
Grrr… suara ‘gurgling’ yang dihasilkan kucing bukan sekadar ungkapan kasih sayang. Suara getaran khas kucing yang membuat hati pemiliknya bahagia ini menstabilkan sistem saraf otonom manusia, serta mengurangi stres dan tekanan darah. Faktanya, ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang tinggal bersama kucing memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah dan umur yang lebih panjang. Mari kita lihat efek penyembuhan luar biasa yang dihasilkan oleh ‘gurgling’ ini, serta 5 alasan mengapa pemilik kucing hidup lebih lama.
‘Penenang alami’ yang menurunkan hormon stres
Menurut penelitian dari Universitas Minnesota, pemilik kucing memiliki tingkat kematian akibat penyakit jantung 30% lebih rendah. Hormon oksitosin yang dilepaskan saat membelai kucing mengurangi hormon stres kortisol dan menstabilkan detak jantung. Gerakan lambat kucing dan suara gurglingnya menenangkan sistem saraf simpatik, mengurangi reaksi kecemasan dan kemarahan. Menghabiskan waktu bersama kucing yang menggemaskan, meskipun hanya untuk waktu singkat, dapat menurunkan tekanan darah, serta memberikan efek relaksasi dan peningkatan kualitas tidur.
Efek perlindungan kardiovaskular yang dihasilkan oleh getaran ‘gurgling’
Frekuensi suara gurgling yang dihasilkan kucing saat merasa nyaman adalah 25-150Hz, dan suara ini dilaporkan membantu relaksasi otot, meningkatkan aliran darah, dan menstabilkan detak jantung. Penelitian terkait menunjukkan bahwa orang yang memelihara hewan peliharaan cenderung memiliki tekanan darah rata-rata yang lebih rendah dan risiko kardiovaskular yang berkurang. Terutama, orang yang memelihara kucing setelah usia paruh baya memiliki tingkat kekambuhan infark miokard yang secara signifikan lebih rendah. Getaran kucing ini beresonansi dengan ritme tubuh manusia dan berperan dalam meredakan peningkatan tekanan darah akibat stres.
‘Efek stimulasi kognitif’ yang melindungi fungsi otak
Dalam penelitian jangka panjang di Inggris, dilaporkan bahwa kecepatan penurunan kognitif pada orang tua yang tinggal sendiri dengan hewan peliharaan lebih lambat secara statistik. Hal ini disebabkan oleh perilaku rutin dan tindakan perawatan kucing yang meningkatkan aktivitas lobus frontal dan hippocampus. Selain itu, tindakan merespons tatapan atau gerakan kucing mendorong pelepasan dopamin dan serotonin. Stimulasi ini membantu mengurangi perasaan depresi dan mempertahankan daya ingat pada orang lanjut usia.
‘Efek pelatihan’ yang meningkatkan kekebalan dan toleransi alergi
Menurut penelitian dari Universitas Helsinki di Finlandia, anak-anak yang dibesarkan bersama hewan peliharaan menunjukkan risiko lebih rendah terhadap beberapa penyakit alergi. Alergen halus yang berasal dari bulu dan kulit kucing ‘melatih’ sel-sel kekebalan untuk mengurangi reaksi kekebalan yang berlebihan. Ini dijelaskan oleh ‘hipotesis kebersihan’, yang menunjukkan bahwa paparan alergen yang tepat dapat memperkuat keseimbangan kekebalan. Paparan alergen pada orang dewasa juga memberikan dampak positif terhadap stabilitas kekebalan dan pencegahan penyakit autoimun. Namun, orang yang alergi terhadap kucing harus berhati-hati.
‘Rutinitas kebahagiaan’ yang dihasilkan oleh ikatan emosional
Rutinitas sehari-hari dalam merawat kucing memiliki efek serupa dengan ‘terapi aktivasi perilaku (BA)’ dalam pengobatan kesehatan mental. Memberi makan atau rutinitas bermain merangsang jalur penghargaan di otak, mendorong pelepasan dopamin, dan membuat ritme sehari-hari menjadi lebih teratur, serta memberikan rasa ‘merawat seseorang’ yang berujung pada peningkatan harga diri dan stabilitas emosional. Para ahli mengatakan, “Interaksi dengan kucing efektif dalam mengurangi depresi dan meningkatkan ketahanan terhadap stres.”
