Disangka gangguan pencernaan, ternyata diseksi aorta… RS Gil Universitas Gachon lakukan operasi Tengah malam pada pasien Pulau Baengnyeong

| masukan:

Operasi penggantian aorta dengan graft buatan… kolaborasi RS Baengnyeong, evakuasi helikopter pemadam kebakaran, dan penanganan bersama RS Gil

Pasien (ketiga dari kanan) yang menjalani operasi darurat diseksi aorta di RS Gil Universitas Gachon berfoto bersama tim medis (dari kiri: Park Chan-wook, staf senior Bedah Toraks Kardiovaskular; Prof. Park Chul-hyun, Bedah Toraks Kardiovaskular; Prof. Lee Ji-yeon, Anestesiologi dan Kedokteran Nyeri; Oh Jun-ho, residen Kedokteran Gawat Darurat; Prof. Chu Seung-hwa, Kedokteran Gawat Darurat) di depan bangsal, menjelang kepulangannya pada 22 Juni. Foto=RS Gil Universitas Gachon
Pasien (ketiga dari kanan) yang menjalani operasi darurat diseksi aorta di RS Gil Universitas Gachon berfoto bersama tim medis (dari kiri: Park Chan-wook, staf senior Bedah Toraks Kardiovaskular; Prof. Park Chul-hyun, Bedah Toraks Kardiovaskular; Prof. Lee Ji-yeon, Anestesiologi dan Kedokteran Nyeri; Oh Jun-ho, residen Kedokteran Gawat Darurat; Prof. Chu Seung-hwa, Kedokteran Gawat Darurat) di depan bangsal, menjelang kepulangannya pada 22 Juni. Foto=RS Gil Universitas Gachon

Seorang perempuan berusia 60-an yang tinggal di Pulau Baengnyeong datang ke rumah sakit setelah mengalami nyeri dada mendadak dan sesak napas. Ia kemudian didiagnosis mengalami diseksi aorta akut. Setelah dievakuasi darurat pada malam hari, pasien menjalani operasi besar di RS Gil Universitas Gachon, pulih, dan dipulangkan.

RS Gil Universitas Gachon pada 30 Juni menyatakan telah merujuk, mengoperasi, dan menangani pasien diseksi aorta akut yang terjadi di Pulau Baengnyeong melalui kerja sama dengan RS Baengnyeong dan Dinas Pemadam Kebakaran Incheon.

Pada malam 7 Juni, seorang pasien bermarga Oh (67 tahun, perempuan) tiba-tiba merasakan nyeri dada hebat dan sesak napas saat makan bersama kenalan. Awalnya ia mengira itu gejala gangguan pencernaan, tetapi karena nyeri berlanjut ia akhirnya mendatangi RS Baengnyeong.

Tim medis RS Baengnyeong segera melakukan pemeriksaan computed tomography (CT) dan mendiagnosis Oh mengalami diseksi aorta akut. Diseksi aorta adalah kondisi ketika lapisan dalam aorta—pembuluh darah terbesar yang keluar dari jantung—robek sehingga dinding pembuluh terbelah. Ini merupakan salah satu kegawatdaruratan berat yang risikonya meningkat semakin lama penanganan tertunda.

RS Baengnyeong menilai kondisi pasien sangat kritis dan meminta helikopter pemadam kebakaran. Oh kemudian dievakuasi darurat melalui proses pemindahan yang melibatkan jalur laut dan darat, lalu dipindahkan ke RS Gil Universitas Gachon sekitar pukul 00.10 pada 8 Juni.

Saat itu, kondisi pasien sudah melampaui diseksi aorta sederhana; diseksi telah meluas hingga pembuluh darah yang menuju otak dan sampai aorta abdominal. Kondisi tersebut juga disertai regurgitasi katup aorta serta perdarahan di dalam perikardium, kantong yang menyelubungi jantung, sehingga dapat berujung pada kerusakan otak atau memburuknya fungsi jantung.

Tim Prof. Chu Seung-hwa dari Departemen Kedokteran Gawat Darurat RS Gil Universitas Gachon memeriksa kondisi pasien dan segera menghubungi Prof. Park Chul-hyun dari Bedah Toraks Kardiovaskular. Prof. Park bersama tim operasi, termasuk Prof. Lee Ji-yeon dari Anestesiologi dan Kedokteran Nyeri, melakukan operasi penggantian aorta dengan graft buatan (operasi penggantian aorta dengan prostesis vaskular) untuk mengganti aorta yang mengalami diseksi, pada tengah malam.

