
Pada 2026, Korea Selatan memasuki era “masyarakat supermenua”. Satu dari setiap lima penduduk berusia 65 tahun ke atas. Salah satu kekhawatiran terbesar kelompok lansia adalah masalah kesehatan.
Selain penyakit kronis yang sudah dimiliki seperti diabetes dan hipertensi, belakangan ini “sarkopenia” menjadi topik utama. Saat ini, 1 dari 10 orang berusia 65 tahun ke atas mengalami sarkopenia, dan pada usia 80 tahun ke atas angkanya mencapai 1 dari 4 orang [1, 2].
Mengapa saat menua, otot sulit terbentuk meski sudah berolahraga?
Massa otot relatif terjaga hingga usia 40-an. Namun setelah memasuki usia 50-an, otot berkurang 1~2% setiap tahun. Saat memasuki usia 80-an, penurunannya mencapai 30~40% dibanding puncak masa muda [3].
Pada usia lanjut, kehilangan otot terutama tampak pada otot tubuh bagian bawah. Gangguan berjalan akibat kondisi ini menurunkan kualitas hidup, dan meningkatnya risiko jatuh serta patah tulang juga berkaitan dengan kematian dini.
Apa penyebab berkurangnya otot? Penyebab primer adalah penuaan (Aging). Penyebab sekunder meliputi penyakit (Disease), kurang aktivitas fisik (Inactivity), dan malnutrisi (Malnutrition) [4].
Penuaan memicu “resistensi anabolik (anabolic resistance)”. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika pada usia muda otot relatif mudah terbentuk dengan olahraga yang memadai, tetapi seiring bertambah usia sintesis otot tidak berjalan baik. Kondisi ini terjadi karena menurunnya hormon pertumbuhan (GH), IGF-1, mTOR, serta hormon seks (testosteron, estrogen) yang esensial untuk pembentukan otot. Ini merupakan proses penuaan yang alami (gambar di bawah) [5].

Tidak ada obat untuk sarkopenia. Oleh karena itu, sebagai alternatif, orang dianjurkan mengonsumsi lebih banyak protein yang dapat menyusun otot.
Karena itu pula, nutrisi yang paling ramai dibicarakan saat ini adalah protein. Penjualan produk pangan berprotein di dalam negeri terus melesat setiap tahun. Dari 450 miliar won pada 2024, nilainya diperkirakan meningkat menjadi 800 miliar won pada 2026 [6].
Jika dulu suplemen protein identik dengan kalangan maniak olahraga, kini kelompok paruh baya mengonsumsinya untuk mencegah sarkopenia. Sementara itu, kalangan muda menjadikannya sarana kebugaran dan diet. Beragam produk protein seperti shake, bar, snack, hingga makanan siap saji dijual di supermarket maupun minimarket.
Benarkah orang Korea kekurangan protein sampai tidak bisa mencukupinya?
Simbol terbesar protein adalah “daging”, dan kecintaan orang Korea pada daging tergolong luar biasa. Seperti ungkapan, “Harus makan daging supaya punya tenaga!”, obsesi terhadap daging berakar kuat.
Memang pernah ada masa ketika kesempatan makan daging hampir tidak ada sepanjang tahun. Namun, bahkan sekarang ketika konsumsi daging makin mudah berkat pertumbuhan ekonomi yang pesat dan tingkat pendapatan yang tinggi, daging tetap dianggap lezat, baik untuk tubuh, atau bahkan simbol kemakmuran. Banyak orang mencarinya sampai-sampai berkata, “Rasanya kurang kalau tidak ada lauk daging.”
Pada 2022, makanan pokok orang Korea akhirnya berubah dari beras menjadi daging. Konsumsi daging per kapita per tahun mencapai 58,4 kg, melampaui konsumsi beras 56,7 kg [7].
Nenek moyang kita dulu makan nasi sepiring penuh lalu pergi ke ladang untuk mendapatkan tenaga bekerja, sehingga ada ungkapan “hidup dari tenaga nasi”. Namun kini itu tinggal cerita lama. Pola makan orang Korea berubah total; sekarang orang makan daging lebih banyak daripada nasi [8].
Dengan konsumsi daging sebanyak ini, tetapi tetap ada anjuran untuk makan lebih banyak daging demi asupan protein, sehingga muncul pertanyaan: “Sebenarnya, berapa banyak protein yang cukup?” Mari mempelajari protein sebagai zat gizi.
Tiga makronutrien adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Secara sederhana, karbohidrat adalah sumber energi, dan lemak adalah gudang penyimpanan energi. Lalu, apa peran protein?
