
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dengan mempertahankan pola makan berbasis gandum dalam waktu singkat, kadar kolesterol jahat (kolesterol LDL) dapat diturunkan secara signifikan.
Tim peneliti dari Universitas Bonn, Jerman, melaporkan bahwa setelah melakukan diet gandum intensif selama dua hari pada pasien sindrom metabolik, kadar kolesterol dalam darah dan berat badan menurun secara signifikan. Tim peneliti meminta peserta untuk mengonsumsi 300g oatmeal yang direbus dalam air tiga kali sehari selama dua hari, dan mempertahankan pola makan rendah kalori yang sekitar setengah dari asupan kalori biasa.
Hasilnya, kadar kolesterol jahat (kolesterol LDL) turun sekitar 10%, dan rata-rata terjadi penurunan berat badan sebesar 2kg serta penurunan tekanan darah yang signifikan. Perubahan positif ini cenderung berlanjut hingga enam minggu setelah diet percobaan berakhir.
Tim peneliti menganalisis bahwa konsumsi gandum membantu pertumbuhan bakteri baik di usus dan berdampak positif pada metabolisme kolesterol. Mereka juga menambahkan bahwa menerapkan diet gandum dalam jangka pendek secara teratur dapat menjadi cara yang efektif untuk mencegah diabetes dan mengelola kolesterol.
Hasil penelitian ini (Metabolit fenolik yang diproduksi mikroba berkontribusi pada efek penurunan kolesterol dari gandum pada sindrom metabolik: uji coba terkontrol acak) baru-baru ini diterbitkan di jurnal ilmiah internasional 《Nature Communications》.
Di dalam negeri, minat terhadap gandum semakin meningkat. Gandum dan oatmeal pada dasarnya memiliki hubungan yang sama dengan 'beras dan nasi'. Gandum merujuk pada biji-bijian utuh sebelum diproses, dan biasanya dikonsumsi dalam bentuk campuran nasi. Sementara itu, oatmeal adalah produk olahan yang dibuat dengan memanggang gandum dan kemudian menghancurkannya atau menekannya agar dapat dimasak dengan mudah. Di Barat, oatmeal tidak hanya merujuk pada produk olahan, tetapi juga pada bubur yang dibuat dengan merebusnya dalam susu atau air.
Namun, gandum tidak cocok untuk semua orang. Karena kaya akan serat makanan, orang yang biasanya memiliki daya cerna yang lemah dapat mengalami kembung, gas, atau diare jika mengonsumsi dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Sebaiknya mulai dengan jumlah kecil dan meningkatkannya secara bertahap. Gandum mengandung purin yang cukup tinggi, sehingga penderita gout dan penyakit ginjal harus berhati-hati. Asam urat yang dihasilkan dalam proses metabolisme purin dapat memperburuk gejala gout, dan kandungan kalium dan fosfor dalam gandum dapat memberikan beban bagi penderita penyakit ginjal.
Kepopuleran gandum terkait dengan tren anti-penuaan yang semakin menyebar di kalangan generasi MZ. Kebiasaan mengonsumsi nasi yang dicampur dengan gandum atau memilih oatmeal sebagai pengganti sarapan semakin diterima oleh kalangan muda. Pasar oatmeal di dalam negeri diperkirakan bernilai sekitar 93 triliun won per tahun (berdasarkan 2024), dengan pertumbuhan tahunan yang diharapkan sebesar 4,4%.
[Pertanyaan yang Sering Diajukan]
Q1. Apakah penderita gout harus menghindari gandum sepenuhnya?
A1. Gandum mengandung purin dalam jumlah sedang. Pada fase akut dengan gejala parah, sebaiknya dihindari, dan pada fase stabil, dapat dikonsumsi dalam jumlah kecil sambil memantau reaksi. Sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan jumlah yang tepat.
Q2. Mengapa harus banyak minum air selama diet gandum?
A2. Serat makanan larut dalam gandum menyerap air di dalam tubuh dan berubah menjadi bentuk gel, yang membantu mengeluarkan limbah. Jika kekurangan cairan, serat makanan justru dapat mengeras di usus dan menyebabkan sembelit, jadi penting untuk cukup terhidrasi.
Q3. Seperti perbandingan 'beras dan nasi', apakah oatmeal juga perlu dicuci sebelum dimasak?
A3. Oatmeal adalah produk yang sudah dicuci dan diproses (dimasak atau dipanggang), jadi tidak perlu dicuci seperti beras. Anda bisa langsung memasukkannya ke dalam air panas atau susu untuk dimasak. Namun, biji gandum utuh yang dijual dalam bentuk biji campuran harus dicuci bersama beras sebelum dimasak.
