“Kalau tidak pergi sekarang, rugi”: dari media art hingga gua kapur, destinasi wisata gua bersejarah di Korea ada di mana?

| masukan:

[Wisata Sehat Plus] Destinasi wisata gua yang menyimpan sejarah pertambangan—dari media art hingga gua kapur alami

Gua Gwangmyeong di Provinsi Gyeonggi dan Gua Hwaam di Jeongseon, Provinsi Gangwon, menjadi destinasi yang memungkinkan pengunjung menikmati sejarah pertambangan sekaligus atraksi yang unik. Di Gua Gwangmyeong, bekas tambang yang sudah ditutup dihidupkan kembali sebagai ruang seni dan budaya; pengunjung disuguhi rangkaian pemandangan tak biasa, dari media art hingga Air Terjun Emas. Sementara itu, Gua Hwaam menawarkan rute yang menghubungkan terowongan bekas tambang emas dengan stalaktit dan stalagmit alami, menghadirkan pesona yang berbeda. Foto memperlihatkan suasana “sketsa lapangan” Gua Gwangmyeong 2026. Foto=Portal Foto Gwangmyeong milik Pemerintah Kota Gwangmyeong

Memasuki penghujung musim panas, udara mulai terasa lebih sejuk. Namun, panas yang sempat mereda diperkirakan kembali menguat. Badan Meteorologi Korea memperkirakan, hingga pekan depan suhu terasa (feels-like) di sebagian besar wilayah akan naik hingga sekitar 33 derajat, dan di sejumlah tempat juga dapat terjadi malam tropis. Dalam situasi seperti ini, bagaimana jika memilih wisata gua—menghindari panas sekaligus menikmati atraksi yang berbeda?

Di Gua Gwangmyeong, Provinsi Gyeonggi, cahaya yang menghiasi dinding batu dan media art membentuk ruang bernuansa magis. Sementara itu, di Gua Hwaam, Jeongseon, Provinsi Gangwon, gua kapur megah yang dibentuk stalaktit dan stalagmit memukau pandangan. Mari menelusuri jejak tambang lama, meninjau kembali makna sejarah yang tersimpan di dalam gua, sekaligus melihat pesona gua yang kini bertransformasi dengan daya tarik yang berbeda.

Transformasi gemilang tambang yang ditutup, Gua Gwangmyeong di Provinsi Gyeonggi…Ruang Cahayayang menghiasi dinding batu jadi spot foto andalan

Nama lama Gua Gwangmyeong adalah Tambang Siheung. Jepang mulai mengembangkannya pada 1912 untuk mengeksploitasi sumber daya. Mineral yang ditambang saat itu dibawa ke Jepang dan digunakan, antara lain, untuk Perang Pasifik, sehingga eksploitasi sumber daya berlanjut hingga sebelum pembebasan. Karena itu, Gua Gwangmyeong memiliki makna besar sebagai ruang bersejarah: lokasi pengerahan paksa dan perampasan pada masa pendudukan Jepang, sekaligus tempat yang menyisakan jejak industrialisasi modern setelah pembebasan.

Suhu rata-rata tahunan di dalam gua sekitar 12 derajat, sehingga udara sejuk terasa sepanjang tahun tanpa bergantung musim. Setelah tambang ditutup pada 1972, suhu rendah dan kelembapan tinggi ini dimanfaatkan selama lebih dari 40 tahun sebagai gudang penyimpanan saeujeot (udang asin fermentasi). Kemudian, pada 2011, Pemerintah Kota Gwangmyeong membeli gua tersebut dan mulai mengembangkannya. Sejak itu, gua ini bertransformasi menjadi wujud saat ini—ruang yang memadukan sejarah, budaya, dan seni.

Gua Gwangmyeong merupakan bekas Tambang Siheung yang dikembangkan pada masa pendudukan Jepang untuk mengeksploitasi sumber daya. Setelah ditutup pada 1972, tempat ini terlahir kembali sebagai ruang seni dan budaya. Khususnya, “Ruang Cahaya” yang populer sebagai lokasi pengambilan gambar menghadirkan cahaya beraneka warna yang mewarnai dinding batu secara mencolok, dibuat dengan pencahayaan LED dan teknologi new media. Foto=Pemerintah Kota Gwangmyeong

Untuk mengelilingi seluruh Gua Gwangmyeong, dibutuhkan sekitar 30–90 menit. Kunjungan dimulai dari Wormhole Plaza, tempat empat jalur gua berpotongan. Dari sini, rute berlanjut ke “Ruang Cahaya”, “Aula Seni Gua”, “Air Terjun Emas”, dan “Jalur Emas”. Di antaranya, “Ruang Cahaya”—dengan pencahayaan LED dan visual yang terbentang di atas dinding batu—menjadi spot foto yang paling mewakili Gua Gwangmyeong.

