
Hasil penelitian menunjukkan bahwa operasi minim invasif dapat menjadi alternatif baru yang melampaui metode pengobatan standar yang ada untuk ‘penyakit katup jantung kompleks’ di mana lebih dari satu katup jantung mengalami masalah secara bersamaan.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Je Hyeong-gon dari Rumah Sakit Universitas Seoul Bundang mempresentasikan ‘Hasil Menengah dari Operasi Minim Invasif untuk Penyakit Katup Kompleks yang Termasuk Katup Aorta’ pada konferensi tahunan ke-57 Asosiasi Bedah Jantung dan Pembuluh Darah Korea. Tim peneliti menjelaskan bahwa penerapan operasi minim invasif pada pasien dengan penyakit katup jantung kompleks menunjukkan hasil yang baik dalam hal keamanan dan kecepatan pemulihan.
Tim profesor tersebut menganalisis hasil operasi pada 203 pasien dengan penyakit katup jantung kompleks yang memiliki tingkat kematian yang diprediksi sekitar 3% dari Mei 2015 hingga Mei 2025. Dari jumlah tersebut, 173 pasien menjalani sternotomi median, dan 30 pasien menjalani operasi minim invasif.
Hasilnya, kelompok sternotomi median memiliki tingkat keberhasilan operasi sebesar 97%, sedangkan kelompok operasi minim invasif mencapai 100%. Tidak ada kasus komplikasi utama atau penggunaan alat bantu jantung pada operasi minim invasif.
Kecepatan pemulihan juga menunjukkan perbedaan. Sebagian besar pasien yang menjalani operasi minim invasif keluar dari rumah sakit dalam waktu 4-5 hari. Durasi rawat inap lebih pendek dibandingkan dengan pasien yang menjalani sternotomi median (8-9 hari).
Sebelumnya, operasi untuk penyakit katup jantung kompleks dianggap sebagai standar pengobatan dengan melakukan sternotomi median yang memotong tulang dada di tengah. Meskipun memiliki keuntungan dalam hal kemudahan mendapatkan pandangan selama operasi, ada kelemahan berupa rasa sakit yang parah yang dialami pasien, waktu pemulihan yang lama, dan bekas luka besar yang tertinggal.
Di sisi lain, operasi minim invasif dapat meminimalkan rasa sakit dan bekas luka serta mempercepat pemulihan, tetapi karena kesulitan dalam pelaksanaannya, penerapannya pada penyakit katup kompleks jarang dilakukan. Penelitian ini secara klinis membuktikan kemungkinan bahwa operasi minim invasif dapat sepenuhnya menggantikan metode operasi yang ada di bidang bedah jantung yang sulit.
Profesor Je menjelaskan, "Operasi minim invasif bukan hanya metode operasi yang mengurangi sayatan, tetapi merupakan hasil dari upaya medis komprehensif yang membantu pemulihan yang cepat dan efisien dengan mengutamakan keselamatan pasien."
