
Banyak orang merasa tidak bisa lepas dari kopi, tetapi pada saat yang sama merasa cemas karena angka kolesterol terus naik. Kopi memang dikenal dapat meningkatkan kolesterol. Namun, sekalipun kolesterol tinggi, Anda tidak harus berhenti minum kopi sepenuhnya. Cukup ubah ‘metode ekstraksi’ saat menyeduh, dan kekhawatiran itu bisa jauh berkurang.
Korean Society of Lipid and Atherosclerosis mencatat, pada 2022, lebih dari 1 dari 4 orang dewasa di Korea memiliki kadar kolesterol tinggi. Dampak secangkir kopi terhadap kolesterol mungkin kecil, tetapi karena banyak orang meminumnya setiap hari sebagai kebiasaan, hal ini tetap tidak bisa dianggap sepele.
Alasan kopi dapat menaikkan kolesterol berkaitan dengan komponen minyak bernama ‘cafestol (Cafestol)’ di dalam kopi. Cafestol memberi cita rasa kopi yang gurih dan pekat, tetapi diketahui berperan dalam metabolisme kolesterol di hati sehingga meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Kaitan kopi dan kolesterol juga terlihat dalam studi observasional berskala besar. Tim riset Tromsø di Norwegia menganalisis 21.083 orang dewasa berusia 40 tahun ke atas. Hasilnya, kelompok yang minum espresso 3–5 cangkir atau lebih per hari memiliki kadar kolesterol total yang secara bermakna lebih tinggi dibanding kelompok yang tidak minum kopi. Pada pria, angkanya rata-rata sekitar 6,2 mg/dL lebih tinggi, dan pada perempuan sekitar 3,5 mg/dL lebih tinggi.
Dampak pada kolesterol sangat ditentukan oleh ‘filter’

Lalu, kopi seperti apa yang sebaiknya diminum orang dengan kolesterol tinggi? Jawabannya bukan pada jenis biji kopi, melainkan pada ‘metode ekstraksi’. Kuncinya: seberapa baik minyak kopi—pemicu kenaikan kolesterol—bisa tersaring.
Pilihan yang paling jelas adalah ‘kopi hand-drip’ dengan filter kertas, serta ‘kopi Dutch (cold brew)’ yang melewati filter keramik. Dalam proses penyaringan saat menyeduh, sebagian besar komponen minyak kopi seperti cafestol akan tertahan.

Di kanal YouTube ‘Doctor Dingyo’, spesialis penyakit dalam Kim Tae-kyun mengatakan, “Yang paling aman dari sisi kolesterol adalah kopi drip yang diseduh dengan filter kertas, dan yang berikutnya paling aman adalah kopi hitam instan.”
Kopi hitam instan dibuat melalui proses pengeringan beku (freeze-drying) terhadap ekstrak kopi, sehingga sebagian besar cafestol akan terbuang. Kim menambahkan, “Untuk kopi hitam instan, ada juga hasil penelitian yang menunjukkan bahwa meski diminum 5 cangkir sehari, tidak memengaruhi kadar kolesterol.”
Sebaliknya, espresso atau kopi kapsul yang diekstraksi dengan tekanan tinggi—sehingga minyak kopi ikut bercampur ke dalam air—perlu diwaspadai karena mengandung 1–2 mg cafestol per cangkir.
Berikutnya, yang berisiko tinggi terhadap kolesterol adalah kopi gaya Turki/Skandinavia, yakni kopi yang direbus bersama air lalu diminum tanpa disaring.
Kim mengingatkan, “Dengan cara seperti ini, hanya satu cangkir saja bisa membuat Anda mengonsumsi hingga 7 mg cafestol, dan dua cangkir mencapai 15 mg,” seraya menambahkan, “Hanya dengan mengonsumsi 10 mg cafestol, kadar ‘kolesterol jahat (LDL)’ yang menumpuk di pembuluh darah dapat meningkat sekitar 5%.”
