Membuka tumbler lalu “pop”? Tumbler harian aman dipakai saat cuaca panas?

| masukan:

Hal yang perlu diperhatikan saat memakai tumbler pada hari panas

Pada hari panas, jika minuman berkarbonasi atau kombucha dan sejenisnya—yakni “minuman yang mengandung gelembung”—dimasukkan ke tumbler kedap udara, isi minuman bisa meluap saat tutup dibuka sehingga perlu kehati-hatian. Foto=ClipartKorea

Memasuki periode cuaca yang makin hangat, penggunaan tumbler biasanya ikut meningkat. Dalam perjalanan berangkat kerja, banyak orang mengisinya dengan kopi es. Ada pula yang mencampur minuman protein sebelum maupun sesudah olahraga. Tumbler berinsulasi memang praktis karena membantu menjaga minuman tetap sejuk. Namun, pada hari panas ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan, bergantung pada jenis minuman dan kebiasaan pemakaian. Minuman bergelembung seperti minuman berkarbonasi atau kombucha, bila terguncang atau dibiarkan lama dalam kondisi tertutup rapat, dapat menyembur atau meluap saat dibuka. Selain itu, produk yang mengandung susu seperti latte atau minuman protein makin rentan terhadap bau dan kerusakan seiring naiknya suhu. Tumbler yang sudah lama dipakai juga bisa terus menimbulkan bau atau rasa tidak nyaman meski sudah dicuci. Berikut hal-hal yang perlu diketahui agar tumbler digunakan lebih aman dan higienis.

Jika mengisi air soda‧kombucha? Saat membuka tutup, minuman bisa meluap

Perlu kehati-hatian saat memasukkan “minuman yang mengandung gelembung” seperti minuman berkarbonasi, kombucha, atau ade ke dalam tumbler kedap udara. Pasalnya, karbon dioksida di dalam minuman atau gas yang terbentuk selama proses fermentasi tidak dapat keluar, sehingga tekanan di dalam tumbler bisa meningkat. Terutama bila tumbler banyak terguncang saat dibawa bepergian atau dibiarkan lama di tempat panas, begitu tutup dibuka isinya dapat menyembur atau merembes keluar seperti saat baru membuka botol minuman bersoda.

Masalah yang sama tidak selalu terjadi pada semua tumbler. Namun, pada beberapa produk, produsen memang tidak merekomendasikan penggunaan minuman berkarbonasi atau hasil fermentasi. Produk dengan mulut sempit seperti tumbler one-touch atau tumbler sedotan dapat membuat minuman meluap melalui mulut botol atau lubang sedotan ketika tekanan di dalamnya terlepas. Karena itu, memeriksa terlebih dahulu buku petunjuk produk—apakah minuman tersebut boleh digunakan—dapat menjadi langkah yang tepat.

Dalam praktiknya, Korea Consumer Agency (KCA) pernah menginformasikan bahwa penjualan domestik untuk produk tertentu sempat diblokir. Termos ini merupakan produk yang ditarik (recall) di luar negeri karena berisiko menimbulkan tekanan tinggi di dalamnya ketika tutup ditutup setelah diisi minuman berkarbonasi, sehingga tutup dapat terlepas atau berpotensi meledak. Ini memang kasus pada produk tertentu, tetapi juga menunjukkan pentingnya menghindari situasi ketika gas sulit keluar dari wadah yang tertutup rapat.

Jika memasukkan minuman bergelembung ke dalam tumbler, jangan mengisinya terlalu penuh. Bila tumbler sempat lama terguncang, lebih baik tegakkan sebentar lalu buka perlahan. Jangan membukanya dekat wajah, dan alih-alih membuka tutup sekaligus dengan cepat, lebih aman membuka secara hati-hati agar gas yang terperangkap di dalamnya keluar sedikit demi sedikit.

Meski bubuk protein, latte, dan sejenisnya dimasukkan pada pagi hari, jika dibiarkan hingga sore pada hari panas, isi di dalam tumbler dapat rusak dan baunya bisa menempel. Foto=ClipartKorea

Latte·minuman protein, jangan dibiarkan lama hanya karena tetap dingin

Latte atau minuman protein yang mengandung susu lebih sulit dikelola dibanding air atau kopi hitam. Pada periode suhu meningkat, minuman lebih mudah rusak. Selain itu, selama proses minum, air liur atau sisa makanan dapat bercampur sehingga menciptakan lingkungan yang memudahkan bakteri berkembang.

Meski tumbler dapat mempertahankan suhu dingin sampai batas tertentu, itu tidak berarti susu atau minuman protein aman disimpan sepanjang hari. Pada hari panas, sebaiknya hindari kebiasaan membuat latte atau minuman protein pada pagi hari lalu meminumnya sedikit demi sedikit hingga sore. Setelah habis diminum, sebaiknya segera dibilas secepat mungkin.

Jika minuman protein dibiarkan lama dalam kondisi masih tersisa, baunya juga bisa menempel kuat. Terutama, bau mudah tertinggal pada karet seal (packing) di bagian dalam tutup atau di bagian dalam sedotan. Jika sulit langsung mencuci, akan membantu bila menuangkan sedikit air lalu mengocoknya untuk bilasan pertama, kemudian setelah pulang ke rumah memisahkan tutup dan seal untuk dicuci. Untuk tumbler sedotan, sebaiknya gunakan sikat khusus yang dapat membersihkan bagian dalam sedotan.

Jika bau tetap tertinggal meski sudah dicuci? Bisa jadi tanda perlu diganti

Tumbler memang barang yang dipakai lama, tetapi bukan berarti bisa terus digunakan tanpa memandang kondisinya. Jika bau terus berulang meski sudah dicuci, atau karet seal pada tutup berubah warna dan menjadi lengket, penggantian patut dipertimbangkan. Hal yang sama berlaku bila tetap bocor meski tutup sudah ditutup, bila pewarnaan pada bagian dalam sedotan parah, atau bila setelah dicuci pun aroma minuman terus tertinggal.

Kondisi permukaan bagian dalam juga perlu diperiksa. Jika sering digosok dengan alat kasar seperti sabut kawat, permukaan stainless steel dapat mengalami goresan halus, dan kotoran mudah tertinggal di celahnya. Bila lapisan (coating) bagian dalam mengelupas atau bekas goresannya jelas, sebaiknya tidak digunakan. Dasar tumbler yang penyok sehingga tutup tidak pas atau daya kedapnya melemah juga bisa menjadi tanda perlu diganti.

Namun, jika tercium bau, tidak berarti harus langsung membuang seluruh tumbler. Urutannya adalah memisahkan bagian tutup, seal, dan sedotan untuk dicuci, lalu mengeringkannya sepenuhnya. Sebagian produk menjual seal atau komponen sedotan secara terpisah, sehingga memeriksanya juga bisa menjadi pilihan. Meski begitu, bila bau, perubahan warna, dan kebocoran terus berulang, demi higienitas dan kenyamanan penggunaan, lebih baik menggantinya dengan produk baru.

×