Syok dikomentari “gemukan”, Nichkhun pulihkan garis rahang usai 3 hari hanya makan 3 butir ‘makanan ini’?

| masukan:

[Seleb Health] Kiat diet kilat Nichkhun dari 2PM untuk cepat naik-cepat turun berat badan

Nichkhun terkejut melihat dirinya tampak lebih berisi, lalu buru-buru menurunkan berat badan sebelum naik ke panggung konser. Foto=SNS 2PM, tangkapan layar YouTube

Anggota grup 2PM, Nichkhun (38), membeberkan rahasia diet cepat naik-cepat turun berat badannya.

Nichkhun dan para anggota 2PM tampil di program SBS “No, But Really!” yang tayang pada 6 lalu dan membagikan kabar terbaru. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyinggung penampilan Nichkhun yang belakangan menjadi perbincangan. Setelah video YouTube yang menampilkan Nichkhun tampak lebih berisi beredar, muncul komentar “gemukan”. Namun, pada konser di Jepang yang digelar setelahnya, garis rahangnya kembali terlihat tegas. 

Nichkhun mengatakan, “Awal tahun jadwal saya tidak terlalu padat, jadi saya pulang ke rumah (Thailand) dan makan banyak,” lalu menambahkan, “Setelah menonton siaran itu, saya berpikir, ‘Oh, saya memang sudah menua.’ Saya sangat terkejut.” 

Menjelang konser di Jepang, Nichkhun kemudian menjalani diet super singkat dan kembali menunjukkan garis rahang yang tegas kepada para penggemar. Ia mengaku, “Selama 3 hari saya hanya makan 3 butir telur untuk menurunkannya.” 

Mengapa telur kerap muncul dalam diet super singkat, dan bagaimana sebaiknya menyikapi kenaikan berat badan terkait usia yang juga dirasakan Nichkhun?

Nichkhun mengatakan ia buru-buru menurunkan berat badan hanya dengan telur menjelang konser. Foto=tangkapan layar SBS “No, But Really!”

Diet ‘3 butir telur selama 3 hari’ ala Nichkhun… mengapa berat badan bisa turun

Pola makan yang dibagikan Nichkhun setara dengan 1 butir telur per hari. Tiga butir telur hanya sekitar 210~240kcal. Mengingat kebutuhan energi harian pria dewasa sekitar 2000~2500kcal, ini berarti terjadi defisit energi ekstrem sebesar 1700~2200kcal per hari. Karena itu, pada awalnya cairan yang tersimpan bersama glikogen di dalam tubuh akan berkurang, lalu sebagian lemak juga menurun sehingga angka di timbangan bisa turun cepat. Artinya, alasan terbesar turunnya berat badan bukanlah “telur”, melainkan pembatasan kalori yang ekstrem.

Yang berkurang bukan hanya lemak. Diet sangat rendah kalori dapat menurunkan massa otot sekaligus lemak. Selain itu, diet ini bisa memicu rasa lelah dan pusing, menurunkan kemampuan berolahraga, dan ketika kembali ke pola makan normal, cairan yang sempat turun dapat terisi lagi sehingga berat badan meningkat tajam—fenomena “yo-yo” juga berpeluang besar muncul. Terutama, metode penurunan berat badan super singkat yang dilakukan selebritas untuk membentuk tubuh menjelang jadwal tertentu seperti pertunjukan atau syuting memiliki risiko besar jika ditiru sebagai cara pengelolaan berat badan yang umum.

Meski begitu, mengapa telur sering muncul dalam diet super singkat

Telur merupakan sumber protein yang baik, tetapi bukan “makanan ajaib” untuk menurunkan berat badan. Alasan telur sering dimanfaatkan dalam diet super singkat bukan karena telur membakar lemak secara istimewa, melainkan karena dengan kalori yang rendah telur memberi protein dan rasa kenyang sehingga lebih mudah bertahan menjalani pola makan ekstrem. Telur mengandung protein berkualitas sehingga, dibanding tidak makan apa pun, dapat membantu mengurangi kehilangan massa otot. Telur juga hampir tidak mengandung karbohidrat, sehingga memiliki keunggulan tidak membuat gula darah naik tajam.

Namun, itu semua berlaku dalam konteks pola makan yang seimbang. Seperti Nichkhun, pola makan hanya 3 butir telur selama 3 hari total proteinnya pun hanya sekitar 18~20g, jauh di bawah kebutuhan pria dewasa. Ini tidak cukup untuk mencegah kehilangan massa otot, dan hampir tidak memungkinkan asupan serat, vitamin C, kalsium, serta berbagai mineral.

Nichkhun mengaku ia merasakan faktor usia dari penampilannya yang bertambah gemuk. Foto=SBS “No, But Really!”

Alasan berat badan mudah naik seiring bertambah usia: bukan semata ‘usia’, melainkan ‘otot’

Faktanya, banyak orang memasuki usia 30~40-an lalu merasa, “Saya makan seperti dulu, tapi berat badan naik.” Benarkah bertambah usia membuat berat badan lebih mudah naik?

Kesimpulannya, penyebab yang lebih besar daripada usia itu sendiri adalah penurunan massa otot dan berkurangnya aktivitas. Misalnya, jika pada usia 20-an seseorang bisa mempertahankan berat badan meski makan 2400kcal per hari, pada usia 30~40-an kebutuhan untuk mempertahankan berat badan dapat turun ke kisaran 2100~2200kcal akibat aktivitas yang menurun dan berkurangnya otot. Inilah alasan mengapa, meski makan dalam jumlah yang sama seperti dulu, kelebihan energi lebih mudah tersimpan sebagai lemak. Selain itu, perubahan hormon—seperti testosteron pada pria dan estrogen pada perempuan—juga memengaruhi penumpukan lemak perut. Jika ditambah kebiasaan seperti makan bersama rekan kerja dan minum alkohol, makan larut malam, serta kurang tidur, kenaikan berat badan menjadi semakin mudah terjadi.

Bukan sekadar makan lebih sedikit, tetapi mengatur ‘total kalori’

Lalu, bagaimana mengelola pola makan seiring bertambah usia? Para ahli merekomendasikan agar total asupan kalori dikurangi sekitar 300~500kcal per hari dari kebutuhan untuk mempertahankan berat badan. Jika makan terlalu sedikit, berat badan memang bisa turun cepat, tetapi massa otot juga ikut berkurang sehingga laju metabolisme basal justru menurun dan risiko yo-yo bisa meningkat.

Sebaliknya, penting untuk mencukupi asupan protein. Seiring bertambah usia, dapat muncul “resistensi anabolik (anabolic resistance)”, yakni kondisi ketika sintesis otot tidak terjadi dengan mudah. Karena itu, mengonsumsi protein sekitar 1,0~1,2g per hari per 1kg berat badan, serta melakukan latihan kekuatan, membantu penurunan berat badan sekaligus mempertahankan otot. Selain itu, alih-alih memutus karbohidrat sepenuhnya, mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti beras merah, biji-bijian campuran, dan ubi jalar secara tepat lebih menguntungkan untuk penurunan berat badan yang sehat.

×