Nyeri pada lansia sering tak tampak di pemeriksaan; konsorsium kembangkan rehabilitasi personal berbasis AI

| masukan:

Prof Kim Jong-ho dari Rumah Sakit Katolik Yeouido St. Mary dan delapan lembaga terlibat; riset 4 tahun 6 bulan dengan dana 7,5 miliar won mengintegrasikan data gerak, sinyal biologis, dan informasi klinis

Seorang perempuan melakukan peregangan di atas matras. Tim peneliti Korea mulai mengembangkan teknologi yang menganalisis nyeri dan gerak tubuh pada lansia secara bersamaan, lalu menghubungkannya dengan olahraga·rehabilitasi yang dipersonalisasi. Foto=Getty Image Bank

“Lutut saya sangat sakit.”

Keluhan seperti itu kerap terdengar dari pasien lansia di ruang praktik. Namun, dokter tidak selalu mudah menilai sekaligus seberapa berat nyerinya dan seberapa besar gangguan yang muncul saat pasien berjalan atau naik tangga. Gambaran sendi pada rontgen atau pencitraan resonansi magnetik (MRI) juga kerap belum cukup untuk menjelaskan seluruh nyeri dan ketidaknyamanan yang dirasakan pasien dalam aktivitas sehari-hari.

Karena itu, pengembangan teknologi untuk memetakan nyeri kronis pada lansia yang tidak tampak secara kasatmata—dengan memanfaatkan data gerak tubuh, sinyal biologis, informasi klinis, dan lainnya—serta mengaitkannya dengan rehabilitasi·terapi yang dipersonalisasi akan dimulai.

Rumah Sakit Katolik Yeouido St. Mary dari The Catholic University of Korea, pada tanggal 24, mengumumkan Prof Kim Jong-ho dari Departemen Ortopedi akan terlibat dalam proyek ARPA-H versi Korea untuk mengembangkan teknologi manajemen nyeri kronis pada lansia.

Penelitian ini dipimpin Chonnam National University Hospital sebagai lembaga utama, dengan delapan institusi yang berpartisipasi: Industry-Academic Cooperation Foundation The Catholic University of Korea, perusahaan digital health Allsso Care, Gwangju Institute of Science and Technology (GIST), Korea Electronics Technology Institute (KETI), Syntekabio, Korea Digital Healthcare Promotion Foundation, serta Industry-Academic Cooperation Foundation Kyung Hee University. Periode penelitian berlangsung 4 tahun 6 bulan, dengan total dana riset konsorsium sekitar 7,5 miliar won.

Prof Kim Jong-ho

Prof Kim Jong-ho dan Prof Lee Yun-gyu dari Fakultas Ilmu Perangkat Lunak, Chung-Ang University, akan menjadi penanggung jawab penelitian bersama.

Menambahkan data gerak nyata ke “skor nyeri”

Nyeri merupakan pengalaman yang dirasakan langsung oleh pasien, sehingga sulit dinyatakan dengan satu angka yang sepenuhnya objektif. Dalam layanan kesehatan, metode menanyakan langsung kepada pasien seberapa nyeri yang dirasakan tetap menjadi alat penilaian yang penting.

Namun, meski melaporkan tingkat nyeri yang sama, gangguan dalam aktivitas sehari-hari dapat berbeda cukup besar antarindividu. Ada pasien yang tetap bisa keluar rumah dan menggunakan tangga tanpa kesulitan berarti, sementara yang lain bahkan kesulitan bangkit dari kursi atau berjalan di dalam rumah.

Penelitian ini menitikberatkan pada penambahan informasi gerak dan fungsi tubuh yang nyata ke data nyeri yang disampaikan pasien.

Tim Prof Kim meneliti teknologi untuk mengukur gerak sendi, kekuatan otot, fungsi tubuh, serta status pelaksanaan latihan rehabilitasi pada pasien lansia dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Mereka juga berencana menganalisis secara terpadu informasi nyeri yang dilaporkan pasien, sinyal biologis, dan data klinis untuk menemukan indikator yang dapat menangkap nyeri dan penurunan fungsi.

