Meskipun Tidak Menyenangkan, Kenapa Pasien Kanker Jarang Mengalami Demensia?

| masukan:

Sel kanker mengirim sinyal ke otak untuk menghilangkan 'protein beracun otak' yang menyebabkan demensia

Orang yang menderita kanker prostat, kanker usus besar, kanker paru-paru, kanker payudara, dan lainnya diketahui lebih jarang mengalami demensia. Hasil dari percobaan pada tikus memberikan petunjuk tentang penyebab fenomena aneh ini. Protein tertentu yang dipancarkan oleh sel kanker menembus otak dan menghilangkan protein beracun penyebab demensia. Foto=Getty Images Bank

Pasien kanker lebih jarang mengalami demensia (penyakit Alzheimer), dan pasien demensia lebih jarang mengalami kanker. Ini telah dibuktikan melalui berbagai penelitian besar, tetapi ada juga kritik bahwa ini adalah ilusi statistik atau bias kelangsungan hidup karena pasien kanker tidak hidup cukup lama untuk mengalami demensia.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien kanker lebih jarang mengalami demensia karena sel kanker tertentu mengirim sinyal perlindungan ke otak melalui darah untuk membantu menghilangkan protein beracun penyebab demensia. Tim peneliti dari Universitas Anglia Ruskin di Inggris mengungkapkan bahwa mereka menemukan hal ini saat menyelidiki hubungan antara kanker dan demensia pada tikus.

Tim peneliti mengamati perubahan yang terjadi setelah menanamkan sel tumor manusia dari kanker paru-paru, kanker prostat, dan kanker usus besar di bawah kulit tikus yang menderita demensia. Menurut hasil penelitian, tikus yang menerima sel kanker tidak mengalami akumulasi amiloid beta di otak seperti tikus biasa, dan dalam beberapa percobaan, bahkan menunjukkan peningkatan daya ingat yang signifikan.

Tim peneliti mengidentifikasi protein tertentu (sistatin-C) yang disekresikan oleh tumor sebagai penyebab utama fenomena ini. Sistatin-C yang dipancarkan oleh sel kanker menembus penghalang darah-otak, yang merupakan pelindung otak, dan kemudian menempel pada gumpalan amiloid beta, meninggalkan tanda (label) agar sel imun (mikroglia) di otak dapat menemukannya dengan lebih baik. Terutama, ini mengaktifkan sensor Trem2 pada mikroglia untuk merangsang penghancuran zat beracun secara kuat.

Hasil penelitian ini (Kanker perifer mengurangi patologi amiloid dalam penyakit Alzheimer melalui aktivasi sistatin-C pada TREM2) baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional 《Cell》.

Penelitian ini sangat berarti karena membuktikan bahwa kanker dan penyakit neurodegeneratif saling terkait erat. Terutama, ini menunjukkan paradoks menarik di mana zat yang disekresikan oleh sel yang menyebabkan penyakit di satu organ dapat digunakan sebagai alat pembersih untuk mencegah demensia di organ lain.

Kanker dan demensia adalah penyakit yang sangat ditakuti orang, tetapi sangat jarang kedua penyakit ini muncul bersamaan pada satu orang. Di kalangan medis, perhatian telah diberikan pada fakta statistik bahwa orang yang pernah mengalami kanker memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami demensia, dan pasien demensia juga memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami kanker.

Menurut hasil penelitian terbesar yang pernah dilakukan oleh tim peneliti dari Imperial College London yang mengikuti 3 juta orang Inggris berusia di atas 60 tahun selama sekitar 9 tahun (Juli 2024), penyintas kanker memiliki risiko 25% lebih rendah untuk mengalami demensia dibandingkan dengan orang tanpa riwayat kanker. Hasil analisis komprehensif dari penelitian utama selama 10 tahun terakhir oleh Fakultas Farmasi di China menunjukkan bahwa pasien demensia memiliki risiko 47% lebih rendah untuk mengalami kanker, dan pasien kanker memiliki risiko 39% lebih rendah untuk mengalami demensia.

Namun, penyebab fenomena ini masih belum diketahui. Meskipun ini adalah percobaan pada hewan, petunjuk untuk memecahkan teka-teki ini telah ditemukan. Tim peneliti berharap dapat mengembangkan terapi baru yang meniru aksi sistatin-C daripada memanfaatkan penyakit kanker itu sendiri.

[Pertanyaan yang Sering Diajukan]

Q1. Apakah fakta bahwa pasien kanker lebih jarang mengalami demensia berarti ini bukan ilusi statistik?

A1. Selama ini, kalangan medis telah mengemukakan kemungkinan bahwa bias kelangsungan hidup dapat terjadi karena harapan hidup pasien kanker yang pendek, sehingga mereka tidak bertahan hidup cukup lama untuk mengalami demensia. Namun, penelitian ini membuktikan melalui percobaan pada tikus bahwa zat tertentu (sistatin-C) yang disekresikan oleh sel kanker bergerak melalui darah ke otak dan secara langsung menghilangkan zat penyebab demensia. Ini menunjukkan bahwa kemungkinan ada mekanisme perlindungan yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh, bukan sekadar fenomena statistik.

Q2. Apa peran ‘sistatin-C’ yang dipancarkan oleh sel kanker?

A2. Sistatin-C menembus penghalang darah-otak dan masuk ke dalam otak, kemudian menempel pada gumpalan protein amiloid beta yang merupakan penyebab utama demensia. Ini berfungsi sebagai semacam ‘label’. Dengan adanya label ini, sel imun di otak, yaitu mikroglia, dapat lebih mudah menemukan zat beracun, dan mengaktifkan sensor yang disebut Trem2 untuk merangsang mereka agar memakannya.

Q3. Apakah hubungan saling bertentangan antara kanker dan demensia berlaku untuk semua jenis kanker?

A3. Penelitian ini mengonfirmasi efektivitas pada sel tumor dari kanker paru-paru, kanker prostat, dan kanker usus besar. Selain itu, dalam pengamatan besar-besaran oleh Imperial College London, fenomena penurunan risiko demensia juga diamati pada jenis kanker utama termasuk kanker payudara. Ini menunjukkan bahwa ini bukan hanya terbatas pada jenis kanker tertentu, tetapi karakteristik umum sel kanker dapat mempengaruhi penyakit neurodegeneratif.

×