"Mengapa Bau Kentutku Baik-baik Saja, Tapi Sulit Menahan Kentut Orang Lain?"

| masukan:

Kebencian terhadap Aroma Tubuh Orang Lain Mungkin Strategi Penghindaran Infeksi

Ketika seseorang kentut, meskipun menciptakan bau busuk yang membuat wajah berkerut, bau kentut sendiri terasa lebih dapat ditoleransi. Foto=Getty Images Bank

Ketika seseorang kentut, meskipun menciptakan bau busuk yang membuat wajah berkerut, bau kentut sendiri terasa lebih dapat ditoleransi. Ini bukan hanya karena perasaan semata. Respon penciuman dipengaruhi oleh mekanisme psikologis dan evolusioner. Bahkan bau yang sama dapat terasa tidak menyenangkan tergantung pada 'siapa yang mengeluarkannya'.

Baru-baru ini, surat kabar harian Inggris, The Sun, mengumpulkan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal akademis yang menjelaskan mengapa orang merasa bau kentut mereka sendiri kurang tidak menyenangkan, sementara bau kentut orang lain sangat ditolak.

Kentut adalah fenomena fisiologis yang mengeluarkan gas yang dihasilkan selama proses pencernaan. Komponen utamanya adalah nitrogen, oksigen, karbon dioksida, hidrogen, dan metana. Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal ⟪Gut⟫, gas yang mengandung belerang juga terdapat dalam jumlah kecil, dan khususnya hidrogen sulfida dilaporkan sebagai penyebab utama bau telur busuk.

Masalahnya adalah 'sumber' dari bau tersebut, bukan hanya kekuatan baunya. Dalam penelitian yang dipublikasikan di ⟪European Journal of Social Psychology⟫, ketika mengevaluasi aroma tubuh, keringat, dan bau feses, ada kecenderungan untuk menganggap bau yang berasal dari diri sendiri sebagai kurang tidak menyenangkan. Ini disebut sebagai 'efek sumber (source effect)'. Artinya, reaksi emosional dapat berbeda tergantung pada apakah itu berasal dari diri sendiri atau orang lain.

Sehubungan dengan ini, tim psikolog dari Universitas Macquarie di Australia, yang dipimpin oleh Profesor Richard J. Stevenson, meminta peserta untuk mencatat bau yang mereka cium dalam kehidupan sehari-hari dan mengevaluasi bau keringat atau kentut mereka sendiri dibandingkan dengan bau orang lain. Hasilnya, peserta secara keseluruhan menilai aroma tubuh mereka sendiri sebagai kurang tidak menyenangkan atau menjijikkan dibandingkan dengan aroma orang lain.

Para peneliti mengusulkan bahwa perbedaan ini mungkin terkait dengan penghindaran infeksi. Aroma tubuh atau bau kotoran orang lain dapat berpotensi mengandung patogen, dan reaksi kebencian terhadapnya bisa jadi merupakan mekanisme untuk melindungi diri dari penyakit.

Di sisi lain, bau diri sendiri berasal dari mikrobiota usus yang sudah dikenal oleh sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat dianggap relatif kurang mengancam.

Penjelasan lain adalah 'efek paparan sederhana (mere exposure effect)'. Ini adalah fenomena psikologis di mana semakin sering seseorang terpapar pada suatu rangsangan, semakin sedikit penolakan terhadap rangsangan tersebut. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal ⟪Perception⟫, 49 peserta mencium bau yang familiar dan tidak familiar, lalu mengevaluasi intensitas dan kenyamanan bau tersebut. Hasilnya, bau yang tidak familiar dianggap lebih kuat dan lebih tidak menyenangkan.

Dalam eksperimen lanjutan, 36 peserta terpapar bau yang tidak familiar secara berulang. Seiring waktu, peserta mulai menilai bau tersebut secara lebih positif. Para peneliti menjelaskan bahwa bau yang asing dapat disertai dengan ketidakpastian dan ambiguitas, sehingga pada awalnya dapat dianggap lebih mengancam.

Penilaian terhadap bau juga dapat bervariasi tergantung pada pengalaman emosional. Dalam penelitian yang dipublikasikan di ⟪International Journal of Comparative Psychology⟫, 32 wanita peserta terpapar bau baru sambil bermain game komputer dalam kondisi yang berbeda. Satu kelompok bermain game yang dirancang agar tidak bisa menang, sementara kelompok lain mengalami game yang menyenangkan dengan hadiah uang tunai. Setelah itu, mereka diminta untuk mengevaluasi bau, dan kelompok yang mengalami pengalaman positif menilai bau tersebut lebih menyenangkan.

Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa reaksi terhadap bau kentut tidak hanya disebabkan oleh kekuatan bau yang tidak sedap, tetapi juga dipengaruhi oleh pengenalan sumber, keakraban, dan konteks emosional. Fenomena di mana seseorang lebih toleran terhadap bau mereka sendiri dan lebih sensitif terhadap bau orang lain mungkin merupakan bias psikologis dan kemungkinan strategi evolusioner untuk menghindari infeksi.

×