Bolak-balik berobat karena betis kesemutan… sumbernya bukan lutut, melainkan ‘di sini’

| masukan:

Direktur RS Busanbon Ha Sang-hoon: “Kalau nyeri muncul saat berjalan tetapi reda saat duduk… dalam situasi seperti ini, periksa dulu pinggang”

[Ringkasan] Stenosis kanalis spinalis dapat lebih dulu memicu kesemutan dan nyeri bukan di pinggang, melainkan di tungkai atau betis. Sinyal kuncinya adalah ‘klaudikasio neurogenik’: saat berjalan tungkai terasa berat atau kesemutan hingga membuat penderita berhenti, lalu membaik ketika duduk dan beristirahat. Namun, sumber masalahnya ada di pinggang. Jika terapi pada tungkai berulang kali dilakukan tetapi tidak membaik, tulang belakang juga perlu diperiksa.

Kesemutan berulang di bagian belakang pinggang, bokong, atau betis, bisa menjadi petunjuk tak terduga adanya penyakit serius yang tersembunyi. Karena itu, jika keliru mencari penyebab, arah pengobatan pun dapat melenceng. Foto=ClipartKorea
Kesemutan berulang di bagian belakang pinggang, bokong, atau betis, bisa menjadi petunjuk tak terduga adanya penyakit serius yang tersembunyi. Karena itu, jika keliru mencari penyebab, arah pengobatan pun dapat melenceng. Foto=ClipartKorea

Seorang ibu rumah tangga berusia 66 tahun bermarga Kim tinggal di Saha-gu, Busan. Hampir setahun ia berobat ke klinik ortopedi karena tungkainya sakit. Ia juga menerima suntikan sebanyak tiga kali. Namun kondisinya tidak membaik. Setiap kali pulang dari supermarket, betisnya terasa tertarik seperti hendak pecah setiap malam.

Ia kemudian pergi ke rumah sakit besar dan menjalani MRI. Dari situ, penyebabnya baru terungkap. Kondisi sendi lututnya ternyata tidak seburuk yang ia kira. Masalahnya adalah ‘stenosis kanalis spinalis’ (Lumbar Spinal Stenosis·LSS) di antara ruas lumbal 3 dan 4. Artinya, jalur tempat berkas saraf melewati bagian dalam tulang belakang lumbal (kanalis spinalis‧脊椎管) menyempit (stenosis‧狹窄). Kondisi itu menekan saraf sehingga menimbulkan kesemutan dan nyeri dari pinggang, bokong, hingga tungkai.

Direktur utama Rumah Sakit Busanbon, Ha Sang-hoon, yang mendiagnosis Kim, menegaskan, “Kalau tungkai sakit, jangan hanya melihat tungkainya.” Ia mengatakan, di antara orang-orang yang berhenti berjalan karena betisnya kesemutan, cukup banyak yang ternyata sumber keluhannya ada di pinggang.

Rumah Sakit Busanbon merupakan satu-satunya rumah sakit spesialis sendi di wilayah Busan bagian barat yang membentang dari pusat kota lama Busan hingga Saha-gu~Sasang-gu~Gangseo-gu. Sejak periode ke-2 pada 2015 hingga periode ke-5 saat ini, rumah sakit ini ditetapkan secara beruntun sebagai ‘rumah sakit spesialis sendi’ oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan. Karena penetapan diperbarui setiap 3 tahun, artinya status rumah sakit spesialis itu dipertahankan selama 12 tahun berturut-turut.

Meski pinggang tidak sakit, tetap bisa terkena penyakit pinggang

Stenosis kanalis spinalis terutama disebabkan perubahan degeneratif. Umumnya muncul mulai usia 50-an. Seiring bertambahnya usia, angka kejadiannya meningkat lebih tajam.

