
Saat memutuskan untuk diet, banyak orang langsung terpikirkan dada ayam atau salad. Namun para ahli mengatakan, “Yang perlu dilakukan lebih dulu adalah menghentikan apa yang biasa dimakan, bukan memilih apa yang akan dimakan.” Faktanya, banyak orang yang berhasil menurunkan berat badan bercerita bahwa tubuh mereka berubah hanya dengan mengurangi makanan tertentu. Terutama makanan yang sering dikonsumsi berulang tanpa disadari dapat dengan mudah mengacaukan nafsu makan dan kadar gula darah, sehingga dapat menghambat diet. Jika Anda sudah berniat menurunkan berat badan, mari lihat makanan apa saja yang sebaiknya dibereskan terlebih dahulu.
Minuman manis…tidak membuat kenyang, tetapi mudah menambah berat
Kopi manis, jus buah, dan sejenisnya sering dicari sebagai pencuci mulut setelah makan. Namun gula dalam bentuk cair memberikan rasa kenyang yang rendah, sehingga membuat kita mengonsumsi banyak kalori dalam waktu singkat. Terutama fruktosa cair dapat membuat gula darah naik turun dengan cepat. sehingga Anda bisa cepat merasa lapar lagi. Berpikir “cuma satu gelas sehari,” tetapi jika dilakukan berulang, hal ini bisa menjadi penyebab kenaikan berat badan.
Masalahnya, banyak orang tidak menganggap kalori dari minuman sebagai bagian dari asupan makan. Bahkan, satu gelas minuman kafe ukuran besar kadang bisa melampaui kalori semangkuk nasi. Jus buah juga terasa seperti pilihan sehat, tetapi karena seratnya lebih sedikit dibanding makan buah utuh, gula darah dapat naik lebih cepat. Saat diet, penting untuk terlebih dahulu mengurangi kebiasaan minum minuman manis.
Camilan, roti, dessert…‘cuma satu gigitan’ tapi berlanjut terus
Dessert seperti kukis, kue, dan donat sering mengandung gula, lemak, dan karbohidrat olahan sekaligus. Makanan seperti ini cenderung merangsang sistem penghargaan di otak sehingga membuat kita ingin terus makan. Terutama jika setelah makan Anda terbiasa mencari dessert, fluktuasi gula darah bisa makin besar dan keinginan untuk makan larut malam pun dapat meningkat. Inilah alasan mengapa makanan ini sering disebut paling sulit dihentikan saat diet.
Terutama dessert manis sering terasa lebih “menggoda” saat sedang stres. Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa ketika lelah atau kurang tidur, preferensi terhadap makanan manis dapat meningkat. Roti lembut seperti croissant dan muffin juga tinggi kandungan mentega dan gula, sehingga kalorinya lebih tinggi dari yang dibayangkan. Sering terjadi, berawal dari pikiran “makan sedikit saja,” tetapi total kalori harian justru meningkat besar.
Mi instan larut malam dan makanan pesan-antar…merusak ritme diet
Mi instan larut malam, ayam goreng, tteokbokki, dan makanan sejenis umumnya merupakan kombinasi tinggi kalori dan tinggi natrium. Karena dimakan pada waktu aktivitas rendah, kelebihan energi lebih mudah disimpan sebagai lemak. Terutama jika makan makanan yang kuat bumbunya di malam hari, kemungkinan besar keesokan harinya Anda akan kembali mencari rasa yang kuat. Kebiasaan makan larut malam juga dapat menurunkan kualitas tidur, sehingga berdampak buruk pada pengendalian nafsu makan.
Kurang tidur diketahui berkaitan dengan perubahan hormon yang meningkatkan nafsu makan. Kebiasaan makan larut lalu langsung berbaring juga dapat meningkatkan risiko perut begah atau refluks asam (GERD). Terutama makanan pesan-antar sering tinggi minyak dan natrium, sehingga keesokan harinya tubuh bisa terasa bengkak dan berat badan seolah naik mendadak. Para ahli menilai masalah yang lebih besar bukan sekadar makan larut malamnya, melainkan “kebiasaan yang berulang setiap malam.”
Daging olahan seperti ham dan sosis…kalorinya lebih tinggi dari yang dikira
Daging olahan seperti ham, bacon, dan sosis memang praktis, tetapi sering tinggi lemak dan natrium. Jika sering dimakan sebagai lauk, asupan kalori pun secara alami meningkat. Makanan asin dapat membuat selera makin kuat dan berpotensi berlanjut ke konsumsi minuman bersoda atau makan larut malam. Karena terasa seperti makanan berprotein, orang mudah lengah, padahal kalorinya bisa lebih tinggi dari perkiraan.
Terutama daging olahan sering dikonsumsi bukan hanya sebagai lauk nasi, tetapi juga dalam sandwich, gimbap, atau menu brunch dalam berbagai bentuk. Masalahnya adalah kandungan lemaknya tinggi dibanding rasa kenyang yang diberikan. Beberapa produk tinggi lemak jenuh dan natrium, sehingga perlu kehati-hatian bukan hanya untuk diet, tetapi juga dari sisi pengelolaan tekanan darah. Ada pula yang menyoroti bahwa jika sering dimakan dengan alasan “kan protein, jadi tidak apa-apa,” justru keseimbangan pola makan bisa terganggu.
Sereal yang dikira makanan sehat…waspadai gula tersembunyi
Sereal dan granola memiliki citra makanan sehat yang kuat, tetapi tergantung produknya, kandungan gula bisa mengejutkan tinggi. Produk dengan cokelat, madu, atau buah kering dapat membuat kalori cepat meningkat. Ditambah lagi susu atau yogurt, kalori satu kali makan sering menjadi lebih besar dari perkiraan. Karena mudah lengah soal porsi dengan alasan “makanan sehat,” maka dari itu penting untuk memeriksa label nilai gizi.
Terutama granola, karena citra kacang-kacangan dan oat, membuat banyak orang menganggapnya sebagai makanan diet. Namun produk yang disatukan dengan sirup atau gula bisa memiliki kandungan gula lebih tinggi dari yang dibayangkan. Sereal juga mudah dimakan melebihi takaran saji yang dianjurkan, sehingga kalori yang benar-benar dikonsumsi sering meningkat besar. Para ahli menyarankan agar membiasakan diri memeriksa terlebih dahulu informasi gula, lemak, dan total kalori.