi kenangan dapat membantu membangkitkan rasa syukur terhadap kehidupan. Tim peneliti dari Virginia Commonwealth University melakukan tiga eksperimen tentang kecenderungan nostalgia dan rasa syukur pada 300 mahasiswa (74% perempuan) dan menemukan hal ini.
Menurut hasil penelitian, tindakan mengingat kenangan manis dari masa lalu melalui pertemuan kembali, bernyanyi, atau berkhayal tidak hanya berhenti pada mengingat masa lalu, tetapi juga membantu meningkatkan rasa terhubung dengan orang lain dan rasa syukur terhadap kehidupan. Tim peneliti menjelaskan bahwa momen yang membangkitkan nostalgia membuat peserta merenungkan hubungan sosial mereka, dan ikatan ini berfungsi sebagai mekanisme kunci untuk meningkatkan rasa syukur terhadap pengalaman hidup.
Menariknya, pandangan terhadap nostalgia di masa lalu. Seorang mahasiswa kedokteran di Swiss pada tahun 1600-an pertama kali menciptakan istilah nostalgia, dan mendefinisikannya sebagai penyakit otak yang berasal dari takdir setan. Pandangan negatif ini, yang diambil dari penelitian tentang sekelompok tentara bayaran yang menderita nostalgia, tidak hilang di kalangan psikolog selama berabad-abad.
Namun, tim penelitian kali ini mengungkapkan bahwa nostalgia sebenarnya adalah pengalaman positif yang memberikan manfaat psikologis. Mereka juga menganalisis bahwa secara sengaja melihat foto lama atau mendengarkan musik yang membangkitkan nostalgia dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Virginia Commonwealth University (usia 18-63 tahun, rata-rata usia 19,9 tahun).
Hasil penelitian ini (Nostalgia and gratitude: The mediating role of social connectedness) baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal akademik internasional 《Personality and Individual Differences》.
Reuni dapat memberikan dampak psikologis yang baik, tetapi dalam kenyataannya, dapat menjadi tempat yang memberikan stres dan rasa kehilangan yang parah. Terutama bagi orang dewasa dan lanjut usia, reuni dapat berubah dari sekadar ajang pertemuan sosial menjadi tempat untuk membuktikan dan membandingkan kehidupan masing-masing.
Kesulitan yang paling umum dialami di reuni adalah stres akibat pujian diri dari beberapa orang. Pencapaian individu seperti kekayaan ekonomi, kehormatan sosial, dan promosi jabatan tinggi, serta kebanggaan anak-anak yang masuk universitas ternama atau bekerja di perusahaan besar, adalah menu tetap yang tidak pernah hilang. Terutama, pamer kemampuan yang diakui di tempat kerja dan menghasilkan banyak uang bahkan setelah pensiun dapat memberikan tekanan psikologis kepada teman-teman seangkatan yang menjalani masa pensiun yang relatif biasa. Keinginan untuk pamer ini dapat memicu perbandingan dengan orang lain dan menjadi penyebab utama yang merusak harga diri banyak orang.
Faktanya, perbandingan ke atas dengan orang lain telah terbukti berdampak negatif pada kesehatan mental melalui berbagai penelitian. Menurut teori perbandingan sosial oleh psikolog sosial Amerika Leon Festinger, manusia memiliki naluri untuk mengevaluasi diri mereka dengan membandingkan diri dengan orang lain. Selain itu, ketika membandingkan dengan orang yang terlihat lebih unggul, mudah untuk merasakan rasa kehilangan relatif dan depresi. Terutama dalam lingkungan seperti masyarakat Korea, di mana standar kesuksesan seragam, efek kontras psikologis yang membuat kesuksesan teman seangkatan terasa seperti kegagalan diri sangat besar.
Di antara orang-orang terkenal yang dicintai publik, ada banyak contoh yang menjaga jarak dari reuni atau pertemuan pribadi. Pendiri Apple, Steve Jobs, hampir tidak pernah muncul di reuni sekolah menengahnya sepanjang hidupnya, bahkan di masa muda ketika ia mengalami kesulitan. Aktris Hollywood Angelina Jolie pernah mengungkapkan dalam sebuah wawancara bahwa ia tidak berinteraksi dengan teman-teman seangkatan karena kenangan akan perundungan di masa sekolah.
Dengan memilih untuk tidak terikat pada hubungan masa lalu dan lebih fokus pada pencapaian saat ini atau masa depan, serta menghindari isolasi pribadi, seseorang dapat sepenuhnya memblokir kelelahan atau perlakuan diskriminatif yang berasal dari perbandingan. Haruskah pergi ke reuni? Menimbang kehangatan kenangan (nostalgia) dan dinginnya kenyataan (stres perbandingan) adalah titik awal untuk membuat keputusan.
[Pertanyaan yang Sering Diajukan]
Q1. Setelah pergi ke reuni, saya merasa depresi, apakah saya aneh?
A1. Tidak sama sekali. Secara psikologis, manusia memiliki naluri untuk membandingkan diri dengan orang lain untuk mengonfirmasi nilai diri mereka. Terutama, standar kesuksesan yang seragam dalam masyarakat Korea cenderung mendorong perbandingan ke atas dan menyebabkan rasa kehilangan relatif. Stres ini adalah respons psikologis yang sangat alami, jadi tidak perlu menyalahkan diri sendiri.
Q2. Apakah tidak ada cara untuk hanya menikmati efek positif dari nostalgia seperti dalam hasil penelitian?
A2. Jika pertemuan tatap muka seperti reuni terasa membebani, saya merekomendasikan aktivitas nostalgia yang bisa dinikmati sendiri. Melihat album foto lama atau mendengarkan musik yang disukai di masa kecil sudah cukup. Menurut penelitian, aktivitas ini berfungsi sebagai mekanisme untuk memulihkan rasa keterhubungan sosial dan meningkatkan rasa syukur terhadap kehidupan tanpa perbandingan langsung dengan orang lain, memberikan stabilitas psikologis.
Q3. Ketika mendengar pujian dari teman seangkatan, sikap apa yang sebaiknya dimiliki?
A3. Penting untuk memisahkan pencapaian teman seangkatan dari kekurangan diri sendiri. Alih-alih terguncang oleh standar buatan dari kesuksesan orang lain, fokuslah pada ikatan emosional yang diberikan oleh hubungan masa lalu, atau jika perlu, menjaga jarak yang wajar dari pertemuan juga merupakan cara yang bijak untuk menjaga kesehatan mental.
