Meski golongan darah berbeda, berhasil lakukan 167 transplantasi… 30 tahun kiprah rumah sakit sekunder komprehensif di Busan, bukan Seoul

| masukan:

Bongsaeng Memorial Hospital membukukan total 1.452 transplantasi ginjal; angka kelangsungan hidup pasien 10 tahun 95,3%

Seorang pasien gagal ginjal stadium akhir mendapat tawaran dari keluarga untuk mendonorkan ginjal. Namun, golongan darahnya berbeda. Haruskah transplantasi dibatalkan? Atau harus pergi ke rumah sakit besar di Seoul untuk menjalani operasi?

Meski golongan darah berbeda, sebagian pasien tetap bisa menjalani transplantasi ginjal. Prosedur ini dikenal sebagai ‘transplantasi ginjal inkompatibel golongan darah ABO’. Tindakan dilakukan setelah antibodi dalam tubuh pasien diturunkan dan respons imun dikendalikan.

Cara terbaik untuk menangani gagal ginjal kronis adalah menerima transplantasi ginjal yang sehat. Namun, sekalipun sudah susah payah menemukan pendonor ginjal, perbedaan golongan darah kembali menjadi rintangan lain. Ini adalah operasi yang sangat sulit. Foto=Clipart Korea
Cara terbaik untuk menangani gagal ginjal kronis adalah menerima transplantasi ginjal yang sehat. Namun, sekalipun sudah susah payah menemukan pendonor ginjal, perbedaan golongan darah kembali menjadi rintangan lain. Ini adalah operasi yang sangat sulit. Foto=Clipart Korea

Bongsaeng Memorial Hospital di Busan mencatat 167 kasus transplantasi ginjal inkompatibel golongan darah per 30 Juni 2026. Capaian ini menjadi yang terbanyak di wilayah Busan-Ulsan-Gyeongnam. Meski berstatus ‘rumah sakit umum sekunder komprehensif’, jumlahnya melampaui banyak rumah sakit rujukan tingkat atas maupun rumah sakit universitas.

Transplantasi ginjal inkompatibel golongan darah⋯mengapa disebut ‘operasi berisiko tinggi’?

Transplantasi inkompatibel golongan darah bukan sekadar urusan melepas dan memasang ginjal. Antibodi pasien dapat menyerang ginjal yang ditransplantasikan. Karena itu, sebelum operasi kadar antibodi harus diturunkan, dan setelah operasi penolakan serta infeksi harus dipantau secara bersamaan.

Divisi nefrologi, tim bedah, anestesiologi, kedokteran laboratorium, dan unit dialisis harus bergerak dalam jadwal yang sama. Jika obat imunosupresan digunakan terlalu sedikit, risiko penolakan meningkat; jika berlebihan, pasien menjadi rentan terhadap infeksi.

Di titik inilah 167 kasus di Bongsaeng Memorial Hospital menjadi istimewa. Angka itu bukan hanya menunjukkan banyaknya operasi berisiko tinggi, tetapi juga menandakan bahwa rumah sakit tersebut berulang kali menjalankan rangkaian proses yang kompleks—mulai dari seleksi pasien, persiapan praoperasi, hingga manajemen imun pascaoperasi.

Pengalaman transplantasi dari donor hidup maupun donor mati batang otak juga sama kuatnya. Sejak operasi pertama pada 1995, total kumulatif mencapai 1.452 kasus (per 30 Juni 2026). Dari jumlah itu, transplantasi dari donor hidup 1.126 kasus dan dari donor mati batang otak 326 kasus. Transplantasi inkompatibel golongan darah termasuk dalam transplantasi donor hidup.

Direktur kehormatan Bongsaeng Memorial Hospital, Kim Jung-kyung (nefrologi), mengatakan, “Transplantasi ginjal bukan bidang yang bisa berhasil hanya karena seorang dokter melakukan operasinya dengan baik.” Ia menekankan, layanan ini berbasis tim dan menuntut nefrologi, tim bedah transplantasi, unit dialisis, laboratorium, serta koordinator bekerja selaras dalam jangka panjang.

Tim transplantasi ginjal Bongsaeng Memorial Hospital memegang capaian terbanyak di wilayah Busan-Ulsan-Gyeongnam dalam bidang transplantasi ginjal. Hal yang sama berlaku untuk transplantasi ginjal inkompatibel golongan darah ABO. Foto=Bongsaeng Memorial Hospital
Tim transplantasi ginjal Bongsaeng Memorial Hospital memegang capaian terbanyak di wilayah Busan-Ulsan-Gyeongnam dalam bidang transplantasi ginjal. Hal yang sama berlaku untuk transplantasi ginjal inkompatibel golongan darah ABO. Foto=Bongsaeng Memorial Hospital

Selain itu, menjaga tim transplantasi ginjal tetap stabil dalam jangka panjang juga bukan perkara mudah. Bukan hanya keterampilan operasi, tetapi juga evaluasi penerima dan pendonor, terapi imunosupresif, pengendalian infeksi, dialisis darurat, serta tindak lanjut jangka panjang harus berjalan beriringan. Rentang waktu yang panjang tanpa sering berganti tenaga medis—sambil berbagi standar dan pengalaman yang sama—juga menjadi aset penting. Inilah alasan transplantasi ginjal disebut sebagai terapi berisiko tinggi, bukan sekadar operasi.

