
Keindahan salju adalah daya tarik mendaki gunung di musim dingin. <span style="color: #ff0000;">Salju musim dingin</span> di Daegwallyeong, Hallasan, dan Deogyusan mencapai puncaknya dari pertengahan Januari hingga awal Februari. Mendaki gunung di musim dingin memberikan efek diet yang tak terduga. Menggigil di tengah dingin yang menusuk bisa dianggap sebagai salah satu bentuk olahraga yang membakar energi.
Fakta bahwa dingin membantu diet telah dibuktikan secara ilmiah. Menurut hasil penelitian sebelumnya dari Universitas Sydney di Australia, hanya dengan menggigil selama 10-15 menit dalam suhu di bawah 15 derajat Celsius dapat menyebabkan perubahan hormon yang mirip dengan bersepeda selama satu jam. Pada saat ini, hormon irisin yang disekresikan dari otot berfungsi untuk mengubah lemak putih yang menyimpan energi menjadi ‘lemak coklat’ yang membakar energi. Makalah terkait telah diterbitkan di jurnal ilmiah internasional <LDOUBLE_ANGLE_BRACKET__>Cell Metabolism<RDOUBLE_ANGLE_BRACKET__>.
Selain itu, menurut hasil penelitian dari Universitas Harvard di AS yang diterbitkan di <LDOUBLE_ANGLE_BRACKET__>Nature Medicine<RDOUBLE_ANGLE_BRACKET__> (2021), setelah menganalisis lebih dari 50.000 orang, ditemukan bahwa orang yang memiliki lemak coklat memiliki risiko jauh lebih rendah terkena obesitas atau penyakit metabolik. Energi dingin yang dirasakan selama mendaki gunung di musim dingin membantu mengaktifkan ‘pabrik pembakar lemak’ kita, yaitu lemak coklat.
Masalahnya adalah setelah mendaki, ada kebiasaan makan berlebihan. Meskipun kita telah membakar kalori di tengah dingin, makanan dan alkohol tinggi kalori yang kita konsumsi setelah turun gunung dapat dengan cepat menghilangkan efek diet. Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan oleh tim profesor Herman Poncher dari Universitas Duke di jurnal ilmiah internasional <LDOUBLE_ANGLE_BRACKET__>Science<RDOUBLE_ANGLE_BRACKET__> (2021), tubuh manusia mengaktifkan mekanisme ‘kompensasi energi’ yang menghemat energi metabolik internal lainnya ketika aktivitas meningkat. Dengan kata lain, meskipun kita menghabiskan banyak energi saat mendaki, total pengeluaran energi harian tidak meningkat sebanyak itu.
Otak membuat kita merasa lebih lapar karena psikologi kompensasi dari olahraga. Ketika alkohol ditambahkan, situasinya menjadi lebih buruk. Menurut hasil penelitian yang diterbitkan oleh Francis Crick Institute di Inggris di jurnal ilmiah internasional <LDOUBLE_ANGLE_BRACKET__>Nature Communications<RDOUBLE_ANGLE_BRACKET__> (2017), alkohol secara langsung merangsang neuron pengatur nafsu makan di otak dan memicu makan berlebihan. Makanan berlemak tinggi yang kita konsumsi setelah turun gunung, seperti makgeolli dan soju, terakumulasi sebagai lemak tubuh saat alkohol dipecah.
Adalah tidak realistis untuk berharap bahwa mendaki gunung di musim dingin akan secara langsung membantu penurunan berat badan. Lebih baik dipahami sebagai proses yang meningkatkan efisiensi metabolisme. Kita dapat membangunkan lemak coklat melalui mendaki gunung dan mendapatkan keuntungan dari meningkatkan laju metabolisme basal. Namun, setelah turun gunung, penting untuk menghindari konsumsi makanan dengan konsep kompensasi dan mengonsumsi protein berkualitas dan cairan dengan cukup. Saat kita berpikir, "Karena saya sudah berolahraga, saya bisa makan sedikit", kita tidak akan dapat mengharapkan efek kesehatan dari mendaki gunung di musim dingin.
◇ Panduan diet untuk mencegah makan berlebihan dan penumpukan lemak setelah turun gunung
1. Minum air hangat dan teh sebelum makan= Sebagian besar rasa lapar yang dirasakan segera setelah turun gunung kemungkinan besar adalah dehidrasi. Dengan meminum cukup air hangat atau teh sebelum makan, rasa lapar palsu dapat mereda dan mencegah makan berlebihan.
2. Konsumsi protein berkualitas tanpa lemak= Untuk mencegah kehilangan otot dan mempertahankan rasa kenyang lebih lama, protein sangat penting. Makanan yang tidak berminyak seperti daging rebus, tahu, dan telur kukus lebih baik daripada daging panggang atau makanan gorengan. Terutama, kita harus menghindari makanan ultra-proses seperti ham dan sosis.
3. Konsumsi karbohidrat kompleks yang kaya serat= Sebaiknya kita mengonsumsi nasi gandum atau nasi barli yang kaya serat, disertai dengan berbagai sayuran gunung, daripada nasi putih atau tepung. Serat membantu mencegah lonjakan gula darah yang tajam, mengatur sekresi insulin, dan menghambat akumulasi lemak.
[Pertanyaan yang Sering Diajukan]
Q1. Apakah benar bahwa mendaki gunung dengan pakaian dingin lebih menguntungkan untuk diet?
A1. Secara teori, ketika tubuh merasakan sedikit dingin, lemak coklat diaktifkan untuk membakar lemak. Namun, jika kita mengenakan pakaian terlalu tipis dan suhu tubuh turun drastis, ada risiko hipotermia, dan otot dapat berkontraksi berlebihan dan menyebabkan cedera. Selama mendaki, bijaksana untuk mengenakan pakaian berlapis hanya sampai tidak berkeringat untuk menjaga suhu tubuh yang tepat.
Q2. Apakah satu gelas makgeolli setelah mendaki tidak masalah?
A2. Jika hanya masalah kalori, satu gelas mungkin tidak berpengaruh besar. Namun, alkohol dapat merangsang pusat nafsu makan di otak dan mengaburkan penilaian rasional. Satu gelas bisa menjadi dua gelas, dan pada akhirnya bisa berujung pada makan berlebihan dengan makanan tinggi kalori.
Q3. Jika saya tidak bisa menurunkan berat badan meskipun berolahraga, apakah ada alasan untuk terus mendaki?
A3. Mengatur pola makan lebih baik untuk mengurangi angka di timbangan, tetapi olahraga mengubah kualitas tubuh. Menurut Profesor Herman Poncher dari Universitas Duke, olahraga mengalihkan energi yang seharusnya digunakan untuk peradangan buruk dalam tubuh ke aktivitas otot. Mendaki gunung tidak hanya untuk menurunkan berat badan, tetapi juga penting untuk memperkuat jantung dan paru-paru serta meningkatkan kekebalan tubuh.
