Asosiasi Jantung Amerika merilis pedoman gizi yang berbeda dari Kementerian Kesehatan—mengapa?

| masukan:

Kementerian Kesehatan menganjurkan daging merah dan lemak hewani 〈br/〉Asosiasi Jantung merekomendasikan makanan nabati·daging tanpa lemak·rendah lemak 〈br/〉Kementerian Kesehatan: lemak jenuh juga OK asalkan bukan makanan ultra-olahan 〈br/〉Asosiasi Jantung menyoroti risiko penyakit kardiovaskular akibat lemak jenuh 〈br/〉Menekankan asupan lemak tak jenuh seperti minyak nabati 〈br/〉Melawan kebijakan berbasis keyakinan pribadi Menteri Kennedy yang tidak ilmiah 〈br/〉Organisasi berusia 100 tahun menjaga kompas ilmiah

Gambar pedoman gizi Asosiasi Jantung Amerika yang menekankan: makan cukup sayur dan buah, memilih protein sehat serta biji-bijian utuh, memilih minyak tak jenuh, serta meminimalkan gula·garam·makanan ultra-olahan·alkohol. Foto=Asosiasi Jantung Amerika
Gambar pedoman gizi Asosiasi Jantung Amerika yang menekankan: makan cukup sayur dan buah, memilih protein sehat serta biji-bijian utuh, memilih minyak tak jenuh, serta meminimalkan gula·garam·makanan ultra-olahan·alkohol. Foto=Asosiasi Jantung Amerika

‘Untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular, tingkatkan asupan protein nabati dan gantikan lemak jenuh hewani dengan lemak tak jenuh nabati.’

Itulah inti dari ‘Pedoman Gizi (Nutrition Guideline)’ 2026 yang diumumkan Asosiasi Jantung Amerika (AHA) pada 31 Maret (waktu setempat). AHA adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada 1924 untuk mengurangi kematian dan disabilitas akibat penyakit kardiovaskular dan stroke, dan sejak 1961 telah menerbitkan ‘Pedoman Gizi’ kira-kira setiap 5 tahun demi meningkatkan kesehatan kardiovaskular. AHA merupakan organisasi swasta terkait kardiovaskular yang tertua dan terbesar di Amerika Serikat, dengan kegiatan seperti mendukung riset medis terkait, memberikan edukasi kebiasaan sehat, serta menetapkan standar seperti resusitasi jantung paru (RJP).

Asosiasi Jantung merekomendasikan protein nabati, daging tanpa lemak, dan produk susu rendah lemak

Dalam pedoman gizi kali ini, AHA merekomendasikan pola makan yang kaya sayuran, buah, dan biji-bijian utuh. Selain itu, AHA menganjurkan agar asupan protein nabati seperti kacang-kacangan, kacang pohon, dan biji-bijian diprioritaskan dibanding daging. Untuk produk susu, AHA menyarankan agar produk full-fat sebisa mungkin diganti dengan produk rendah lemak atau tanpa lemak. AHA juga menasihati agar saat mengonsumsi daging merah, pilih bagian yang lebih sedikit lemak, dan hindari daging olahan atau konsumsi dalam jumlah kecil. Bersamaan dengan itu, AHA menganjurkan pembatasan asupan gula, garam, dan makanan olahan.

Pedoman pola makan pemerintah federal pada Januari justru menganjurkan konsumsi daging merah dan lemak hewani

Masalahnya, pedoman gizi AHA sebagian bertentangan dengan ‘Pedoman Pola Makan untuk Warga Amerika 2025–2030 (DGA: Dietary Guidelines for Americans)’ yang diumumkan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) dan Departemen Pertanian AS (USDA) pada 7 Januari lalu. DGA mendapat penilaian tinggi karena merekomendasikan pengurangan makanan yang sangat diproses serta mendorong pola makan berfokus pada protein yang tidak diproses, sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan produk susu. Respons positif juga muncul karena DGA secara resmi mencantumkan anjuran mengonsumsi makanan fermentasi untuk kesehatan usus, seperti kimchi, sauerkraut (kubis fermentasi dari Jerman dan Eropa Tengah/Timur), serta kefir (susu fermentasi yang berasal dari kawasan Kaukasus).

Namun, DGA memicu kontroversi karena sambil menekankan konsumsi ‘makanan asli (Real Food)’ yang bergizi tinggi, pedoman tersebut juga menganjurkan konsumsi daging merah seperti sapi dan babi, serta produk susu full-fat dan lemak hewani seperti mentega. Bagian ini dikritik karena berbeda dari pemahaman gizi yang selama ini umum. Sebab, hasil riset ilmiah menekankan bahwa demi kesehatan, konsumsi daging merah, produk susu full-fat, dan lemak hewani perlu dibatasi.