Protein adalah bahan untuk membentuk komponen tubuh seperti kulit, otot, kuku, dan rambut. Dengan kata lain, protein berperan seperti batu bata saat membangun rumah. Jika kita makan karbohidrat atau lemak berlebihan, tubuh menyimpannya sehingga berat badan naik. Namun, protein tidak disimpan di tubuh meski dikonsumsi banyak.
Jika protein bisa disimpan, tubuh penulis juga mungkin sudah menjadi kekar seperti “Arnold Schwarzenegger”. Sebab sebelum beralih ke pola makan nabati, saya sangat banyak makan daging….
Ke mana perginya sisa protein? Alasan makin banyak makan justru makin merusak ginjal
Meski makan daging 2~3 porsi, protein yang melebihi kebutuhan harian akan dipecah pada hari itu juga dan dikeluarkan pada hari itu juga. Protein, saat dipecah, tidak hanya menyisakan “air” dan “karbon dioksida” yang tidak berbahaya bagi tubuh seperti karbohidrat, melainkan menghasilkan “amonia”, limbah nitrogen yang sangat toksik. Karena itu, hati mengubahnya menjadi “urea” yang toksisitasnya lebih rendah melalui siklus urea (urea cycle), lalu ginjal membuangnya melalui urine.
Karena itu, konsumsi protein yang berlebihan melebihi kebutuhan harian membebani hati dan ginjal sehingga merusak kesehatan [9, 10]. Dalam studi terhadap sekitar 1.500 orang dewasa di Italia, semakin tinggi asupan protein, semakin rendah laju filtrasi glomerulus (eGFR) setelah 12 tahun. Artinya, fungsi ginjal menurun [11].
Hasil serupa juga muncul dalam studi yang menindaklanjuti sekitar 9.000 orang dewasa di Korea selama 13 tahun. Kelompok dengan asupan protein tinggi (1,7g/kg/day) mengalami penurunan fungsi ginjal yang bermakna dibanding kelompok dengan asupan rendah (0,6g/kg/day) [12].
Protein memang nutrisi penting bagi tubuh, tetapi bukan nutrisi yang secara khusus lebih penting daripada yang lain. Konsumsi protein berlebihan merusak ginjal. Ini bukan soal “semakin banyak semakin baik”, melainkan “berlebihan justru tidak baik”. Protein bukan nutrisi yang makin banyak dikonsumsi makin baik.
Song Mu-ho, doktor kedokteran, spesialis ortopedi dan kedokteran gaya hidup

Daftar pustaka
1. Dong-A Ilbo https://www.donga.com/news/Society/article/all/20250930/132494276/1
2. Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) https://health.kdca.go.kr/healthinfo/biz/health/gnrlzHealthInfo/gnrlzHealthInfo/gnrlzHealthInfoView.do?cntnts_sn=6722
3. Layanan Asuransi Kesehatan Nasional Korea (NHIS) https://www.nhis.or.kr/magazin/139/html/c07.html
4. AJ Cruz-Jentoft, G Bahat, J Bauer, et al. Sarcopenia: revised European consensus on definition and diagnosis. Age and ageing 2019;48(1):16-31.
5. C Tezze, M Sandri, P Tessari. Anabolic Resistance in the Pathogenesis of Sarcopenia in the Elderly: Role of Nutrition and Exercise in Young and Old People. Nutrients 2023;15(18):4073.
6. Dong-A Ilbo https://www.donga.com/news/Economy/article/all/20250704/131942025/2
7. Hankyoreh https://www.hani.co.kr/arti/science/future/1078387.html
8. KBS News https://news.kbs.co.kr/news/pc/view/view.do?ncd=7903768
9. JW Griffin, PC Bradshaw. Effects of a high protein diet and liver disease in an in silico model of human ammonia metabolism. Theoretical Biology and Medical Modelling 2019;16(1):11.
10. GJ Ko, CM Rhee, K Kalantar-Zadeh, S Joshi. The effects of high-protein diets on kidney health and longevity. Journal of the American Society of Nephrology 2020;31(8):1667-1679.
11. M Cirillo, C Lombardi, D Chiricone, et al. Protein intake and kidney function in the middle-age population: contrast between cross-sectional and longitudinal data. Nephrology Dialysis Transplantation 2014;29(9):1733-1740.
12. JH Jhee, YK Kee, S Park, et al. High-protein diet with renal hyperfiltration is associated with rapid decline rate of renal function: a community-based prospective cohort study. Nephrology Dialysis Transplantation 2020;35(1):98-106.
