8 dari 10 pasien kanker paru mengalami sarkopenia; kanker memburuk dua kali lebih cepat meski sudah minum obat

| masukan:

Penyusutan otot memicu peradangan dan merusak sel imun; sasaran kerja obat antikanker ikut berubah

Seorang pasien kanker berkonsultasi dengan dokter. Sebuah studi menunjukkan kondisi otot pasien kanker paru memengaruhi hasil terapi imunoterapi antikanker. Jika mengalami sarkopenia, risiko kanker berkembang lebih tinggi 2,63 kali dibanding pasien tanpa sarkopenia. Foto=Getty Image Bank

Sebuah studi menunjukkan massa otot pasien kanker paru dapat memengaruhi hasil pengobatan imunoterapi antikanker. Pada pasien kanker paru non-sel kecil stadium lanjut yang mengalami sarkopenia, risiko kanker berkembang atau memburuk 2,63 kali lebih tinggi dibanding pasien tanpa sarkopenia. Kanker paru non-sel kecil merupakan tipe paling umum yang mencakup sekitar 85% kanker paru, sedangkan stadium lanjut merujuk pada stadium 3 dan 4 yang sulit dioperasi.

(dari kiri) Profesor Choi Ju-hwan dan Lee Seung-ryong dari Divisi Pulmonologi dan Alergi, Departemen Penyakit Dalam, Rumah Sakit Guro Universitas Korea; Dr. Park Ji-eun dan Profesor Shin Young-gi dari Fakultas Farmasi, Universitas Nasional Seoul. Foto=Rumah Sakit Guro Universitas Korea

Tim Profesor Choi Ju-hwan dan Lee Seung-ryong dari Divisi Pulmonologi dan Alergi, Departemen Penyakit Dalam, Rumah Sakit Guro Universitas Korea, bersama tim Dr. Park Ji-eun dan Profesor Shin Young-gi dari Fakultas Farmasi, Universitas Nasional Seoul, pada tanggal 26 melaporkan hasil terapi imunoterapi antikanker pada pasien kanker paru non-sel kecil stadium lanjut dengan sarkopenia secara jelas lebih buruk. Temuan ini dimuat dalam jurnal internasional 〈Scientific Reports〉 edisi Maret 2026.

Otot menyusut, risiko progresi kanker 2,63 kali

Tim peneliti menganalisis 74 pasien kanker paru non-sel kecil stadium lanjut yang menerima imunoterapi antikanker sebagai terapi lini pertama. Massa otot rangka pada lengan dan tungkai diukur dengan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) untuk menegakkan diagnosis sarkopenia. Metode ini membedakan tulang, lemak, dan otot sehingga dapat menilai massa otot seluruh tubuh sekaligus, lebih presisi dibanding penelitian sebelumnya yang hanya melihat penampang otot dari satu potong CT pinggang. Berdasarkan standar Korea, sarkopenia ditetapkan bila pada pria kurang dari 6,43 kg per meter kuadrat tinggi badan (m) dan pada perempuan kurang dari 5,34 kg.

Hasilnya tegas. Dari 74 pasien, 58 orang (78,4%) sudah mengalami sarkopenia. Median waktu hingga kanker memburuk setelah memulai terapi adalah 74 hari, bahkan tidak mencapai setengah dari pasien tanpa sarkopenia (172 hari). Risiko kanker berkembang atau memburuk 2,63 kali lebih tinggi. Bahkan setelah mempertimbangkan seluruh kondisi lain seperti usia, jenis kelamin, dan metode pengobatan, sarkopenia itu sendiri tetap menjadi faktor independen yang memperburuk prognosis.

Begini jalur yang merusak sel imun

Alasan di balik angka itu tak kalah penting. Saat otot berkurang, sinyal peradangan di dalam tubuh (sitokin seperti interleukin-6) meningkat. Peradangan ini menguras sel imun (sel T CD8+) yang seharusnya menyerang sel kanker. Pada permukaan sel imun yang melemah, protein bernama TIGIT meningkat, dan dalam kondisi ini imunoterapi antikanker sulit bekerja dengan baik.

Dalam penelitian ini juga, semakin rendah massa otot, semakin banyak sel imun dengan fungsi yang menurun yang teramati. Pada pasien yang mengalami sarkopenia sekaligus memiliki ekspresi TIGIT yang tinggi, risiko progresi kanker melonjak menjadi 3,5 kali. Kelompok ini menunjukkan prognosis terburuk dalam penelitian tersebut.

Mengapa kondisi otot perlu dicek sebelum terapi

Imunoterapi antikanker merupakan terapi lini pertama yang representatif untuk kanker paru non-sel kecil stadium lanjut. Namun, meski menggunakan obat yang sama, respons tiap pasien berbeda.

Selama ini, satu-satunya indikator prediksi yang diakui adalah ada tidaknya ekspresi protein PD-L1, tetapi banyak yang menilai indikator ini saja tidak memadai.

Penelitian ini membuka jalan untuk memperkirakan prognosis sebelum terapi dengan lebih akurat bila sarkopenia dinilai bersama ekspresi TIGIT, sitokin, dan indikator imun darah lainnya. Namun, karena jumlah subjek penelitian hanya 74 orang, diperlukan studi tambahan untuk menggeneralisasi hasilnya.

Profesor Choi Ju-hwan mengatakan, "Kami memastikan bahwa sarkopenia dapat menjadi indikator penting untuk memprediksi prognosis terapi imunoterapi antikanker pada pasien kanker paru non-sel kecil stadium lanjut," seraya menambahkan, "Jika sarkopenia dan biomarker darah dievaluasi bersama, hal itu akan membantu menyusun strategi terapi yang dipersonalisasi untuk tiap pasien."

Otot bukan hanya soal stamina. Otot memengaruhi lingkungan kerja seluruh sistem imun.

Bagi pasien yang akan menjalani terapi kanker paru atau sedang menjalani pengobatan, sebaiknya terlebih dahulu memastikan ada tidaknya sarkopenia bersama dokter yang menangani, lalu mendiskusikan apakah perlu menjalankan asupan protein dan latihan kekuatan secara bersamaan.

×