“Ada apa di Iksan?” Eh, malah balik lagi…alasan kota ini naik daun sebagai destinasi penuh kejutan

| masukan:

[Wisata Kesehatan Plus]

Pengalaman foto unik dengan konsep penjara sambil mengenakan seragam narapidana sedang populer. Foto=Pariwisata Budaya Kota Iksan

Mulai dari pengalaman tak biasa mengenakan seragam narapidana dan masuk ke sel, cita rasa mendalam yang ditemukan di rumah makan lokal, hingga momen hening saat berhadapan dengan peninggalan Baekje. Dengan ragam keseruan yang berbeda-beda namun hadir berdampingan, Iksan di Provinsi Jeollabuk-do terasa lambat tetapi tidak membosankan, tenang tetapi tidak sepi. Destinasi yang menghadirkan kesenangan tak terduga dan meninggalkan kesan panjang. Kota yang setelah sekali dikunjungi, tiba-tiba ingin didatangi lagi. “Iksan” kini diam-diam menyebar dari mulut ke mulut di kalangan pelancong.

Foto terbaik seumur hidup dengan seragam narapidana! SNS ramai oleh konsep penjara

“Ini bukan penjara sungguhan, kan?”—sampai memancing reaksi seperti itu, “Set Lokasi Penjara Iksan” direkonstruksi dengan sangat realistis. Di sini ada ruang interogasi, ruang kunjungan, ruang sidang, hingga blok tahanan—fasilitas pemasyarakatan yang jarang ditemui—yang dibuat menyerupai aslinya. Lokasi ini digunakan sebagai tempat syuting ratusan film dan drama Korea seperti ‘Prison Playbook’, ‘Signal’, ‘The Penthouse’, ‘Inside Men’, dan ‘Miracle in Cell No. 7’, sehingga menjadi salah satu destinasi unik khas Iksan.

Terutama, daya tarik besarnya adalah Anda bisa menyewa seragam sipir dan seragam narapidana lalu berfoto “konsep penjara” di berbagai sudut. Foto “bukti narapidana” dengan latar jeruji besi, serta foto bergaya di koridor blok tahanan sudah terkenal di SNS. Bukan sekadar mengunjungi spot Instagram, keseruannya juga datang dari pengalaman masuk langsung ke ruang yang tidak biasa. Ada pula yang mengatakan mereka larut dalam ketegangan yang aneh namun menyenangkan, seolah menjadi tokoh utama di film.

Pemandangan set penjara yang memungkinkan pengunjung merasakan langsung suasana blok tahanan. Foto=Kota Iksan

Selain itu, pengunjung dapat masuk bersama hewan peliharaan, dan tersedia konten edukatif seperti pengalaman ruang sidang, sehingga populer juga bagi keluarga. Tiket masuknya gratis sehingga mudah disinggahi, tetapi pada jadwal syuting atau hari libur tertentu, kunjungan bisa dibatasi. Karena itu, sebaiknya cek operasional sebelum datang.

Situs UNESCO membosankan? Ternyata spot yang penuh nuansa

Pagoda batu Mireuksa yang memiliki daya tarik struktural khas. Foto=Pariwisata Budaya Kota Iksan

“Mireuksa-ji”, situs peninggalan utama Iksan sekaligus salah satu bekas kompleks kuil terbesar di Asia Timur yang didirikan pada masa Raja Mu dari Baekje, merupakan bagian dari “Zona Situs Bersejarah Baekje” dan terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2015. Nilai sejarahnya luar biasa, tetapi suasananya tidak lantas kaku. Hamparan rumput yang luas berpadu dengan struktur situs yang tertata rapi menciptakan lanskap minimalis yang justru menarik perhatian pelancong muda.

Harta Nasional “Pagoda Batu Mireuksa-ji” dinilai sebagai pagoda batu terbesar di Korea, sekaligus pagoda batu tertua yang masih ada. Menariknya, area di sekitarnya juga dikenal sebagai “spot foto bernuansa” di kalangan generasi MZ. Terutama pada sore menjelang senja ketika bayangan pagoda memanjang, suasananya menjadi lebih dalam dan misterius—pas untuk mengabadikan foto.

