Menurunkan suhu AC secara sembarangan bisa berbahaya bagi kesehatan? Ini 3 cara memakai AC dengan aman

| masukan:

Cegah penyakit akibat pendingin ruangan… “Selisih suhu di dalam dan di luar ruangan tidak boleh melebihi 5–6 derajat”

Jika suhu AC dipertahankan terlalu rendah, risiko terkena penyakit akibat pendingin ruangan meningkat. Foto=Getty Image Bank

Panas di awal musim panas kian menyengat, menandai dimulainya periode penggunaan AC secara penuh. Namun, bila suhu AC diturunkan begitu saja demi menghindari gerah, Anda bisa lebih mudah terserang ‘penyakit akibat pendingin ruangan’ yang disertai pilek dan sakit kepala. Lalu, berapa derajat suhu AC yang tepat agar tidak mengganggu kesehatan?

Penyakit akibat pendingin ruangan lebih sering muncul bukan karena angka suhu tertentu, melainkan karena ‘perbedaan suhu yang besar antara dalam ruangan dan luar ruangan’. Ketika selisih suhu di dalam dan di luar membesar akibat penggunaan AC, sistem saraf otonom tubuh tidak sempat beradaptasi sehingga keseimbangan tubuh terganggu.

Gejalanya pun beragam. Yang paling umum adalah gangguan pernapasan mirip flu, seperti gangguan pencernaan, nyeri otot, rasa lelah, disertai pilek, hidung tersumbat, dan nyeri tenggorokan. Selain itu, paparan udara dingin secara terus-menerus dapat menyebabkan pembuluh darah perifer menyempit secara mendadak, sehingga dapat disertai gejala bengkak pada wajah atau tangan dan kaki.

Pendinginan di ruang tertutup dalam waktu lama juga memerlukan kewaspadaan khusus. Jika AC dinyalakan lama tanpa ventilasi, udara dalam ruangan menjadi kering sehingga mukosa saluran napas mengering dan membuat seseorang lebih mudah terkena flu atau influenza.

Jika gejala berat dan berlangsung lama, perlu curiga ‘legionelosis’

Pada cuaca panas dan lembap seperti belakangan ini, infeksi ‘bakteri Legionella’ yang terutama berkembang biak di air pendingin AC juga perlu diwaspadai. Bakteri Legionella berkembang aktif di air hangat yang tergenang pada suhu 25–45 derajat. Bagian dalam AC yang mudah terbentuk kelembapan saat beroperasi menjadi lingkungan optimal bagi bakteri untuk hidup.

Jika bakteri Legionella yang berkembang biak di dalam AC menyebar ke udara dalam ruangan melalui hembusan udara dingin, ancaman kesehatannya bisa jauh berbeda dibanding penyakit akibat pendingin ruangan biasa. Terutama, bila orang lanjut usia atau pasien dengan penyakit penyerta—yang daya tahan tubuhnya menurun—terpapar bakteri ini, risikonya besar untuk memburuk dari sekadar gangguan pernapasan menjadi pneumonia berat atau influenza.

Untuk mencegahnya, setelah menggunakan AC, manfaatkan fungsi kipas (fan) untuk mengeringkan kelembapan di bagian dalam secara memadai, serta lakukan pengelolaan kebersihan secara ketat seperti ventilasi berkala dan pencucian filter.

Berapa suhu AC yang ideal?

Lalu, berapa derajat suhu AC yang tepat agar tidak mengganggu kesehatan? Secara umum, suhu dalam ruangan idealnya dikelola agar selisih dengan suhu luar tidak melebihi 5–6 derajat. Artinya, sebaiknya atur suhu dalam ruangan pada 22–26 derajat. Kelembapan dalam ruangan juga sebaiknya dipertahankan pada kisaran 50–60%.

Jika Anda berada di lingkungan yang sulit menghindari udara dingin dalam waktu lama—seperti kantor yang AC-nya menyala sepanjang hari atau transportasi umum—sebaiknya membawa kardigan tipis untuk mengantisipasi penurunan suhu tubuh yang mendadak. Selain itu, rutin minum air hangat agar mukosa saluran napas tidak mengering juga merupakan langkah pencegahan yang sangat baik.

Malam hari terlalu panas… bolehkah menyalakan AC?

Belakangan, fenomena ‘malam tropis’ dengan suhu malam melampaui 25 derajat terus berlanjut, sehingga banyak orang bimbang soal menyalakan AC pada malam hari. Jika dimatikan, sering kali sulit tidur karena panas; tetapi jika dibiarkan menyala semalaman, muncul kekhawatiran terkena penyakit akibat pendingin ruangan atau flu. Lalu, bagaimana sebaiknya menggunakan AC pada malam hari?

Secara umum, sekitar 2 jam sebelum memasuki tidur, suhu tubuh manusia turun 1–2 derajat dan rasa kantuk muncul secara alami. Karena itu, menyalakan AC sebelum tidur untuk menyesuaikan suhu ruangan menjadi sedikit sejuk di kisaran awal hingga pertengahan 20 derajat dapat membantu tidur nyenyak.

Namun, mempertahankan suhu setelan rendah sepanjang malam perlu dihindari. Saat tidur, suhu tubuh secara alami menurun; bila terus terpapar udara dingin, penyempitan pembuluh darah dan penurunan suhu tubuh yang berlebihan dapat membuat Anda lebih mudah terkena penyakit akibat pendingin ruangan.

Karena itu, saat tidur sebaiknya gunakan fitur pengatur waktu agar AC mati setelah 1–2 jam. Pada tengah malam, hentikan penggunaan AC, tetapi nyalakan kipas angin dan buka jendela sedikit untuk mendorong sirkulasi udara alami. Jika terpaksa harus menyalakan AC semalaman, jangan mengatur suhu terlalu rendah.

×