Pemain sepak bola dunia Cristiano Ronaldo. Lahir tahun 1985, tahun ini ia berusia 41 tahun. Namun, seolah ‘usia hanyalah angka’, ia masih memamerkan tubuhnya yang bugar seperti di masa kejayaan 20-an. Dua foto yang diunggahnya bulan lalu di Instagram untuk mempromosikan merek pakaian dalam yang diluncurkannya sudah cukup membuktikannya.
Setelah foto tubuh berototnya diunggah, media dalam dan luar negeri segera memperkenalkan rahasia menjaga kesehatannya. Khususnya, kebiasaan tidurnya yang unik, yaitu tidur 90 menit sebanyak 5 kali sehari, menarik perhatian orang-orang yang ingin memiliki tubuh sehat seperti dirinya.

Mandi es, sauna di pagi hari, dan latihan pribadi rata-rata 4 jam sehari adalah rutinitas yang dijaga Ronaldo setiap hari, yaitu ‘tidur polifasik’. Ini berarti tidur dalam waktu singkat beberapa kali, bukan tidur terus-menerus selama 7-8 jam di malam hari.
Ronaldo terkenal karena konsisten menjaga pola tidur ini. Menurut laporan media Inggris The Sun pada tahun 2022, catatan tidurnya adalah sebagai berikut. Setelah makan malam dan menghabiskan waktu dengan teman-teman, ia pergi berenang pada pukul 10 malam dan tidur selama 90 menit hingga tengah malam. Setelah itu, ia bangun lagi dan beristirahat selama 3 jam di pagi hari, lalu tidur lagi selama 90 menit. Kemudian ia bangun dan tidur lagi selama 90 menit sebanyak 3 kali di siang hari. Ronaldo diketahui menghabiskan harinya dengan tidur 90 menit sebanyak 5 kali.

Metode tidur yang aneh ini sebenarnya bukan milik Ronaldo saja. Di luar negeri, tidur polifasik telah menjadi tren tidur yang ‘perlu dicoba sekali’. Tahun lalu, American Academy of Sleep Medicine (AASM) melakukan survei terhadap 2007 orang dewasa di Amerika, dan 12% responden mengatakan bahwa mereka pernah mencoba tidur polifasik dengan tidur beberapa kali selama 90 menit.
Orang-orang yang menginginkan tidur polifasik berharap mendapatkan manfaat besar seperti ▲ memastikan cukup tidur dalam tahap tidur dalam ▲ bangun di akhir siklus tidur untuk mengurangi rasa lelah.
Selama tidur, tubuh kita mengulangi total 4-5 siklus tidur. Siklus tidur terdiri dari tahap tidur ringan 1 (NREM1) → tahap tidur ringan 2 (NREM2) → tahap tidur dalam 3 (NREM3) → tahap tidur REM, dan waktu rata-rata untuk menyelesaikan satu siklus adalah sekitar 90 menit. Orang-orang yang mencoba tidur polifasik selama 90 menit seperti Ronaldo bangun setelah hanya satu siklus tidur, bukan tidur terus-menerus selama 4-5 siklus di malam hari.
Selama siklus tidur, terutama jika terbangun di tahap REM atau tahap tidur ringan, kita bisa merasakan kebingungan atau kelelahan. Para pendukung tidur polifasik berpendapat bahwa “tidur polifasik mengurangi kemungkinan terbangun dalam keadaan lelah karena kita bangun setelah menyelesaikan satu siklus tidur.”
Beberapa orang berpendapat bahwa tidur polifasik adalah ‘cara untuk tidur singkat tetapi dalam’. Faktanya, tahap tidur dalam biasanya paling lama dipertahankan pada siklus tidur pertama setelah kita tertidur. Pada siklus pertama, tidur dalam berlangsung sekitar 20-40 menit, dan semakin banyak siklus yang diulang, durasinya semakin pendek. Setelah siklus ketiga, sering kali kita tidak mencapai tahap tidur dalam dan lebih banyak berada di tahap tidur ringan dan REM.
Tidur Polifasik 90 Menit Tidak Cocok untuk Semua Orang
Namun, tidak semua orang memiliki siklus tidur 90 menit. Ini hanya angka rata-rata, dan bisa bervariasi antara 70-110 menit tergantung orangnya. Jika seseorang dengan siklus tidur 100 menit mencoba tidur polifasik selama 90 menit, mereka mungkin terbangun di tengah siklus tidur.
Selain itu, tahap REM juga sama pentingnya dengan tahap tidur dalam. Jika tahap tidur dalam (SWS) berfungsi untuk pemulihan tubuh dan sekresi hormon pertumbuhan, maka tahap REM berfungsi untuk pemulihan otak serta pengolahan ingatan, emosi, dan stres. Mengalami semua tahap tidur dengan cukup selama siklus tidur sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan pikiran.
Tentu saja, tidur polifasik mungkin efektif bagi Ronaldo. Kekuatan fisiknya yang luar biasa dibandingkan orang biasa, ditambah dengan manajemen harian yang ketat, membuatnya bisa melakukannya. Ronaldo mungkin telah merancang tidur polifasiknya dengan bantuan pelatih tidur profesional sesuai dengan kondisi fisiknya. Alasan ia dapat mempertahankan metode tidur ini dengan sehat adalah karena waktu pemulihan setelah latihan intensif, manajemen diet yang ketat, dan waktu istirahat yang dijadwalkan dengan baik dalam pola hidupnya yang teratur.
Di sisi lain, mencoba tidur polifasik dalam situasi yang sulit untuk dikelola seperti Ronaldo justru bisa berdampak negatif. Jika pola tidur tidak teratur dan jumlah tidur absolut berkurang, masalah seperti penurunan kekebalan, penyakit kardiovaskular, dan penurunan fungsi kognitif dapat muncul. Yang terpenting, menjalani kehidupan sehari-hari sambil mencuri waktu untuk tidur selama 1 jam 30 menit tidaklah mudah.