Jumlah operasi bukan segalanya⋯hasil kelangsungan hidup 10 tahun juga harus dilihat

Transplantasi ginjal tidak berakhir di ruang operasi. Pasien transplantasi harus rutin mengonsumsi obat imunosupresan. Jika demam, volume urine menurun, atau tubuh membengkak, perlu dipastikan apakah ada penolakan atau infeksi. Pengelolaan berkelanjutan terhadap penyakit kronis yang memicu gagal ginjal—seperti diabetes dan hipertensi—juga tentu harus menyertai.

Tingkat kelangsungan hidup pasien pascaoperasi serta lamanya ginjal hasil transplantasi tetap berfungsi juga mencerminkan kualitas tindak lanjut yang dilakukan secara saksama.

Data tindak lanjut pasien yang menjalani operasi transplantasi di Bongsaeng Memorial Hospital selama 30 tahun dari 1995 hingga 2025 menunjukkan angka kelangsungan hidup pasien 98,5% pada 1 tahun, 97,0% pada 5 tahun, dan 95,3% pada 10 tahun. Lebih dari 95% pasien bertahan hidup selama 10 tahun setelah operasi. Angka kelangsungan hidup pasien 20 tahun juga mencapai 86,6%.

Data lain yang mendukung tingginya angka kelangsungan hidup di Bongsaeng Memorial Hospital adalah angka kelangsungan hidup ginjal transplantasi. Ini berarti persentase ginjal yang ditransplantasikan tetap berfungsi tanpa dialisis. Di Bongsaeng, angkanya 97,6% pada 1 tahun, 92,6% pada 5 tahun, dan 84,2% pada 10 tahun. Seiring waktu, meski ginjal transplantasi kehilangan fungsi, pasien masih dapat kembali menjalani dialisis. Karena itu, angkanya umumnya lebih rendah daripada angka kelangsungan hidup pasien.

Mengapa komunikasi terus berlanjut bahkan setelah operasi?

Terkadang muncul pertanyaan mendadak terkait konsumsi obat dan hasil pemeriksaan. Pada saat seperti itu, siapa yang bisa dihubungi pasien menjadi sangat penting.

Bongsaeng Memorial Hospital akan menghubungi pasien melalui telepon atau mengirim pesan teks jika hasil pemeriksaan dan penyesuaian obat diperlukan. Bahkan bila pasien yang tinggal di daerah lain mengalami masalah, rumah sakit mengarahkan agar pasien terlebih dahulu menghubungi koordinator. Koordinator kemudian memberi panduan sesuai kondisi pasien: apakah cukup dipantau di rumah, perlu penyesuaian obat, atau harus datang ke rumah sakit.

Kim, direktur kehormatan, mengatakan, “Pasien transplantasi harus bisa segera menghubungi dan mendapatkan jawaban ketika muncul masalah,” seraya menambahkan, “karena itu kami berupaya menjaga keterhubungan pasien dan rumah sakit secara real time dan erat.” Memberi tahu hasil pemeriksaan saat itu juga lewat telepon atau pesan teks, serta menghubungkan pasien dan tenaga medis secara luring melalui koordinator, dinilai lebih ramah bagi pasien lansia.

[FAQ] Transplantasi ginjal inkompatibel golongan darah: hal yang sering ditanyakan

Jika golongan darah berbeda, apakah tidak bisa menjalani transplantasi ginjal?

Sebagian pasien bisa. Perlu evaluasi kadar antibodi serta kondisi pasien dan pendonor, dan diperlukan tambahan terapi untuk menurunkan antibodi sebelum operasi.

Apakah transplantasi ginjal harus dilakukan di rumah sakit universitas?

Tidak selalu. Pengalaman transplantasi yang nyata, kolaborasi multidisiplin, kesiapan dialisis dan respons gawat darurat, serta sistem tindak lanjut jangka panjang pascatransplantasi perlu diperiksa bersama. Ada fasilitas ‘sekunder komprehensif’ yang memiliki keahlian dan kapasitas setara atau melampaui rumah sakit universitas.

Jika sudah menjalani transplantasi ginjal, apakah pengobatan selesai?

Tidak. Pasien harus terus mengonsumsi obat imunosupresan dan memantau secara konsisten penolakan dan infeksi, efek samping obat, serta fungsi ginjal transplantasi. Tindak lanjut seperti itu diperlukan untuk meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien dan ginjal transplantasi.

Narasumber=Bongsaeng Memorial Hospital Direktur Kehormatan Kim Jung-kyung (nefrologi). Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Yonsei University kampus Wonju dan menyelesaikan program clinical fellow di Pusat Transplantasi Ginjal University of Colorado Hospital di Amerika Serikat. Ia aktif di Korean Society of Nephrology, Korean Society for Transplantation, dan American Society of Nephrology, serta telah membangun kasus-kasus transplantasi ginjal yang menonjol di wilayah Busan-Ulsan-Gyeongnam. Bersama dokter lain, ia ikut menulis ‘Panduan Praktik Klinis Transplantasi Ginjal’ dan ‘Kidney Transplantation in Sensitized Patients’, serta menerbitkan sendiri panduan transplantasi ginjal untuk pasien berjudul ‘Hidup dengan Ginjal Baru’.

Direktur Kehormatan Kim Jung-kyung. Foto=Bongsaeng Memorial Hospital
Direktur Kehormatan Kim Jung-kyung. Foto=Bongsaeng Memorial Hospital
×