Area sekitar Pagoda Batu Mireuksa-ji, tempat peninggalan dan lanskap alam berpadu, adalah spot foto bernuansa yang tersembunyi. Foto=Pariwisata Budaya Kota Iksan

Daya tarik sejati perjalanan ke Iksan terletak pada “istirahat” dengan memperlambat langkah sejenak mengikuti napas Baekje. Sebab, kelonggaran dan ruang untuk merenung yang sulit ditemukan di destinasi wisata ramai, hadir di berbagai sudut alam dan warisan budaya Iksan. Saat Anda berjalan di Mireuksa-ji yang berada di kaki Gunung Mireuk, lalu merasakan angin sepoi yang menyenangkan di atas hamparan rumput luas Situs Wangung-ri—tempat dahulu berdiri istana kerajaan Baekje—tanpa sadar, momen pemulihan akan datang hanya dengan duduk, berjalan, dan memandang.

Gurih yang meledak di mulutbibimbap gaya Iksan yang beda tipis tapi terasa

“Hwangdeung yukhoe bibimbap” khas Iksan sedikit berbeda dari bibimbap pada umumnya. Nasinya lebih dulu “toryeom” (dicelup dan diaduk dengan kuah panas) hingga bumbunya meresap, lalu di atasnya ditambahkan yukhoe (daging sapi mentah) yang telah dibumbui. Melalui proses toryeom, rasa kuah meresap baik ke butiran nasi, dan bumbu menyatu menghasilkan rasa gurih-umami yang dalam. Cukup mengenyangkan untuk mengisi perut saat bepergian, dan karena karbohidrat, protein, serta sayuran berpadu dalam satu mangkuk, hidangan ini juga pas sebagai satu kali makan yang seimbang.

Hwangdeung yukhoe bibimbap khas Iksan: nasi yang ditoryeom sehingga rasa kuah meresap dan menghasilkan umami yang nikmat. Foto=Tangkapan layar video YouTube MBN

Tempat yang menunjukkan pesona bibimbap gaya Iksan ini dengan sangat baik adalah Restoran Hanil, yang diperkenalkan dalam acara varietas MBN ‘Jeon Hyun-mu Plan’. Hwangdeung yukhoe bibimbap di sini menonjolkan cita rasa lewat saus bumbu rahasia, dan sup darah sapi bening (seonjit-guk) yang disajikan sebagai pendamping juga cocok dipadukan dengan bibimbap. Jeon Hyun-mu yang mencicipinya pun memuji, “Keseimbangan rasanya pas,” seraya berkata, “Aku bakal datang untuk makan ini.”

“Gosrak”, yang memperlihatkan estetika kelambatan khas Iksan, juga layak diperhatikan. “Gosrak”, kata asli Korea yang berarti “tempat tertinggi” atau “yang terbaik”, adalah ruang budaya terpadu berbasis aneka saus fermentasi tradisional. Tempat ini mengelola restoran masakan Korea, pusat saus fermentasi, dan kafe; pengunjung dapat mencicipi doenjang (pasta kedelai fermentasi), gochujang (pasta cabai fermentasi), cuka fermentasi, dan lainnya yang dibuat sendiri, sambil merasakan kedalaman kuliner tradisional Korea.

Saat berjalan di jalur setapak Gosrak, ribuan tempayan fermentasi yang tersusun rapi menciptakan pemandangan yang mengagumkan. Foto=Tangkapan layar video YouTube Kota Iksan

Ribuan onggi (tempayan tradisional) yang ditemui saat berjalan menyusuri taman tempayan seluas sekitar 30.000 pyeong juga menjadi tontonan istimewa. Bagaimana jika menutup perjalanan di Iksan dengan tenang—menikmati secangkir teh fermentasi hangat atau teh enzim—di ruang yang kental nuansa Korea seperti ini.

×