Paruh baya berbaring seharian… pada usia 50 tahun otot menjadi rusak, perubahan apa yang terjadi?

| masukan:

Berbaring terlalu lama memicu atrofi otot karena massa otot menyusut drastis

Berbaring terlalu lama dapat memicu kehilangan otot sehingga massa otot menyusut drastis. Foto=ClipartKorea
Berbaring terlalu lama dapat memicu kehilangan otot sehingga massa otot menyusut drastis. Foto=ClipartKorea

Sejumlah orang menghabiskan hampir sepanjang hari dengan berbaring. Mereka tidak keluar rumah, sementara menatap ponsel pintar menjadi rutinitas. Pada kondisi seperti ini, otot dapat mulai menyusut tajam hanya dalam waktu satu minggu. Bergantung pada individu, kekuatan otot bisa turun 10–20%. Pada pasien rawat inap yang berbaring sepanjang hari, massa otot berkurang 1–2% per hari sehingga fungsi tubuh menurun. Daya tahan tubuh ikut melemah, sehingga berbagai penyakit seperti infeksi dapat muncul. Pasien yang sudah pulih sampai tingkat tertentu perlu berjalan setidaknya di koridor bangsal.

Memasuki paruh baya, yang paling perlu dijaga justru otot…kesehatan di usia lanjut? Bisa rusak pada usia 50-an dan 60-an

Setelah melewati usia 50 tahun, massa dan kekuatan otot mulai menurun secara nyata. Saat memasuki usia 80 tahun setelah melewati usia 60-an dan 70-an, penurunannya bisa mencapai 30–40%. Jika kebiasaan sehari-hari di paruh baya adalah berbaring, kekuatan otot dapat turun 10–20% dalam seminggu. Data Korean Society of Sarcopenia menunjukkan, ketika jumlah dan ukuran otot berkurang, dapat muncul fenomena kehilangan otot. Jika massa otot turun lebih dari 30%, kondisinya tergolong cukup serius dan dapat menimbulkan berbagai dampak sisa. Penurunan fungsi tubuh secara keseluruhan menjadi faktor risiko jatuh, patah tulang, dan timbulnya disabilitas.

Alasan pasien berjalan di koridor bangsal…kehilangan otot lebih berbahaya daripada penyakitnya sendiri

Pasien rawat inap kerap berbaring sepanjang hari. Jika kondisi ini berlangsung lama, dapat timbul “kakeksia”. Istilah ini merujuk pada keadaan kehilangan otot yang berat disertai penurunan berat badan. Umumnya, kondisi ini terkait penyakit kronis seperti kanker, gagal jantung kronis, gagal ginjal kronis, dan penyakit paru obstruktif kronis. Ciri kakeksia adalah pemulihan tidak mungkin hanya dengan pemberian nutrisi. Pasalnya, peradangan di seluruh tubuh dan kelainan metabolik terjadi bersamaan. Jika kakeksia muncul pada pasien kanker, kondisinya bisa lebih berbahaya daripada kanker itu sendiri.

Apakah saya juga patut dicurigai mengalami sarkopenia?…gejala, lingkar betis?

Data Survei Kesehatan dan Gizi Nasional Korea (2024) mencatat, angka penurunan kekuatan genggam yang digunakan untuk menilai tahap risiko atau kemungkinan sarkopenia mencapai 17,5% pada kelompok usia 65 tahun ke atas. Pada laki-laki 16,0% dan perempuan 18,7%. Jika mengangkat benda berat, berjalan, berdiri dari kursi, atau naik tangga terasa sulit, atau jika kejadian jatuh berulang, sarkopenia dapat dicurigai. Pada laki-laki, bila lingkar betis kurang dari 34 cm, dan pada perempuan kurang dari 33 cm, kondisi sarkopenia juga perlu ditinjau. Saat bagian betis yang paling tebal dilingkari dengan ibu jari dan telunjuk kedua tangan, bila betis lebih kecil daripada “cincin” jari, sarkopenia dapat dicurigai.

Bagaimana seharusnya asupan protein dan latihan kekuatan?

Penyebab utama kehilangan otot antara lain penuaan dan berkurangnya aktivitas fisik. Jika terlalu lama berbaring, otot menyusut drastis. Untuk menjaga otot, disarankan mengutamakan latihan kekuatan 2–3 kali per minggu, disertai latihan aerobik, latihan keseimbangan, dan peregangan. Asupan protein wajib. Diperlukan konsumsi protein 1,2 g per 1 kg berat badan (telur, ikan, daging, tahu, kacang-kacangan, dan sebagainya), serta suplementasi vitamin D dan kalsium. Sekalipun beristirahat dari olahraga, jangan berhenti total; kuncinya adalah mempertahankan gerak dalam aktivitas sehari-hari. Ingat, jika merasa nyaman lalu berbaring sepanjang hari, tubuh bisa rusak.

×