"Bukan obat, tapi lsepenggal lagu"… resep ‘menarik’ yang diantarkan penjelajah daerah terpencil

| masukan:

Do Yong-bok, Ketua Saratoga, menyumbangkan piano ke Pusat Komunitas Rumah Sakit Bongsaeng Memorial hingga membuka kelas bernyanyi

Do Yong-bok, Ketua Saratoga, seorang ‘penjelajah daerah terpencil’ yang telah mendatangi sudut-sudut 190 negara di dunia yang tidak banyak diketahui orang lain, pada tanggal 2 menghadirkan sebuah program khusus di Pusat Komunitas Rumah Sakit Bongsaeng Memorial. Sejak melewati usia 60 tahun, ia menjalani kehidupan unik sebagai pengusaha: “300 hari dalam setahun bekerja keras, dan 65 hari sisanya menjelajahi daerah terpencil dunia.” Pesannya bahwa “bahkan di saat paling putus asa, sekadar tetap hidup itu sendiri adalah sebuah berkah” menaburkan benih ‘vitalitas hidup’ baru bagi para lansia yang bisa saja terjerumus ke dalam ‘depresi pada lansia’. Foto=Rumah Sakit Bongsaeng Memorial
Do Yong-bok, Ketua Saratoga, seorang ‘penjelajah daerah terpencil’ yang telah mendatangi sudut-sudut 190 negara di dunia yang tidak banyak diketahui orang lain, pada tanggal 2 menghadirkan sebuah program khusus di Pusat Komunitas Rumah Sakit Bongsaeng Memorial. Sejak melewati usia 60 tahun, ia menjalani kehidupan unik sebagai pengusaha: “300 hari dalam setahun bekerja keras, dan 65 hari sisanya menjelajahi daerah terpencil dunia.” Pesannya bahwa “bahkan di saat paling putus asa, sekadar tetap hidup itu sendiri adalah sebuah berkah” menaburkan benih ‘vitalitas hidup’ baru bagi para lansia yang bisa saja terjerumus ke dalam ‘depresi pada lansia’. Foto=Rumah Sakit Bongsaeng Memorial

Pusat Komunitas Rumah Sakit Bongsaeng Memorial di Distrik Dong, Busan. Alih-alih tenaga medis berseragam jas putih, pada tanggal 2 ruang ini dipenuhi alunan lagu yang hangat dan bunyi tuts yang ceria. Do Yong-bok, Ketua Saratoga Co., Ltd., yang selama ini menyebarkan energi hidup yang tangguh lewat penjelajahan daerah-daerah terpencil (奧地) di 190 negara di seluruh dunia. Kali ini, ia mencari ‘daerah terpencil yang terisolasi’ di hati para lansia setempat dan mengantarkan obat penyembuh yang istimewa.

"Sepenggal lagu, obat mujarab untuk mengusir suasana hati yang buruk”

Meski mengelola produsen perlengkapan golf Saratoga Co., Ltd., Do Yong-bok—seorang ‘misionaris budaya’ yang juga pernah menjabat Ketua Panitia Penyelenggara Busan International Choral Festival—baru-baru ini menyumbangkan sebuah piano yang elegan ke tempat ini. Namun, ia tidak berhenti sampai di situ. Ia sendiri duduk di depan tuts, menatap mata para lansia, dan bertransformasi menjadi pengajar ‘kelas bernyanyi’ selama satu hari.

Ketua Do mengatakan, “Sepenggal lagu rakyat yang lama melekat dalam ingatan kita, atau potongan lagu populer, menghidupkan kembali otot-otot hati yang kian melemah,” seraya menambahkan, “Kalau bernyanyi bersama dengan suara lantang seperti ini, perasaan murung di dada akan cepat menguap.” Ketika tepuk tangan para lansia berpadu dengan melodi piano yang mengalir dari ujung jarinya, pusat komunitas pun seketika berubah menjadi ruang pemulihan yang penuh energi.

‘Daya hidup’ penjelajah daerah terpencil membangunkan ‘kelesuan’ masa tua

Sumbangan dan kontribusi keahlian kali ini memiliki makna besar dari sisi layanan kesehatan. Ini bukan sekadar waktu untuk bersenang-senang, melainkan juga contoh nyata ‘resep sosial (social prescribing)’ untuk mencegah ‘isolasi sosial’ dan ‘depresi pada usia lanjut’—dua hal yang paling mematikan bagi lansia yang tinggal sendiri.

Khususnya, kuliah khusus bertajuk ‘Perjalanan Budaya Dunia dengan Musik’ yang memadukan kisah-kisah hidup yang ia peroleh dari medan berat di seluruh dunia dengan musik, bukan hanya menjadi bahan cerita menarik yang sulit didengar di tempat lain bagi para lansia, tetapi juga melampaui sekadar penyampaian informasi dengan menyalakan kembali tekad hidup dan semangat yang berdenyut. Program ini, yang dioperasikan melalui kerja sama Yayasan Kebudayaan Bongsaeng (Ketua Dewan: Chung Eui-hwa • Direktur Medis Rumah Sakit Bongsaeng Memorial, mantan Ketua Majelis Nasional) dan Chang-gong Uam, bahkan menunjukkan potensi menjadi program perawatan komunitas berkonsep baru tempat budaya dan layanan kesehatan bertemu.

Kuliah khusus ‘Perjalanan Budaya Dunia dengan Musik’ oleh Ketua Do Yong-bok. Pada tahun 2007, ia juga menerbitkan buku dengan judul yang sama, merangkai musik rakyat dan budaya dari daerah-daerah terpencil dunia dari sudut pandang seorang penjelajah. Foto=Rumah Sakit Bongsaeng Memorial
Kuliah khusus ‘Perjalanan Budaya Dunia dengan Musik’ oleh Ketua Do Yong-bok. Pada tahun 2007, ia juga menerbitkan buku dengan judul yang sama, merangkai musik rakyat dan budaya dari daerah-daerah terpencil dunia dari sudut pandang seorang penjelajah. Foto=Rumah Sakit Bongsaeng Memorial

‘Resep budaya’ yang berbeda dari rumah sakit… menjadi markas pemulihan emosi

Karena itu, Rumah Sakit Bongsaeng Memorial (Ketua Yayasan: Kim Nam-hee) berencana memanfaatkan pusat komunitas sebagai basis penerbitan ‘resep budaya’ yang lebih aktif, dengan donasi piano ini sebagai titik awal. Ini adalah tekad untuk berevolusi melampaui ruang yang hanya menyembuhkan penyakit fisik, menjadi pusat ‘layanan kesehatan mental’ yang membantu stabilitas psikologis para lansia setempat dan memulihkan vitalitas hidup.

Jung Yeon-hak, Direktur Administrasi Rumah Sakit Bongsaeng Memorial, juga pada tanggal 3 mengatakan, “Donasi piano dari Ketua Do Yong-bok melampaui sekadar sumbangan barang berupa alat musik; ini adalah hadiah berupa energi harapan bahwa para lansia ‘bisa memulai lagi’,” serta menambahkan, “Gema piano yang lahir dari sini bisa menjadi resep yang paling hangat dan paling pasti untuk menyingkirkan kesepian para lansia.”

×