Yang dimaksud dengan “menilai nyeri secara objektif” di sini bukan berarti AI menggantikan penilaian rasa sakit pasien lalu memberi skor tertentu. Tujuannya adalah menambahkan perubahan gerak dan fungsi tubuh yang nyata pada nyeri yang disampaikan pasien, sehingga kesulitan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari dapat dipetakan lebih konkret.

Memantau gerak lewat ponsel…menargetkan verifikasi kondisi rehabilitasi dari rumah

Penelitian ini akan memanfaatkan platform digital health muskuloskeletal berbasis AI, ‘ANAPA’, yang dikembangkan Allsso Care.

ANAPA merupakan sistem yang merekam gerak seseorang melalui kamera ponsel pintar atau tablet, lalu menganalisis rentang gerak sendi dan gerakan tubuh. Rentang gerak sendi berarti sejauh mana sendi seperti lutut atau bahu dapat ditekuk dan diluruskan. Ciri utamanya, sistem ini menganalisis gerak tanpa memasang sensor wearable tambahan pada tubuh.

Berdasarkan teknologi ini, tim peneliti akan mengembangkan metode untuk memantau bukan hanya saat kunjungan klinik di rumah sakit, tetapi juga bagaimana pasien bergerak di rumah atau dalam aktivitas sehari-hari.

Mereka juga berencana memeriksa seberapa baik pasien menjalankan latihan rehabilitasi, serta bagaimana gerak sendi atau fungsi tubuh berubah seiring latihan berlanjut. Targetnya adalah menyusun latihan dan program rehabilitasi digital yang sesuai bagi pasien dengan menganalisis informasi tersebut bersama tipe nyeri, karakteristik penyakit, dan lingkungan hidup.

Apa yang hendak dikembangkan tim Prof Kim bukanlah “alat ukur nyeri AI” yang sudah jadi. Sejauh mana kondisi pasien dapat ditampilkan secara akurat ketika data gerak serta data biologis·klinis dihubungkan dengan informasi nyeri masih perlu diverifikasi melalui penelitian ke depan.

Tidak berhenti pada pengukuran, tetapi sampai ke ‘rehabilitasi yang dipersonalisasi’

Tahap berikutnya dari penelitian adalah memanfaatkan informasi yang diukur untuk terapi dan rehabilitasi nyata.

Karena pola munculnya nyeri dan fungsi tubuh berbeda pada tiap pasien, gagasannya adalah mengembangkan model manajemen yang dapat menyesuaikan metode dan intensitas latihan sesuai kondisi, alih-alih menerapkan latihan yang sama secara seragam.

Dalam proses ini, tim peneliti juga berencana menemukan ‘biomarker digital’ yang dapat menunjukkan perubahan nyeri dan fungsi pada lansia secara stabil. Biomarker digital merujuk pada indikator di antara informasi gerak·biologis yang diukur melalui ponsel pintar atau berbagai perangkat digital, yang menunjukkan status kesehatan atau perubahannya.

Prof Kim Jong-ho mengatakan, “Nyeri pada pasien lansia sulit dinilai secara memadai tingkatnya dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari hanya dengan pemeriksaan pencitraan atau layanan klinik satu kali,” seraya menambahkan, “Melalui penelitian ini, kami akan membangun sistem manajemen baru yang memungkinkan pengukuran nyeri dan fungsi muskuloskeletal secara objektif, serta menyediakan terapi dan rehabilitasi yang sesuai bagi tiap pasien.”

Prof Lee Yun-gyu

Prof Lee Yun-gyu mengatakan, “Jika memanfaatkan analisis gerak AI dan teknologi rehabilitasi digital ANAPA, perubahan fungsi muskuloskeletal dapat dipantau secara berkelanjutan bukan hanya di fasilitas layanan kesehatan, tetapi juga di rumah dan dalam kehidupan sehari-hari pasien,” lalu menambahkan, “Kami akan berupaya meningkatkan teknologi agar dapat mengembangkan biomarker digital yang dapat dipercaya secara klinis dan berujung pada perbaikan nyata dalam manajemen nyeri pada lansia.”

Tugas ini merupakan program ‘Proyek ARPA-H versi Korea Tahun 2026 RFP7 VISTA’ yang dijalankan dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan serta K-Health Future Promotion Group dari Korea Health Industry Development Institute.

×