
Lemak dapat menumpuk di hati dan memicu peradangan meski seseorang sama sekali tidak mengonsumsi alkohol. Kondisi itu dikenal sebagai steatohepatitis berlemak terkait disfungsi metabolik (MASH).
Penyakit hati ini muncul ketika metabolisme memburuk, seperti pada obesitas dan diabetes. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi fibrosis—penumpukan jaringan keras seperti parut di hati—hingga berujung pada sirosis atau kanker hati.
Jumlah pasien di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta orang, tetapi obat yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) baru dua. Perusahaan-perusahaan Korea pun mempercepat langkah untuk merebut peluang pasar tersebut.
Obat baru dua, pasien ratusan juta
Perusahaan riset pasar asal India, DataM Intelligence, memperkirakan pasar obat MASH pada 2024 mencapai sekitar 7,9 miliar dolar AS (sekitar 11 triliun won) dan tumbuh lebih dari 17% per tahun.
Untuk terapi yang sudah mengantongi persetujuan FDA, Rezdiffra dari Madrigal lebih dulu masuk pasar pada Maret 2024. Berikutnya, Wegovy dari Novo Nordisk memperluas indikasi untuk MASH pada Agustus 2025, sehingga totalnya menjadi dua. Pasiennya banyak, tetapi pilihan obat yang tersedia masih terbatas.
D&D Pharmatech, angkanya melampaui obat pesaing
Di Korea, sorotan terbesar mengarah ke D&D Pharmatech. Perusahaan bio yang tercatat di KOSDAQ ini didirikan pada 2014 oleh CEO Lee Seul-gi, mantan profesor madya di Fakultas Kedokteran Johns Hopkins, dan berfokus pada pengembangan obat baru kelas GLP-1.
DD01 milik perusahaan ini secara bersamaan menstimulasi GLP-1 yang mengatur gula darah dan berat badan, serta reseptor glukagon yang membakar lemak di hati. Dengan menargetkan dua jalur sekaligus, pendekatan ini ditujukan untuk meningkatkan efek penurunan lemak hati.
Hasil yang dipublikasikan bulan lalu pada European Association for the Study of the Liver (EASL 2026) menarik perhatian. Data tersebut berasal dari uji klinis fase 2 selama 48 minggu, dengan konfirmasi melalui pengambilan langsung jaringan hati.
Dibandingkan pasien yang menerima obat palsu, tingkat resolusi steatohepatitis berlemak lebih tinggi 57,2%p, sementara tingkat perbaikan fibrosis hati lebih tinggi 34,2%p. Proporsi pasien yang mencapai kedua indikator secara bersamaan juga unggul 32,2%p. Laporan Shinhan Investment Corp. menilai efektivitasnya berada pada level tertinggi di antara seluruh kandidat obat MASH dalam kelas yang sama.
Karena kelompok pasien, durasi, dan kriteria penilaian tiap uji klinis berbeda, perbandingan langsung tidak mudah. Namun, jika merujuk pada hasil yang telah dipublikasikan, angkanya berada di atas obat pesaing utama.
Peningkatan resolusi steatohepatitis berlemak lebih tinggi dibanding survodutide dari Boehringer Ingelheim (47,7%), Zepbound dari Eli Lilly (53,0%), Wegovy dari Novo Nordisk (28,6%), dan Rezdiffra dari Madrigal (20,2%). Namun, jumlah pasien yang ikut uji klinis hanya 67 orang.
Kuncinya adalah apakah hasil yang sama dapat direplikasi pada uji fase 3 berskala besar.
Hanmi, Yuhan, dan Dong-A juga ikut antre
Efinofpegdutide dari Hanmi Pharmaceutical juga bekerja dengan mekanisme yang sama seperti DD01. Teknologinya sempat dialihlisensikan ke Janssen pada 2015, lalu dikembalikan, sebelum arah pengembangan diubah menjadi terapi MASH dan kembali dialihkan ke Merck (MSD) di Amerika Serikat pada 2020. Hasil akhir uji klinis fase 2 dijadwalkan keluar pada paruh kedua tahun ini. Kalangan sekuritas menilai nilai teknologinya lebih dari 1 triliun won. Kandidat ini juga ditetapkan sebagai target peninjauan prioritas FDA.
Yuhan memperoleh persetujuan uji klinis fase 1 di Korea untuk YH25724, yang dilaporkan memiliki efek penurunan lemak hati sebesar 46%. Ini adalah obat kerja panjang dengan pemberian sekali seminggu, dan Presiden Direktur R&D Kim Yeol-hong menyebutnya sebagai pipeline andalan berikutnya.
Dong-A ST mengembangkan banoglifel (DA-1241) melalui afiliasi di Amerika Serikat, Metavia, sementara SK Chemicals menggandeng J2H Biotech.
Nama-nama baru mulai mengantre di pasar yang selama ini hanya memiliki dua obat. Seiring akumulasi hasil uji klinis, negosiasi alih teknologi global juga diperkirakan akan bergerak lebih cepat.
