
Orang tua cenderung makan lebih sedikit. Ini adalah pilihan yang tidak bisa dihindari. Ketika usia bertambah, cairan pencernaan berkurang sehingga jika makan banyak, tubuh akan merasa tidak nyaman. Karena tubuh menjadi tidak nyaman, mereka tidak bisa tidak makan lebih sedikit. Ada yang mengatakan bahwa mengurangi makan adalah kunci panjang umur, tetapi itu hanya setengah benar. Haruskah kita mulai mengurangi makan sejak paruh baya? Ada klaim bahwa ini adalah cara untuk menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan secara bersamaan. Meskipun mengurangi jumlah makanan dibandingkan saat muda, ada hal-hal yang perlu diperhatikan.
Penuaan pada Esofagus, Lambung, dan Usus... Jika Makan Banyak, Perut Menjadi Tidak Nyaman, Tidak Bisa Tidak Mengurangi Jumlah Makanan
Seiring bertambahnya usia, tidak hanya kulit tetapi juga organ dalam mengalami penuaan. Penuaan pada sistem pencernaan seperti esofagus, lambung, dan usus terjadi lebih cepat. Sekresi cairan pencernaan (lambung), yang membantu pencernaan, dan cairan pankreas yang terutama memecah lemak berkurang. Tentu saja, kemampuan pencernaan menurun dibandingkan saat muda. Jika tidak bisa menahan nafsu makan dan makan berlebihan, bisa mengalami kesulitan sepanjang hari. Perut menjadi kembung dan kondisi tubuh menurun. Makanan berlemak lebih lambat dicerna dan bisa menyebabkan gas. Setelah mengalami gejala ini beberapa kali, seseorang akan mulai makan lebih sedikit. Beberapa orang bahkan mengurangi jumlah makanan lebih banyak saat memasuki usia tua.
Meskipun Mengurangi Nasi dan Mie... Pastikan Protein Seperti Telur, Tahu, Ikan Tidak Kurang
Meskipun mengurangi karbohidrat seperti nasi, mie, dan roti dibandingkan saat muda, makanan yang kaya protein (telur, tahu, ikan, daging, dll.) harus tetap diperkuat. Jika tubuh kekurangan protein, kita akan kehilangan otot yang berharga dan penuaan akan terjadi lebih cepat. Ketika memasuki usia paruh baya, otot secara alami berkurang. Sintesis otot baru tidak seefisien dulu. Hormon testosteron dan hormon pertumbuhan yang membantu pembentukan otot berkurang, sementara hormon stres dan zat inflamasi meningkat. Jika jumlah makanan dikurangi secara drastis, tubuh kita akan memecah otot terlebih dahulu untuk menggunakan protein sebagai energi, sementara lemak tetap utuh. Ini adalah situasi yang sangat merugikan di usia di mana otot sudah mulai berkurang secara alami.
Jika Lonjakan Gula Darah Sering Terjadi... Lemak Perut Muncul dan Pembuluh Darah Menjadi Buruk
Seiring bertambahnya usia, kita harus mengurangi makanan olahan yang tinggi asam lemak jenuh dan lemak trans, selain karbohidrat. Ini dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang besar dan meningkatkan trigliserida, kolesterol total, dan LDL kolesterol yang buruk dalam darah, yang merusak pembuluh darah. Konsumsi asam lemak jenuh yang banyak terdapat dalam daging berlemak, gorengan, dan mie sebaiknya kurang dari 7% dari total kalori, sedangkan lemak trans yang terdapat dalam makanan ringan sebaiknya kurang dari 1% dari total kalori. Kita juga harus mengurangi makanan asin dan membatasi konsumsi gula. Ini adalah penyebab lonjakan gula darah (spike) dan munculnya lemak perut di era 'epidemi diabetes'.
Waktu Mengunyah Harus Diperpanjang... Membantu Mengontrol Gula Darah dan Menurunkan Berat Badan
Waktu makan harus lebih dari 20 menit. Pencernaan yang lambat baik untuk mengontrol gula darah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan rasa kenyang ke otak adalah sekitar 20 menit, jadi mengunyah lebih lama adalah hal yang baik. Bagi pekerja, seringkali sulit untuk melakukannya, tetapi saat makan di rumah, ini harus dilakukan. Jika makan nasi campur, waktu makan akan lebih lama dibandingkan nasi putih karena harus mengunyah kulitnya. Pencernaan yang lambat membuat gula darah meningkat perlahan. Jika kita makan cukup sayuran dan lauk protein, kita bisa mencegah lonjakan gula darah. Meskipun mengurangi karbohidrat, kita harus tetap makan sekitar 50% dari total makanan. Dengan cara ini, kita dapat menjaga energi dan mencegah efek samping.