Karena berkembang perlahan selama bertahun-tahun, tidak sedikit kasus yang gejala pada tungkai muncul lebih dulu tanpa nyeri pinggang. Saraf yang keluar dari tulang belakang lumbal melewati bokong lalu turun hingga paha, lutut, betis, sampai ujung kaki. Jika saraf lumbal tertekan, nyeri dan kesemutan dapat muncul di mana saja pada ekstremitas bawah (下肢) yang dipersarafi saraf tersebut, bukan di pinggang. Itulah sebabnya penyakit pinggang bisa menyamar menjadi penyakit tungkai.

“Karena kerusakan mikro menumpuk selama bertahun-tahun, nyeri tungkai baru benar-benar mulai terasa setelah penekanan saraf melewati titik ambang. Sampai saat itu, pinggangnya baik-baik saja. Karena itu, ketika pasien datang dengan keluhan betis kesemutan dan nyeri, mereka bertanya mengapa harus memeriksa pinggang. Namun setelah diperiksa, cukup sering ternyata penyebabnya memang ada di pinggang,” ujarnya.

Bagaimana cara mengetahui ini klaudikasio neurogenik atau bukan⋯?

Gejala tungkai kesemutan dan terasa berat saat berjalan tidak hanya muncul pada stenosis (klaudikasio neurogenik). ‘Penyakit arteri perifer’ (PAD, klaudikasio vaskular) juga bisa terasa mirip, dan ‘osteoartritis lutut’ (KOA) juga dapat menimbulkan nyeri saat berjalan. Karena itu, terapi akan sangat berbeda tergantung penyebabnya.

[Tabel] Jika tungkai sakit saat berjalan… perbedaan kunci menurut penyebab

Kategori

Klaudikasio neurogenik (stenosis kanalis spinalis)

Klaudikasio vaskular (penyakit arteri perifer)

Artritis sendi lutut

Lokasi nyeri utama

Bokong·paha·betis

Betis·kaki

Area sendi lutut

Kondisi yang memperburuk gejala

Berjalan, berdiri dengan pinggang tegak

Aktivitas fisik (berjalan·naik tangga)

Naik tangga, jongkok

Kondisi yang meredakan gejala

Membungkuk ke depan, duduk

Cukup berhenti, tetap berdiri pun boleh

Saat istirahat

Cara pulih

Harus duduk agar mereda (tidak membaik bila tetap berdiri)

Pulih dalam hitungan menit meski tetap berdiri

Mereda perlahan saat istirahat

Nyeri malam hari

Jarang

Saat berbaring, kaki lebih nyeri

Sering bila derajat sedang ke atas

Pemeriksaan dasar

MRI tulang belakang

USG pembuluh darah, ABI

Rontgen (derajat K-L)

Ha Sang-hoon mengatakan, ada empat hal utama yang ia periksa saat membedakan stenosis dari penyebab lain, yakni apakah saat berjalan tungkai terasa berat atau kesemutan hingga membuat berhenti, apakah setelah duduk dan beristirahat sekitar 5~10 menit bisa berjalan lagi, apakah gejala berkurang saat mendorong troli belanja atau membungkuk ke depan, dan apakah nyeri turun dari bagian belakang bokong ke arah betis.

Poin ketiga juga disebut ‘tanda troli belanja’. Pola stenosis yang khas adalah: “Saat mendorong troli di supermarket masih bisa berjalan, tetapi ketika berjalan biasa dengan pinggang tegak, tungkai cepat sekali sakit.” Sebaliknya, pada klaudikasio vaskular, gejala cepat membaik hanya dengan berhenti, bahkan hanya dengan tetap berdiri.

Poin keempat—“apakah nyeri turun dari bagian belakang bokong ke arah betis”—juga penting. Jika nyeri turun dari belakang bokong, kemungkinan stenosis lebih besar. Jika nyeri mengikuti lipat paha dan turun ke bagian depan, kemungkinan besar itu osteoartritis sendi panggul (hip OA).

Seberapa jauh harus percaya pada klaim “cukup satu suntikan pasti sembuh”?

