“Meski tidak minum alkohol, jika mengalami perlemakan hati”…risiko kanker ginjal 1,5 kali lebih tinggi

| masukan:

Kanker ginjal pada kelompok usia 20–30-an melonjak 76,4% dalam 10 tahun terakhir

Ditemukan bahwa meski tidak minum alkohol, jika mengalami perlemakan hati maka risiko kanker ginjal meningkat tajam. Foto=Getty Image Bank
Ditemukan bahwa meski tidak minum alkohol, jika mengalami perlemakan hati maka risiko kanker ginjal meningkat tajam. Foto=Getty Image Bank

Di tengah meningkatnya kasus kanker ginjal pada kelompok usia muda belakangan ini, sebuah studi berskala besar menunjukkan bahwa penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD) secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya kanker ginjal pada usia 20 dan 30-an.

Tim Prof. Park Ju-hyeon dari Departemen Kedokteran Keluarga, Rumah Sakit Ansan Universitas Korea, menyampaikan pada tanggal 24 bahwa, berdasarkan hasil pelacakan hingga 12 tahun terhadap sekitar 5,6 juta warga Korea berusia 20–39 tahun yang menjalani pemeriksaan kesehatan nasional pada 2009–2012, kelompok dengan NAFLD memiliki risiko kanker ginjal 1,46 kali lebih tinggi.

Khususnya, bila obesitas dan NAFLD terjadi bersamaan, risiko kanker ginjal meningkat hingga 2,12 kali lipat. Selain itu, semakin parah tingkat perlemakan hati, semakin besar pula risikonya: pada derajat sedang, resiko kanker ginjal meningkat sebesar 37%, sedangkan pada derajat berat dapat meningkat hingga 70%.

NAFLD adalah kondisi ketika lemak menumpuk berlebihan di hati meski seseorang hampir tidak mengonsumsi alkohol. Sindrom metabolik—seperti obesitas, diabetes, dan hiperlipidemia—disebut sebagai penyebab utama. Menurut Health Insurance Review & Assessment Service (HIRA), jumlah pasien di dalam negeri meningkat dari 25.382 orang pada 2014 menjadi 138.811 orang pada 2024, melonjak 5,5 kali lipat dalam 10 tahun.

Menurut Statistik Registrasi Kanker Nasional Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, jumlah kasus kanker ginjal pada 2023 mencapai 7.367 orang, naik 67,7% dibanding 4.392 orang pada 2013. Angka ini jauh melampaui laju peningkatan seluruh kanker pada periode yang sama, yaitu 25,8%. Bahkan jika hanya melihat kelompok usia 20 dan 30-an, jumlahnya pada 2023 mencapai 2.553 orang, meningkat 76,4% dibanding 1.447 orang pada 2013.

Tim peneliti memperkirakan NAFLD meningkatkan risiko kanker ginjal dengan memicu peradangan kronis, stres oksidatif, serta resistensi insulin. Dalam studi ini, keterkaitan tersebut tampak konsisten tanpa memandang usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, maupun ada tidaknya konsumsi alkohol.

Prof. Park Ju-hyeon, Departemen Kedokteran Keluarga, Rumah Sakit Ansan Universitas Korea. Foto=Rumah Sakit Ansan Universitas Korea
Prof. Park Ju-hyeon, Departemen Kedokteran Keluarga, Rumah Sakit Ansan Universitas Korea. Foto=Rumah Sakit Ansan Universitas Korea

Prof. Park menekankan, “NAFLD adalah penyakit yang dapat dikelola dengan cara memperbaiki pola makan dan olahraga,” serta menambahkan, “Deteksi dini dan penatalaksanaan yang aktif dapat menjadi kunci untuk menurunkan risiko kanker ginjal yang meningkat pada kelompok usia muda.”

Studi ini dipublikasikan di jurnal internasional yang diterbitkan oleh American Association for Cancer Research, 《Cancer Epidemiology, Biomarkers & Preventio》.

×