Meski dini hari akhir pekan, tim operasi dari Kedokteran Gawat Darurat, Bedah Toraks Kardiovaskular, serta Anestesiologi dan Kedokteran Nyeri segera bergerak. Pasien pulih setelah operasi dan dipulangkan pada 22 Juni.

Oh mengatakan, “Awalnya saya kira hanya gangguan pencernaan, tetapi ternyata situasinya begitu gawat sampai harus pergi keluar pada malam hari untuk menjalani operasi,” seraya menambahkan, “Saya berterima kasih kepada RS Baengnyeong yang mendiagnosis dengan tepat, petugas pemadam kebakaran yang mengevakuasi dengan cepat, serta tim medis RS Gil yang merawat saya di tengah malam.”

Prof. Park Chul-hyun mengatakan, “Diseksi aorta adalah kegawatdaruratan utama yang tingkat kelangsungan hidupnya ditentukan oleh waktu sejak onset,” dan menambahkan, “Kasus ini menunjukkan bagaimana diagnosis cepat dan keputusan evakuasi dari RS Baengnyeong, evakuasi dengan helikopter pemadam kebakaran, serta kolaborasi segera antara Departemen Kedokteran Gawat Darurat dan tim operasi RS Gil Universitas Gachon saling terkait hingga menyelamatkan nyawa pasien.” Ia melanjutkan, “Karena pasien berada dalam kondisi sangat kritis dengan diseksi pembuluh darah otak, regurgitasi katup aorta, hingga perdarahan perikardium, sedikit saja keterlambatan penanganan bisa membuat resusitasi menjadi sulit.”

Kasus ini dinilai sebagai contoh bagaimana sistem layanan pasien gawat darurat berat di wilayah kepulauan bekerja di lapangan. Kunci layanan kegawatdaruratan di wilayah kepulauan adalah kesinambungan antara diagnosis rumah sakit setempat, keputusan evakuasi, dan penanganan di fasilitas medis rujukan regional. Untuk penyakit kardiovaskular berat yang terjadi di pulau yang jauh dari daratan, penanganan dimulai sejak tenaga medis yang pertama kali menemui pasien menangkap tanda bahaya.

RS Gil Universitas Gachon, yang menjalankan peran sebagai institusi medis penanggung jawab wilayah Incheon, bekerja sama dengan RS Baengnyeong untuk meningkatkan akses layanan kesehatan bagi warga wilayah kepulauan, termasuk Pulau Baengnyeong. Pada 2026, sebagai salah satu bagian dari proyek pembangunan sistem kolaborasi layanan kesehatan publik, rumah sakit ini juga tengah mendorong program evakuasi/rujukan pasien gawat darurat berat serta kerja sama layanan klinis. Pada 13 Mei lalu, pihaknya mengunjungi RS Baengnyeong, menggelar pertemuan dengan tenaga medis setempat, dan membahas langkah-langkah kolaborasi.

RS Gil Universitas Gachon mengoperasikan Doctor Helicopter, helikopter khusus layanan kegawatdaruratan hasil kerja sama pemerintah-swasta pertama di Korea, serta turut berpartisipasi dalam sistem evakuasi pasien gawat darurat di wilayah dengan akses medis terbatas, termasuk Lima Pulau Laut Barat. Rumah sakit ini juga mengoperasikan sistem konsultasi jarak jauh dengan RS Baengnyeong agar tenaga medis setempat dapat memperoleh konsultasi dokter spesialis saat menangani pasien berat.

Direktur RS Gil Universitas Gachon, Kim Woo-kyung, mengatakan, “Kami terus memperkuat sistem evakuasi darurat dan kerja sama layanan klinis agar warga wilayah kepulauan tidak kehilangan waktu penanganan yang tepat karena keterbatasan geografis,” serta menambahkan, “Bahkan setelah pasien dipulangkan, kami berencana memantau proses pemulihan kesehatannya dengan merujuknya ke lembaga kesehatan dan kesejahteraan setempat.”

Nyeri dada hebat atau nyeri punggung yang muncul mendadak tidak boleh dianggap sekadar gangguan pencernaan. Nyeri dada bisa disebabkan hal ringan seperti nyeri otot, tetapi juga dapat menjadi sinyal penyakit yang memerlukan penanganan segera, seperti diseksi aorta atau infark miokard. Jika nyeri muncul tiba-tiba atau disertai sesak napas, keringat dingin, atau rasa seperti akan pingsan, segera hubungi 119.

×