Stenosis kanalis spinalis biasanya ditangani dengan terapi nonoperatif terlebih dahulu. Urutannya adalah mencoba obat, fisioterapi, dan suntikan saraf secara memadai. Jika dengan itu nyeri terkontrol dan kemampuan berjalan tetap terjaga, tidak perlu terburu-buru operasi. Namun ada hal yang perlu diwaspadai.

“Terapi nonoperatif jelas diperlukan, dan pada banyak pasien juga efektif. Namun, bila saraf tertekan berat secara struktural, tindakan hanya bisa berakhir sebagai pereda nyeri sementara. Mengulang tindakan tanpa menyelesaikan penyebabnya pada akhirnya tidak menguntungkan pasien,” katanya.

Karena itu, saat mempertimbangkan operasi pun, ia terlebih dahulu melihat empat hal, yakni apakah kesemutan dan nyeri tungkai tetap berlanjut meski sudah menjalani terapi nonoperatif yang memadai, apakah jarak berjalan yang memungkinkan makin pendek, apakah mulai muncul gangguan berkemih·buang air besar, dan apakah penurunan kekuatan otot seperti kaki terkulai (foot drop) ikut berkembang. Jika salah satu saja terpenuhi, terapi nonoperatif saja tidak cukup.

Namun, bahkan ketika operasi dinilai perlu, pendekatan Dr Ha sedikit lebih teliti. Ia tidak berhenti pada masalah yang tampak di depan mata. Ia juga memeriksa apakah ada risiko atau penyebab lain. Ia mengatakan, “Saya menjalani operasi sambil memeriksa sedikit lebih jauh agar gejala yang sama tidak muncul lagi dalam 1~2 tahun di area yang berdekatan dengan lokasi lesi.”

Direktur utama Ha Sang-hoon (kiri) dan tim bedah sedang mengoperasi pasien stenosis kanalis spinalis. Foto=Rumah Sakit Busan Besar
Direktur utama Ha Sang-hoon (kiri) dan tim bedah sedang mengoperasi pasien stenosis kanalis spinalis. Foto=Rumah Sakit Busan Besar

Ia meyakini langkah itu lebih menguntungkan pasien. Dengan menilai secara mendalam bukan hanya area yang sakit saat ini, tetapi juga perubahan di sekitarnya, pasien dapat menggunakan pinggangnya dengan lebih nyaman tanpa harus menderita. Selain itu, ketidaknyamanan karena harus menjalani operasi sekali lagi dengan alasan serupa juga bisa dicegah.

Rumah Sakit Busanbon mengoperasikan dua unit MRI 3.0T secara bersamaan. Lingkungan ini menguntungkan untuk membedakan penyebab dengan melakukan pencitraan detail tulang belakang, lutut, dan sendi panggul pada hari yang sama. Tujuannya juga untuk memahami temuan pencitraan dan perjalanan klinis secara komprehensif.

Meski stenosis, Anda tidak harus menyerah untuk berjalan

Ada satu kalimat yang selalu Ha Sang-hoon sampaikan kepada pasien di ruang praktik. “Berjalan adalah obat terbaik.”

Pasien stenosis merasa sakit saat berjalan. Ucapannya tentang “obat” terdengar tidak nyambung. Namun ada alasan yang jelas. Jika otot di sekitar tulang belakang menguat, tekanan pada kanalis saraf berkurang. Jika otot inti (core) menjadi lebih kuat, pemulihan pascaoperasi juga lebih cepat. Bahkan berjalan secara intermiten membantu memasok aliran darah dan oksigen ke saraf serta mendukung lingkungan regenerasi.

