
Syal dan sarung tangan adalah perlengkapan pemanas yang tidak bisa dilewatkan di musim dingin. Terutama saat suhu terasa mencapai -20 derajat, baik orang dewasa maupun anak-anak harus memperhatikan kehangatan. Namun, jika syal dan sarung tangan tidak dicuci dengan benar, berbagai bakteri dan debu dapat terpapar pada kulit dan membahayakan kesehatan.
Syal mudah terkontaminasi oleh keringat dan bahan kosmetik di leher
Leher dan tangan adalah bagian yang langsung bersentuhan dengan lingkungan luar. Oleh karena itu, syal dan sarung tangan pasti akan terkontaminasi. Syal dan sarung tangan umumnya terbuat dari bahan wol atau kain wol. Meskipun bahan ini baik untuk menjaga kehangatan, debu dan tungau mudah menempel, dan keringat juga mudah meresap. Sel-sel kulit mati yang terlepas juga memungkinkan bakteri berkembang biak.
Terutama sarung tangan, tidak bisa dihindari untuk terpapar berbagai sumber kontaminasi dalam kehidupan sehari-hari. Saat menggunakan transportasi umum, memegang pegangan tangan atau membuka dan menutup pintu, bakteri akan menempel pada sarung tangan. Hal yang sama berlaku saat membawa tas belanja atau menggunakan ponsel. Jika mengenakan sarung tangan tanpa mencuci tangan, bagian dalam sarung tangan juga akan terkontaminasi.
Syal mungkin terlihat bersih, tetapi jika dilihat dengan mikroskop, kemungkinan besar dipenuhi bakteri dan virus. Syal dapat terkontaminasi oleh kelembapan dan air liur yang keluar saat bernapas. Lingkungan yang hangat dan lembap ini adalah tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak. Keringat, sel-sel kulit mati, dan kosmetik di leher juga menyebabkan kontaminasi.
Sarung tangan memiliki 4 kali lebih banyak bakteri dibandingkan toilet
Jika melewatkan siklus pencucian karena alasan sibuk atau malas, risiko terkena jerawat, dermatitis, atopi, dan asma akan meningkat. Berbeda dengan pakaian dalam atau kaus kaki yang diganti setiap hari, syal dan sarung tangan sering kali tidak dicuci hingga akhir musim dingin.

Faktanya, ada penelitian yang menunjukkan bahwa sarung tangan memiliki 4 kali lebih banyak bakteri dibandingkan toilet. Sebuah perusahaan pembersihan dan fasilitas toilet di Inggris menganalisis tingkat kontaminasi bakteri pada 50 pasang sarung tangan. Hasilnya, lebih dari setengah sarung tangan menunjukkan tingkat kontaminasi tinggi di atas 500 RLU (Relative Light Units). Beberapa sarung tangan bahkan melebihi 4000 RLU. Ini lebih tinggi daripada rata-rata tingkat kontaminasi pada dudukan toilet yang sebesar 220 RLU. RLU adalah indikator yang menunjukkan tingkat kontaminasi, semakin besar angkanya, semakin tinggi tingkat kontaminasi.
Berapa siklus pencucian syal dan sarung tangan?
Untuk menjaga syal dan sarung tangan tetap bersih, sebaiknya setelah keluar rumah, debu harus dihilangkan dengan baik. Sebaiknya dicuci setidaknya sekali seminggu. Jika mencuci setelah musim dingin berakhir, itu sudah terlambat. Syal rajut dapat dicuci dengan sampo dan kondisioner, sedangkan bahan alami seperti wol dapat dicuci dengan deterjen netral.
Larutkan deterjen yang sesuai dalam air hangat dan rendam selama 20-30 menit, lalu cuci dengan lembut menggunakan tangan. Saat membilas, menambahkan beberapa tetes cuka atau jus lemon dapat mencegah pertumbuhan mikroba. Saat mengeringkan, sebaiknya jangan memeras syal dengan memutar, tetapi tekan dengan handuk kering untuk menghilangkan kelembapan, lalu jemur di rak pengering atau di lantai.
