Sandara Park tempuh jalur pidana terhadap pelaku komentar jahat: “Dihapus pun percuma”

| masukan:

[Celeb Health] Penyanyi Sandara Park ambil langkah tegas terhadap komentar jahat

Penyanyi Sandara Park mengaku pernah menderita akibat komentar jahat, meski melahirkan sejumlah lagu hit dan tampil di berbagai program varietas. Foto=Instagram Sandara Park
Penyanyi Sandara Park mengaku pernah menderita akibat komentar jahat, meski melahirkan sejumlah lagu hit dan tampil di berbagai program varietas. Foto=Instagram Sandara Park

Penyanyi Sandara Park mengambil langkah tegas terhadap para pelaku komentar jahat.

Agensi Sandara Park, Aradnas (ARADNAS), menyampaikan lewat media sosial resminya, “Kami telah mengamankan sejumlah bukti terkait unggahan berniat jahat dan tindakan pelanggaran hak yang menargetkan artis kami, Sandara Park.” Agensi itu menambahkan, “Saat ini, melalui kuasa hukum, kami tengah menjalankan prosedur pengajuan gugatan pidana serta tuntutan ganti rugi secara perdata.”

Aradnas menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap penyebaran informasi palsu secara berulang di berbagai platform, baik di dalam maupun luar negeri. Agensi itu menyatakan, “Terhadap tindakan menyebarkan informasi palsu secara berulang atau menulis unggahan yang menghina, kami akan mengidentifikasi penulisnya dan meminta pertanggungjawaban melalui semua upaya hukum yang memungkinkan, tanpa membedakan platform domestik maupun internasional.”

Mereka melanjutkan, “Sekalipun unggahan dihapus atau akun ditutup, proses hukum akan tetap berjalan berdasarkan bukti yang sudah diamankan.” Mereka juga menegaskan, “Dengan prinsip bahwa tindakan yang melanggar martabat dan hak artis pasti disertai tanggung jawab, kami akan menanganinya dengan prinsip tanpa toleransi, tanpa keringanan, tanpa kesepakatan damai, maupun pencabutan.”

Sandara Park, yang debut pada 2009 sebagai anggota grup 2NE1, meraih cinta besar lewat lagu-lagu seperti 'Fire', 'I Don't Care', dan 'I Am the Best'. Ia terus aktif beraktivitas dengan tampil di berbagai program varietas, tetapi juga sempat mengalami penderitaan batin akibat komentar jahat. Mengenang masa itu, Sandara Park mengatakan, “Aku memaksakan diri terlihat ceria, tetapi setelah siaran selesai aku menangis dan semacamnya.”

Unggahan dan komentar jahat, bagi korban menimbulkan penderitaan mental besar

Unggahan dan komentar jahat melampaui sekadar kritik dan menimbulkan penderitaan mental yang serius bagi korbannya. Komentar jahat yang berulang dan berintensitas tinggi dapat memengaruhi keputusan ekstrem yang diambil seorang figur publik.

Penyanyi Sulli, yang meninggal dunia pada Oktober 2019, disebut semasa hidupnya menderita akibat komentar berniat jahat dan informasi palsu. Karena itu, pada Agustus tahun berikutnya, kolom komentar untuk artikel hiburan dan olahraga di situs portal sempat ditutup.

Meski demikian, hingga kini Sandara Park dan banyak figur publik lainnya masih menderita akibat komentar jahat. Apa psikologi di balik kecenderungan mudah melontarkan kata-kata yang tak mungkin diucapkan langsung di hadapan orang lain, seperti mencela dan memaki di dunia online?

Sejumlah penelitian di dalam dan luar negeri menganalisis bahwa orang yang menulis komentar jahat cenderung memiliki harga diri rendah serta menunjukkan karakteristik seperti iri, cemburu, dan dendam.

Dalam proses meninggalkan ucapan negatif kepada orang lain, mereka melampiaskan stres atau memperoleh perasaan bahwa diri mereka lebih unggul daripada pihak lain. Secara khusus, setelah mengekspresikan pikiran atau emosi yang bersifat kekerasan lewat tulisan, mereka diketahui merasakan semacam sensasi nikmat atau kepuasan sambil memeriksa reaksi orang lain.

Semakin tinggi kemampuan empati kognitif, semakin besar kemungkinan meninggalkan komentar jahat

Para pelaku komentar jahat mengalami kesulitan berempati terhadap perasaan lawan, tetapi juga dapat menunjukkan ciri kemampuan empati kognitif yang tinggi—yakni mampu memahami secara rasional bagaimana pihak lain akan menderita.

Dalam sebuah studi yang dimuat pada 2017 di jurnal psikologi 〈Personality and Individual Differences〉, hasil analisis terhadap 415 orang dewasa menunjukkan bahwa kemungkinan meninggalkan komentar jahat lebih tinggi ketika kemampuan empati emosional rendah dan empati kognitif tinggi. Tim peneliti menilai, orang dengan empati kognitif tinggi dapat dengan mudah menjerumuskan korban ke dalam penderitaan emosional.

Jika punya kebiasaan menulis komentar jahat, sebaiknya ke rumah sakit

Stres akibat gangguan kepribadian paranoid, gangguan kontrol amarah, dan sebagainya bisa saja diekspresikan lewat komentar jahat. Jika Anda memiliki kebiasaan sengaja menulis komentar jahat, sebaiknya mendatangi rumah sakit dan berkonsultasi dengan tenaga ahli. Mempelajari cara mengelola emosi dan stres secara sehat bukan hanya mencegah perilaku yang melukai orang lain, tetapi juga merupakan cara untuk melindungi diri sendiri.

Sementara itu, korban komentar jahat perlu memberi perhatian pada pengelolaan kesehatan mental. Orang dengan tingkat depresi atau kecemasan yang tinggi bisa lebih rentan terhadap komentar jahat. Penting untuk berupaya keluar dari pikiran negatif dengan berhenti sejenak memeriksa komentar, lalu berjalan-jalan, berolahraga, atau berbincang dengan teman.

×