Di Aula Seni Gua, pertunjukan media facade digelar dengan memanfaatkan dinding batu yang tinggi layaknya layar. Saat cahaya dan visual beraneka warna memenuhi dinding batu, gua yang gelap berubah seperti gedung pertunjukan yang gemerlap. Jalur Emas yang memuat sejarah tambang emas, serta Air Terjun Emas tempat air batuan dasar bawah tanah mengalir deras, juga menjadi atraksi yang menarik.

Di Gua Gwangmyeong, beragam atraksi yang memanfaatkan tambang yang telah ditutup hadir beruntun, termasuk Ruang Cahaya, Aula Seni Gua, Jalur Emas, dan Air Terjun Emas. Foto=Pemerintah Kota Gwangmyeong

Setelah melewati Istana Emas, pengunjung juga dapat menjumpai naga raksasa sepanjang 41 m bernama “Raja Gua”, yang dibuat oleh tim efek khusus Selandia Baru yang turut terlibat dalam produksi film “The Lord of the Rings”. Patung raksasa ini, yang terasa seperti memindahkan dunia bawah tanah dari film fantasi, juga populer di kalangan anak-anak. Selain itu, di Museum Sejarah Modern, pengunjung dapat melihat kerja para penambang pada masa itu serta sejarah pertambangan. Jejak pemanfaatannya sebagai gudang penyimpanan saeujeot setelah tambang ditutup juga masih tersisa, sehingga pengunjung dapat menelusuri kembali perjalanan waktu Gua Gwangmyeong dari tambang menjadi destinasi wisata.

Menapaki urat emas, tersaji panorama gua kapur alamiMonumen Alam Gua Hwaam, Jeongseon

Gua Hwaam yang berada di Hwaam-myeon, Kabupaten Jeongseon, Provinsi Gangwon, memungkinkan pengunjung melihat terowongan bekas tambang emas sekaligus gua kapur alami. Ciri khasnya, terowongan yang digali untuk menambang emas terhubung dengan gua alami yang ditemukan dalam proses pengembangan tambang. Terowongan (adit) merujuk pada jalur bawah tanah yang dibuat untuk menambang atau mengangkut mineral.

Di sini pernah berdiri Tambang Cheonpo, yang menambang emas pada masa pendudukan Jepang dari 1922 hingga 1945. Pada 1934, saat pengerjaan terowongan tambang emas, gua kapur ditemukan. Setelah itu, tempat ini terlahir kembali sebagai gua bertema pertama di Korea yang menampilkan sejarah tambang emas sekaligus lanskap alam. Pada 2019, gua ini ditetapkan sebagai Monumen Alam No. 557 setelah nilai formasi gua dan nilai geologinya diakui.

Gua Hwaam di Jeongseon merupakan lokasi di mana terowongan Tambang Cheonpo—yang digunakan untuk menambang emas pada masa pendudukan Jepang—dan gua kapur alami yang ditemukan dalam proses pengembangan tambang tersambung menjadi satu jalur kunjungan. Pengunjung dapat melihat langsung urat emas dan jejak penambangan, hingga stalaktit, stalagmit, dan flowstone berukuran besar. Foto memperlihatkan pemandangan Gua Hwaam di Jeongseon. Foto=Kabupaten Jeongseon

Saat memasuki gua, pengunjung terlebih dahulu melewati terowongan yang dulu digunakan sebagai tambang emas. Urat emas asli dan jejak penambangan yang tersisa di permukaan dinding menjadi atraksi utama. Mengikuti fasilitas pameran dan rekonstruksi, pengunjung juga dapat mengintip kerasnya lingkungan kerja para penambang yang menambang bijih emas di ruang sempit dan gelap.