Sebagian pihak menilai pedoman pola makan Januari lalu dipengaruhi oleh ‘Make America Healthy Again (MAHA)’, program reformasi kesehatan dan pangan yang sedang didorong oleh Menteri HHS Robert F. Kennedy Jr. dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. MAHA selama ini dikritik karena banyak mencerminkan keyakinan pribadi Menteri Kennedy sehingga dinilai kurang memiliki dasar ilmiah.

Pedoman gizi Asosiasi Jantung berhadapan langsung dengan pedoman pola makan pemerintah federal

Pedoman gizi AHA jelas berbeda dari pedoman pola makan pemerintah federal tepat pada titik ini. Pedoman federal menganjurkan konsumsi daging merah seperti sapi dan babi, produk susu full-fat, serta lemak hewani seperti mentega. Namun AHA secara tegas menentang bagian tersebut. Alasannya, lemak hewani ini mengandung banyak lemak jenuh yang tidak baik bagi pembuluh darah jantung. Karena itu, AHA menganjurkan agar lemak hewani diganti dengan lemak nabati yang kaya lemak tak jenuh.

Pemerintah federal menekankan makanan minim proses meski mengandung lemak jenuh, sedangkan AHA menekankan lemak tak jenuh

2) Gambar minyak nabati, kacang-kacangan, dan ikan berlemak (ikan biru) yang kaya lemak tak jenuh dan membantu pencegahan penyakit kardiovaskular. Foto=Getty Images Bank
2) Gambar minyak nabati, kacang-kacangan, dan ikan berlemak (ikan biru) yang kaya lemak tak jenuh dan membantu pencegahan penyakit kardiovaskular. Foto=Getty Images Bank

Pada akhirnya, jika pedoman pola makan pemerintah federal lebih menitikberatkan konsumsi makanan minim proses yang mencakup lemak jenuh, maka AHA menekankan asupan lemak tak jenuh. Namun secara biokimia, dampak lemak jenuh dan lemak tak jenuh terhadap tubuh manusia saling berlawanan.

Lemak jenuh merujuk pada lemak yang berwujud padat pada suhu ruang. Lemak ini banyak terdapat pada lemak daging, mentega sebagai produk susu, serta minyak sawit (palm oil). Minyak sawit hampir merupakan satu-satunya minyak nabati yang padat pada suhu ruang. Lemak jenuh menghambat pemecahan kolesterol LDL (Low-density Lipoprotein: lipoprotein densitas rendah) di hati, sehingga menjadi penyebab utama meningkatnya kadar kolesterol LDL dalam darah. LDL yang disebut sebagai ‘kolesterol jahat’ relatif ringan sehingga mudah mengendap dan menumpuk pada dinding pembuluh darah. Akibatnya, dinding pembuluh menyempit dan dapat berujung pada penyakit kardiovaskular seperti aterosklerosis dan infark miokard.

Lemak tak jenuh adalah lemak yang berwujud cair pada suhu ruang. Lemak ini melimpah pada minyak nabati seperti minyak zaitun dan minyak alpukat, kacang-kacangan, serta ikan berlemak (ikan biru). Lemak tak jenuh menurunkan kadar LDL yang merupakan ‘kolesterol jahat’ dan meningkatkan kadar HDL (High-density Lipoprotein: lipoprotein densitas tinggi) yang merupakan ‘kolesterol baik’. HDL yang relatif lebih berat membantu membersihkan LDL yang menempel pada dinding pembuluh darah serta menyerap dan membuang sisa-sisa limbah dalam darah, sehingga membantu pencegahan penyakit kardiovaskular. Karena AHA berfokus pada pencegahan penyakit kardiovaskular, wajar bila AHA menitikberatkan asupan lemak tak jenuh yang memiliki manfaat pencegahan seperti ini.

Dengan adanya pedoman pola makan dan gizi yang berbeda antara HHS sebagai pemerintah federal dan AHA, konsumen bisa merasa bingung. Namun, jika melihat bukti ilmiah terkait lemak jenuh dan lemak tak jenuh, jawabannya menjadi jelas. Sebagai organisasi nirlaba swasta, AHA pada dasarnya membantu menjaga arah dari sudut pandang ilmiah murni. Pada organisasi sains dan kedokteran berusia 100 tahun, pengaruh politik seperti MAHA tidak mempan.

×