Namun, bagi pasien stenosis, cara berjalan harus berbeda. Beristirahatlah lebih dulu sebelum nyeri mulai. Jika nyeri muncul setelah berjalan 300 m, maka yang tepat adalah berhenti di 250 m. Postur seperti mendorong troli belanja dengan pinggang sedikit condong ke depan juga membantu. Alih-alih berjalan lama sekaligus, cara yang cocok bagi pasien stenosis adalah membaginya menjadi 20~30 menit dan meningkatkannya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, ini bukan soal menyalahkan lutut semata ketika lutut terasa sakit. Jika pola “semakin berjalan tungkai makin berat lalu membaik saat duduk” berulang, itu mungkin bukan sinyal dari lutut, melainkan sinyal dari pinggang.

[FAQ] Pertanyaan yang paling sering diajukan pasien

Apakah mungkin terkena stenosis kanalis spinalis meski pinggang tidak sakit?

Ya. Karena stenosis berkembang perlahan selama bertahun-tahun, dalam banyak kasus nyeri·kesemutan tungkai muncul lebih dulu daripada nyeri pinggang. Jika “pinggang baik-baik saja tetapi hanya lutut dan betis yang sakit”, Anda dapat mencurigai stenosis kanalis spinalis.

Bagaimana membedakannya dari nyeri lutut biasa?

Jika ada pola berhenti karena tungkai kesemutan atau terasa berat pada jarak tertentu saat berjalan, lalu bisa berjalan lagi setelah duduk dan beristirahat, kami mencurigai klaudikasio neurogenik, yakni stenosis kanalis spinalis. Sebaliknya, osteoartritis lutut menimbulkan nyeri yang terfokus pada area lutut terutama saat naik-turun tangga atau jongkok. Jika gejala tungkai membaik saat membungkuk ke depan, itu lebih dekat ke stenosis.

Untuk stenosis, sampai kapan bisa bertahan dengan terapi nonoperatif?

Jika nyeri terkontrol dan aktivitas harian tetap terjaga, terapi nonoperatif dicoba secara memadai. Namun, bila muncul gangguan berkemih·buang air besar atau gejala kelumpuhan saraf seperti kaki terkulai, diperlukan evaluasi operasi segera. “Terus-menerus menerima suntikan demi bertahan” dan “mempertahankan aktivitas harian dengan terapi nonoperatif” jelas berbeda. Di lapangan klinis, pada kelompok usia lanjut, tidak sedikit yang meski sudah didiagnosis stenosis, takut operasi sehingga hanya mengulang terapi lutut.

Jika lutut sakit, apakah harus menghindari olahraga jalan kaki?

Tidak. Jika Anda menyerah berjalan, otot di sekitar pinggang bisa makin melemah sehingga gejala memburuk. Meski sakit, Anda perlu berjalan sedikit demi sedikit. Namun, beristirahatlah lebih dulu sebelum nyeri mulai, berjalan dengan postur sedikit membungkuk ke depan, dan lakukan jalan kaki singkat tetapi sering—cara ini cocok bagi pasien stenosis.

Jika saya pergi ke klinik ortopedi karena lutut sakit, apakah pinggang juga bisa diperiksa sekaligus?

Bisa, di klinik ortopedi yang menangani penyakit sendi dan tulang belakang. Di rumah sakit spesialis, pemeriksaannya tentu bisa lebih mendalam. Jika selain nyeri lutut Anda juga mengalami betis kesemutan atau tungkai terasa berat saat berjalan, sebaiknya sampaikan sejak kunjungan pertama.

Narasumber=Direktur utama Rumah Sakit Busanbon, Ha Sang-hoon (ortopedi). Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Inje dan menjalani pendidikan di Rumah Sakit Baek Inje Busan. Bergelar doktor kedokteran. Ia menangani penyakit tulang belakang dan sendi sekaligus. Secara khusus, ia mengkhususkan diri pada operasi penyakit tulang belakang degeneratif, termasuk stenosis kanalis spinalis. Ia telah lama aktif sebagai anggota penuh Korean Society of Spine Surgery dan AO Spine International.

Direktur utama Ha Sang-hoon. Foto=Rumah Sakit Busan Besar
Direktur utama Ha Sang-hoon. Foto=Rumah Sakit Busan Besar

×