Setelah melewati area tambang emas dan turun melalui tangga, sebelum memasuki gua alami, pengunjung akan menemukan ruang pameran bertema di terowongan bagian bawah. Di “Istana Impian” di area ini, media art yang mencolok ditampilkan dan telah menyebar dari mulut ke mulut sebagai lokasi foto yang unik.

Begitu melewati area pameran, suasana berubah sepenuhnya. Di ujung lorong sempit buatan manusia, terbentang gua kapur alami berukuran besar. Di langit-langit dan dinding, stalaktit, stalagmit, dan pilar batu (stalagnat) terbentuk ketika air bawah tanah yang mengandung unsur kapur mengalir dan menetes selama waktu yang panjang.

Di ruang media art “Istana Impian” yang dibangun di terowongan bagian bawah Gua Hwaam, visual yang mencolok ditampilkan dengan memanfaatkan teknologi projection mapping. Foto=Kabupaten Jeongseon

Beragam formasi gua yang berkembang dalam berbagai bentuk juga menjadi atraksi yang sayang dilewatkan di Gua Hwaam. Pengunjung dapat mengamati “flowstone besar” yang tampak seperti air terjun karena unsur kapur dalam air yang mengalir di dinding batu mengeras, “bunga batu” yang terlihat seperti bunga bermekaran, serta “helictite” yang tumbuh berkelok menyimpang dari arah tertentu. Kunjungan yang dimulai dari terowongan buatan lalu berlanjut ke ruang bawah tanah raksasa yang dibentuk alam melengkapi lanskap dramatis khas Gua Hwaam.

Untuk mengelilingi seluruh Gua Hwaam, dibutuhkan sekitar 1 jam 30 menit. Tanjakan curam dari sekitar loket tiket hingga pintu masuk gua dapat ditempuh dengan monorel. Namun, monorel hanya beroperasi sampai pintu masuk gua, dan di dalamnya terdapat rangkaian tangga serta bagian turunan yang panjang. Jika bepergian bersama bayi, lansia, atau orang dengan masalah lutut, perlu mempertimbangkan bukan hanya penggunaan monorel, tetapi juga tingkat kesulitan rute di dalam gua.

Di gua kapur alami Gua Hwaam, berkembang beragam formasi gua seperti stalaktit, stalagmit, pilar batu (stalagnat), bunga batu, dan helictite. Foto memperlihatkan flowstone besar yang membentuk rupa air terjun ketika unsur kapur dalam air yang mengalir di sepanjang dinding batu mengeras. Foto=Korea Heritage Service

Di dalam gua, sejuk dan lantai lembapperlu membawa pakaian luar·sepatu olahraga

Kelebihannya, pengunjung bisa menghindari panas terik pertengahan musim panas sambil menikmati sejarah pertambangan, media art, hingga lanskap gua alami. Suhu rata-rata tahunan Gua Gwangmyeong sekitar 12 derajat, dan Gua Hwaam dipertahankan sekitar 14 derajat, sehingga cenderung sejuk. Terutama karena suhu lebih rendah dan kelembapan lebih tinggi dibanding luar, semakin lama berada di dalam, semakin terasa dingin. Keringat yang keluar di luar akan mendingin dan membuat suhu terasa lebih rendah, sehingga sebaiknya menyiapkan kardigan tipis atau jaket windbreaker untuk dikenakan di atas kaus lengan pendek.

Untuk alas kaki, sepatu olahraga dengan sol tidak licin dan mampu menopang kaki dengan stabil paling sesuai. Karena air yang menetes dari langit-langit gua dan kelembapan tinggi, ada bagian lantai yang lembap. Di tempat seperti Gua Hwaam yang memiliki banyak tangga dan kemiringan, kaki juga mudah terpeleset. Hindari sandal dan sepatu berhak tinggi, dan saat di tangga, pegang pegangan serta bergerak perlahan.

Saat memotret di tempat gelap, perhatikan pijakan terlebih dahulu daripada layar. Jika mundur untuk mengambil gambar atau melangkah keluar dari jalur kunjungan, Anda bisa terpeleset. Formasi gua seperti stalaktit dan stalagmit tumbuh sangat lambat, dan jika sekali rusak sulit dipulihkan. Karena itu, tidak menyentuhnya dengan tangan juga merupakan etika dasar saat berkunjung.

×