Perdebatan puluhan tahun soal teknik operasi kanker rektum akhirnya dijawab tim medis Korea

| masukan:

Ligasi “tinggi” vs “rendah” pada arteri mesenterika inferior; uji klinis 5 tahun menyimpulkan “tidak ada perbedaan”

Ligasi tinggi vs ligasi rendah. Selama bertahun-tahun, komunitas bedah kanker rektum memperdebatkan di titik mana arteri harus diikat setelah rektum dipotong akibat kanker rektum. Salah satu tokoh yang menghasilkan temuan observasional berskala besar untuk meredakan perdebatan ini, Prof. Bae Gi-beom dari Busan Paik Hospital (tengah, berkacamata), sedang melakukan operasi kanker rektum. Foto=Busan Paik Hospital

Di luar ruang operasi, keluarga pasien menunggu dengan cemas. Operasi kanker rektum memang sudah selesai, tetapi kekhawatiran yang sesungguhnya baru dimulai. Bagaimana jika area sambungan—tempat usus yang tersisa disambungkan kembali setelah jaringan kanker diangkat—tidak menutup dengan baik? Kondisi ini disebut “kebocoran anastomosis”. Jika terjadi kebocoran, pemulihan akan melambat dan, pada kasus berat, bisa berujung pada operasi ulang.

Untuk menurunkan risiko itu, ahli bedah harus mengambil satu keputusan sebelum operasi: di mana arteri mesenterika inferior (IMA), yang memasok darah ke usus, akan diikat. Ada “ligasi tinggi”, yakni mengikat dekat pangkal pembuluh, dan “ligasi rendah”, yakni mengikat pada cabang yang lebih bawah. Perdebatan mengenai dua metode ini menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas di dunia bedah selama puluhan tahun.

Mengapa pertanyaan ini bertahan begitu lama?

Ligasi tinggi dinilai unggul karena memungkinkan pengangkatan kelenjar getah bening secara lebih luas. Sebaliknya, ligasi rendah bertumpu pada logika bahwa pasokan darah ke usus yang tersisa menjadi lebih memadai sehingga anastomosis lebih kecil kemungkinannya untuk bocor.

Kedua klaim sama-sama masuk akal, tetapi selama ini belum ada bukti dari uji klinis acak berskala besar yang memastikan mana yang lebih aman bagi pasien. Akibatnya, pilihan kerap berbeda-beda bergantung pada pengalaman dan kebiasaan masing-masing rumah sakit serta tim medis.

Bagaimana tim medis menjawab pertanyaan ini?

Tim riset “K-CROSS” yang melibatkan Prof. Bae Gi-beom dari Inje University Busan Paik Hospital, Prof. Park Jun-seok dari Chilgok Kyungpook National University Hospital, dan Prof. Kim Chang-hyun dari Hwasun Chonnam National University Hospital, turun langsung menguji perdebatan tersebut. Prof. Bae Gi-beom dan Prof. Park Jun-seok menjadi penulis korespondensi bersama, sementara Prof. Kim Chang-hyun menjadi penulis pertama. Para spesialis bedah kolorektal dari wilayah Honam, Chungcheong, dan Yeongnam ikut bergabung, dan proyek ini berkembang menjadi studi besar yang melibatkan 7 rumah sakit universitas di Korea.

Busan Paik Hospital menyatakan pada 14 bahwa tim mengumpulkan 314 pasien kanker rektum stadium klinis 1–3 yang menjalani operasi dari Juli 2019 hingga Agustus 2024. Dari jumlah itu, 293 pasien dianalisis secara final. Para peneliti membagi pasien ke kelompok ligasi rendah dan ligasi tinggi, lalu membandingkan angka kebocoran anastomosis, komplikasi pascaoperasi, serta fungsi berkemih dan fungsi seksual serta kualitas hidup setelah 1 tahun. Ini merupakan uji klinis acak prospektif yang berlangsung selama 5 tahun. Temuan mereka dimuat di edisi terbaru “JAMA Surgery”, jurnal paling bergengsi di bidang bedah.

Apa kesimpulannya?

Hasilnya mengejutkan: tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik antara kedua metode ligasi. Hal yang sama berlaku untuk angka kebocoran, komplikasi, serta fungsi berkemih dan fungsi seksual maupun kualitas hidup. Setelah perdebatan puluhan tahun, jawabannya terdengar antiklimaks: “keduanya aman”.

Namun, justru kesimpulan “antiklimaks” ini memiliki bobot klinis besar. Karena tidak ada bukti bahwa salah satu lebih unggul, operator dapat memilih lebih leluasa sesuai situasi.

Prof. Bae Gi-beom mengatakan, “yang penting adalah ‘operasi presisi’ yang menilai secara komprehensif struktur pembuluh darah tiap pasien, lokasi tumor, tingkat ketegangan usus dan kondisi suplai darah, serta tingkat kemahiran operator.” Artinya, alih-alih mematok satu jawaban, metode operasi perlu dipilih sesuai kondisi yang berbeda pada tiap pasien.

Apa arti hasil ini bagi layanan kesehatan daerah?

Alasan lain penelitian ini menonjol adalah struktur partisipasinya. Ini bukan riset tunggal rumah sakit besar di Seoul, melainkan hasil kolaborasi rumah sakit universitas daerah dengan Inje University Busan Paik Hospital sebagai pusat, bersama Chilgok Kyungpook National University Hospital dan Hwasun Chonnam National University Hospital.

Fakta bahwa tenaga medis daerah tidak berhenti pada akumulasi pengalaman masing-masing, melainkan mengumpulkan data di bawah satu pertanyaan dan menyajikan bukti di jurnal akademik kelas dunia, juga menjadi contoh bagaimana kapasitas bedah kolorektal di daerah dinilai di dalam dan luar negeri.

Hingga Agustus, Prof. Bae Gi-beom telah melakukan lebih dari 690 operasi robotik kanker kolorektal, dan dalam akumulasi kasus pribadi ia memegang rekor terbanyak di wilayah Busan–Ulsan–Gyeongnam. Belakangan, ia juga menggelar demonstrasi operasi secara real time serta pelatihan teknik bedah bagi tenaga medis dari dalam dan luar negeri, termasuk Jepang.

Pada akhirnya, tidak perlu kecewa karena jawaban perdebatan puluhan tahun itu berakhir “imbang”. Justru, memastikan bahwa kedua metode sama-sama aman dalam operasi kanker rektum minimal invasif adalah hasil terbaik. Lebih jauh lagi, hasil imbang itu juga menjadi sinyal lain: perlunya menelaah kondisi tiap pasien dengan lebih cermat.

×