Kulit tak harus terasa kesat! Cara cleansing K-Beauty berbeda antara pagi dan malam

| masukan:

Foto=Clipart Korea
Foto=Clipart Korea

Setelah mencuci wajah, banyak orang menganggap kulit harus terasa ‘kesat’ agar benar-benar bersih. Terutama pada hari ketika memakai riasan, sebagian orang khawatir masih ada sisa yang menempel sehingga memilih pembersih yang lebih kuat atau menggosok kulit berulang kali. Padahal, membersihkan dengan tuntas dan membersihkan dengan keras adalah dua hal yang berbeda.

Sisa riasan, tabir surya, sebum, dan kotoran lain di kulit memang perlu diangkat, tetapi pembersihan berlebihan justru dapat membebani kulit. Surfaktan dalam pembersih bekerja mengangkat sebum dan kotoran, namun juga dapat memengaruhi protein dan lipid pada lapisan tanduk (stratum korneum) kulit. Sejumlah studi menunjukkan, paparan berulang terhadap surfaktan yang kuat dapat memicu rasa tertarik, kering, dan iritasi setelah cuci muka, serta mengganggu fungsi sawar kulit.

American Academy of Dermatology (AAD) merekomendasikan penggunaan pembersih yang lembut dan tidak abrasif saat mencuci wajah. AAD juga menyarankan membersihkan wajah dengan air hangat suam-suam kuku dan ujung jari secara lembut. Menggosok kulit seolah mengelupas kotoran justru dapat memicu iritasi. Terutama bila kulit kering atau sensitif, frekuensi cuci muka dan tingkat kekuatan pembersihan perlu disesuaikan dengan kondisi kulit.

Pagi untuk sebum, malam untuk riasan… tujuan cuci muka yang berbeda

Belakangan ini, muncul tren yang tidak sekadar mengejar daya bersih, melainkan merinci proses cleansing berdasarkan ‘apa yang perlu dibersihkan’. Pendekatan ini berangkat dari kenyataan bahwa kondisi kulit pada pagi dan malam tidak sama.

Cuci muka pada pagi hari terutama bertujuan membersihkan sebum, keringat, dan kotoran yang menumpuk di kulit selama tidur. Sebaliknya, pada malam hari, selain itu, perlu mengangkat riasan, tabir surya, serta debu dan polutan yang menempel dari aktivitas di luar sepanjang hari. AAD juga menganjurkan agar pada pagi hari membersihkan kotoran yang menempel di wajah selama tidur, dan sebelum tidur menghapus riasan serta debu.

Pemisahan fungsi cuci muka seperti ini juga mulai diwujudkan dalam produk kosmetik Korea. VAIM, perusahaan estetika medis, baru-baru ini meluncurkan dua jenis pembersih dalam lini perawatan kulit Juvelook yang membedakan tujuan cuci muka pagi dan malam. Pada malam hari digunakan ‘milk cleanser’ untuk mengangkat riasan dan tabir surya, sedangkan pada pagi hari digunakan ‘gel cleanser’ untuk membersihkan sebum dan sel kulit mati yang terbentuk semalaman.

Foto=VAIM
Foto=VAIM

Milk cleanser tersebut menerapkan, antara lain, 10 jenis ceramide, sementara gel cleanser mengandung bahan pembersih berbasis asam amino serta bahan perawatan eksfoliasi yang rendah iritasi. Dalam uji aplikasi pada manusia yang dilakukan VAIM, setelah penggunaan milk cleanser, luas area kotoran di dalam pori-pori berkurang 97,15% dan base makeup berkurang 94,98%. Gel cleanser menunjukkan, setelah sekali pemakaian, luas area kotoran di dalam pori-pori dan jumlah sebum berlebih masing-masing berkurang 77,99% dan 77,16%. Dalam pengujian yang mengombinasikan kedua produk, perusahaan menyebutkan juga terkonfirmasi adanya perbaikan keseimbangan minyak-kelembapan dan pH. Hasil tersebut diperoleh dalam kondisi uji yang telah ditetapkan dan dapat berbeda pada tiap individu.

Perwakilan VAIM mengatakan, “Karena cleansing adalah awal dari perawatan kulit yang diulang setiap hari, bukan hanya seberapa bersih menghapusnya yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga beban yang tersisa pada kulit setelah cuci muka,” lalu menambahkan, “Kami membagi peran milk dan gel sesuai tujuan cuci muka yang berbeda antara pagi dan malam.”

Cuci muka sebaiknya secara lembut, bukan mengejar rasa ‘kesat’

Kunci cuci muka yang benar adalah membilas kotoran tanpa mengangkat sebum yang dibutuhkan kulit secara berlebihan. Gunakan air hangat suam-suam kuku alih-alih air panas, busakan pembersih secukupnya, lalu bersihkan dengan lembut menggunakan ujung jari. Menggosok wajah terlalu lama atau mencuci berulang kali demi merasa lebih bersih justru dapat mengiritasi kulit.

Cara mengeringkan wajah setelah cuci muka juga penting. Alih-alih menggosok wajah keras dengan handuk, gunakan handuk yang bersih dan lembut, lalu tekan ringan pada kulit agar air terserap. Jika segera setelah cuci muka kulit terasa sangat tertarik, memerah, dan perih, itu bisa menjadi tanda bahwa daya bersih terlalu kuat atau proses cuci muka memberi rangsangan berlebihan pada kulit.

×